Wawancara: Analisis Wacana dan Studi Agama Praktikal

Apa itu studi agama (religious studies) sebagai suatu disiplin keilmuan? Apa yang membedakan studi agama dari teologi? Apa yang dapat disumbangkan analisis wacana (discourse analysis) bagi studi agama? Inilah di antara pertanyaan yang diajukan staf CRCS Marthen Tahun dan Azis Anwar dalam wawancara dengan Frans Wijsen, profesor studi agama praktikal (practical religious studies) Universitas Radboud, Belanda. Bulan lalu, dalam kunjungannya selama tiga pekan di Indonesia, Prof. Wijsen memberikan kuliah di acara Wednesday Forum CRCS- ICRS mengenai apa yang dapat disumbangkan sarjana studi agama dalam pengelolaan air. Dalam wawancara ini, kami mendiskusikan dua topik utama dari buku editan terakhirnya, Making Religion: Theory and Practice in the Discursive Study of Religion (2016). Wawancara ini dilakukan dalam bahasa Inggris (baca transkripnya di sini) dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh mahasiswa CRCS Trie Yunita Sari dan Robingul Ahsan.

***

Apa itu studi agama praktikal? Apa yang membedakannya dari teologi dan studi agama secara umum?

Studi agama dikembangkan pada mulanya dari teologi. Sebagaimana lazim dipahami, teologi merupakan displin ilmu normatif yang berisi ajaran tentang apa yang seharusnya atau tak seharusnya dilakukan orang. Studi agama sebagai sebuah disiplin berusaha untuk netral atau tanpa bias. Pandangan ini berkembang sekitar tahun 1970-an di Eropa, dari metode yang menggunakan perspektif agnostik atau ateis. Pada umumnya, para sarjana studi agama, setidaknya mereka yang mengenyam pendidikan di Eropa, akan mengatakan, “Saya hanya menggambarkan dan menjelaskan fenomena keagamaan; saya tak bisa bergerak lebih jauh dengan memberikan evaluasi apakah suatu praktik keagamaan itu baik atau buruk, dan saya tak hendak memberikan saran atau rekomendasi mengenai apa yang bisa dilakukan agar lebih baik.”

Saya menyadari bahwa pandangan itu diperlukan adanya agar studi agama menjadi lebih akademik dan lebih diterima oleh disiplin lain. Namun saya pikir kita harus beranjak lebih jauh dari itu, dan ini yang tengah saya lakukan. Jika Anda bekerja dalam konteks belahan dunia selatan, Anda akan kesulitan menggunakan metode yang menggunakan perspektif agnostik. Jika Anda ada dalam konteks semacam ini, misalnya Anda berbicara dengan komunitas Muslim, lalu Anda bilang, “Saya tak beriman,” Anda sulit dipercaya. Saya tak bermasalah dalam mengatakan, “Oke, saya punya satu pandangan-dunia; saya tak hendak mendakwahkannya ke Anda, dan saya berusaha terbuka terhadap cara pandang lain.”

Di samping itu, saya sendiri tak paham mengapa studi agama tak boleh normatif atau tak boleh memberikan rekomendasi. Jika saya seorang ekonom, misalnya, saya tak ingin hanya menggambarkan bagaimana proses ekonomi bekerja, tetapi juga memberikan saran bahwa bila kebijakan ekonomi diatur dengan sedemikian rupa, ekonomi kita akan lebih baik. Saya tak ingin membawa ajaran atau teologi sosial Katolik, namun salah satu prinsip yang dapat kita sepakati—dan saya pikir ini adalah salah satu pencapaian penting pemikiran Katolik—adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ini adalah hak asasi manusia. Setiap orang berhak untuk memiliki keyakinan agama atau tidak memiliki keyakinan agama; berhak untuk menyatakan keyakinan itu dan bahkan untuk mempromosikan keyakinan itu. (Catatan editorial: Prof. Wijsen adalah seorang Katolik)

Jadi, dari titik awal ini saya beralih dari studi agama yang bersifat empiris atau eksplanatif ke studi agama praktikal; dari kesadaran bahwa di dunia sekarang ini kita menghadapi banyak masalah. Saya pikir para sarjana agama dapat memberikan kontribusi dalam penanganan masalah-masalah itu. Karena inilah saya tak ingin lagi sekadar mendeskripsikan fenomena keagamaan, tetapi juga turut mengevaluasi fenomena itu dengan suatu perspektif normatif tertentu yang sekiranya dapat diterima bahkan oleh para sarjana sekuler. Inilah yang saya pahami sebagai studi agama praktikal.

Pada 1993 Anda mempublikasikan buku There is only One God (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2010 dengan judul Buah-Buah Roh, diterbitkan UKDW). Di buku itu, Anda menggunakan pendekatan etnografi. Namun, belakangan pendekatan Anda tampak sudah beralih, dari etnografi ke analisis wacana, yang tergolong masih baru dalam studi agama. Mengapa Anda beralih dan bagaimana pendekatan analisis wacana digunakan dalam studi agama?

Buku itu ditulis berdasarkan tesis saya. Anda benar, saya menggunakan metode etnografi tradisional dalam menggambarkan bagaimana orang-orang membuat klasifikasi atau berpikir tentang dunia. Sebagai seorang etnografer, Anda berupaya melihat dunia dari sudut pandang mereka yang Anda teliti. Pada waktu itu, saya menggunakan bahasa sebagai sarana utama untuk memahami bagaimana orang mempersepsikan dunia dan bagaimana mereka membuat klasifikasi. Ini metode etnografi tradisional.

Kini, dalam perkembangan saya, saya berpandangan bahwa pendekatan ini agak naif, karena bahasa mencerminkan sesuatu; bahasa berfungsi mengkomunikasikan diri saya kepada orang lain. Itulah yang biasanya dilakukan oleh etnografer: saya memperlakukan Anda secara serius ketika saya berusaha memahami apa yang Anda katakan. Belakangan saya menjadi lebih kritis. Saya menjadi lebih curiga terhadap apa yang orang katakan. Orang-orang bisa mengatakan sesuatu ke seseorang pada hari ini dan ia mengatakan hal lain pada orang lain pada besoknya. Bagaimana Anda memahami ini?

Anda bisa memahami hal itu jika Anda telisik melampaui apa yang orang-orang katakan: dari posisi sosial apa mereka mengatakan itu; apa yang menjadi kepentingan mereka sehingga mereka mengatakan hal berbeda ketika bicara dengan orang yang berbeda; dan seterusnya. Jadi, bahasa bukan sekadar berfungsi informatif. Bagaimana bahasa digunakan juga terkait dengan kekuasaan. Ini pada dasarnya adalah gagasan Foucaoult: orang-orang menstrukturkan dunia dari posisi tertentu yang telah tepengaruhi oleh kekuasaan dan kepentingan. Ini berkaitan dengan peralihan saya dari studi agama empiris ke studi agama praktikal. Studi agama empiris hanya mendeskripsikan dan menjelaskan. Dalam studi agama praktikal, kita juga ingin mengubah dan beremansipasi. Untuk ini, kita memerlukan cara yang berbeda dalam memandang ilmu-ilmu sosial. Ini membawa saya ke analisis wacana kritis (critical discourse analysis).

Anda menyebut Michel Foucault, tokoh sentral dalam analisis wacana. Belakangan, kita punya tokoh lain seperti Norman Fairclough. Apa yang membedakan keduanya?

Dalam analisis wacana terdapat dua puluh, dua puluh lima, atau bahkan tiga puluh pendekatan yang berbeda. Ini merupakan kelemahan dari pendekatan ini karena ia tidak memiliki prosedur standar. Dalam statistik, jika Anda ingin membuat analisis regresi atau analisis faktor, Anda tahu apa yang harus dilakukan. Dalam analisis wacana, kita belum memiliki mekanisme serupa. Tetapi pendekatan-pendekatan berbasis analisis wacana memiliki beberapa prinsip yang sebagian besar analis wacana akan menyepakatinya, yaitu (1) prinsip intertekstualitas; bahwa teks yang kita hasilkan berhubungan dengan teks lain; juga, seperti apa yang saya katakan sebelumnya, bahwa (2) bahasa berkaitan dengan kekuasaan; serta konsep bahwa (3) bahasa tidak sekadar informatif tetapi juga performatif—bahasa membentuk sesuatu.

Ada para analis wacana yang mengikuti Foucault dengan ketat, tetapi ada juga yang kritis terhadapnya. Foucault memang menawarkan gagasan yang menarik, tetapi ada juga beberapa poin kelemahan, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Fairclough.

Pertama, Foucault merupakan penulis handal yang telah menghasilkan banyak buku menarik, tetapi ia tidak pernah membuat analisis konkret terhadap teks. Tulisan-tulisannya bersifat abstrak. Kritik Fairclough: dalam analisis wacana, Anda harus menganalisis teks secara detail, hingga ke tataran tiap katanya. Kedua, bagi Foucault, kebenaran bersifat relatif terhadap wacana, yang berarti bahwa Anda tak bisa keluar dari wacana. Ini membuat ilmu pengetahuan jadi relativistik, sementara di universitas kita bersepakat, setidaknya secara prinsip, bahwa kita seharusnya saling meyakinkan satu sama lain bahwa representasi saya terhadap realitas adalah lebih baik daripada representasi Anda. Ini berarti Anda harus keluar dari wacana, melalui prosedur tertentu yang dapat kita sepakati untuk menyatakan bahwa representasi saya terhadap realitas lebih baik dari punya Anda. Jika tidak demikian, ilmu pengetahuan akan menjadi relativistik. Di universitas, kita berusaha menyajikan representasi realitas yang dapat dipercaya. Foucault telah membawa kekuatan konstitutif bahasa terlalu jauh hingga mengatakan bahwa tidak ada realitas di luar wacana. Yang menarik bagi saya dari karya Fairclough ialah, ia terinspirasi Foucault tapi juga melampauinya, melalui apa yang ia sebut “realisme kritis” (critical realism). Fairclough akan berpandangan bahwa, ya kita mengonstruksi realitas melalui bahasa, tetapi begitu realitas telah dikonstruki, ia memengaruhi kita.

Bagaimana analisis wacana diterapkan dalam studi agama?

Sebagian besar konsep dalam analisis wacana memperlakukan bahasa bukan hanya dalam fungsi informatif, melainkan juga performatif; bukan hanya menginformasikan realitas melainkan juga membentuk realitas itu. Saya pikir ini adalah denominator umum dari beragam pendekatan dalam analisis wacana. Para analis wacana juga memegang gagasan tentang konstruktivisme sosial, yakni bahwa dunia sosial kita ialah hasil konstruksi dan reproduksi. Ini berlaku untuk agama. Agama-agama dikonstruksi dalam konteks sejarah tertentu. Sebagian dari agama itu berhasil mereproduksi dirinya, dan sebagian tidak, seperti agama orang-orang Romawi kuno, yang membuatnya punah dan tak lagi menjadi realitas sosial.

Kami di CRCS membaca karya-karya para sarjana agama yang berpendapat bahwa agama adalah konstruksi sosial. Kesuliatan yang kami hadapi adalah bagaimana menyampaikan gagasan itu kepada khalayak umum. Orang-orang cenderung akan marah ketika Anda bicara kepada meraka bahwa agama mereka merupakan suatu konstruksi, sementara mereka kukuh memercayai bahwa agamanya adalah wahyu dari Tuhan dan bukan institusi buatan manusia. Ada pendapat tentang hal ini?

Dua komentar. Pertama, kita perlu membedakan aturan main bahasa (language game) yang beda, antara apa yang Anda katakan sebagai orang yang beriman dan apa yang Anda katakan sebagai akademisi. Kita memiliki komunitas bahasa yang berbeda. Apa yang saya katakan sebagai seorang sarjana agama, misalnya bahwa “agama merupakan suatu konstruksi”, boleh jadi tidak selaras dengan apa yang saya katakan sebagai orang yang beriman. Saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini karena memang di sini ada dua komunitas bahasa yang berbeda. Jika saya memberikan ceramah akademik di gereja, orang-orang akan mengira saya gila, karena ada aturan main bahasa yang berbeda di sana. Jika saya memberikan khutbah keagamaan di universitas, orang-orang akan mengatakan, “Ini bukan hal yang tepat untuk dibicarakan di universitas.” Hal ini menunjukkan bahwa kita memiliki komunitas bahasa yang berbeda dengan aturan main bahasa yang berbeda pula, yang tidak selalu selaras satu sama lain.

Kedua, kembali ke poin tentang agama sebagai suatu konstruksi, saya sependapat dengan Fairclough: agama memang merupakan konstruksi sosial, tetapi ia juga merupakan realitas sosial. Contoh klasiknya tentu saja agama Hindu. Sesungguhnya ada ribuan tradisi yang berbeda-beda di India, tetapi dengan mudah mereka mengategorikannya sebagai satu, “Ini Hinduisme.” Ini merupakan contoh suatu konstruksi, sistemisasi, atau reifikasi (menggunakan istilah Wilfred Cantwell Smith) agama. Ya, agama adalah konstruksi, tetapi kita juga tidak dapat mengabaikan bahwa ada jutaan orang yang sekarang menamai agama mereka, misalnya, sebagai agama Hindu. Anda tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa agama adalah konstruksi sosial dan bahwa sejatinya ia tidak ada. Inilah yang disebut Fairclough sebagai realisme kritis: begitu kenyataan dikonstruksi, ia ada, sepanjang masih mereproduksi dirinya. Agama Hindu cukup berhasil dalam mereproduksi diri. Jadi, ini adalah realitas sosial; dari konstruksi, yang diproduksi, lalu diproduksi ulang, lalu dilembagakan oleh para praktisinya. Sebagai seorang Katolik atau seorang Kristen, saya akan mengatakan, Yesus tidak pernah memiliki niatan untuk mendirikan agama Kristen. Yesus hanya ingin memperbarui atau mereformasi Yudaisme. Santo Pauluslah yang mengumpulkan para pengikut Kristus, dan lambat laun jadilah agama. Saya bisa katakan, ya, ini adalah konstruksi, yang dilembagakan dan direifikasi—seperti kata Wilfred Smith; tetapi pada saat yang sama, itu adalah kenyataan yang riil ada dan tidak dapat saya abaikan.

Bisakah Anda jelaskan secara ringkas jenis analisis wacana yang digunakan oleh Norman Fairclough?

Saya pikir ide utama dalam pendekatan yang dikembangkan Norman Fairclough adalah apa yang ia sebut sebagai pendekatan kognitif sosial, sementara pendekatan lain murni kognitif. Bagi Fairclough, kognisi selalu terkondisikan secara sosial dan memberikan efek sosial. Kritik utamanya adalah bahwa, dalam etnografi tradisional atau pendekatan analisis wacana lainnya, para sarjana meneliti kognisi dalam wacana tetapi mereka mengabaikan kondisi sosial dan relasi kuasa yang memengaruhi cara orang mengkonseptualisasikan dunia dan bagaimana konseptualisasi mereka memengaruhi dunia. Inilah inti gagasannya tentang analisis wacana kognitif sosial. Dia akan selalu melihat wacana dari tiga dimensi; pertama, dimensi personal dan interpersonal; kedua, dimensi kelembagaan, misalnya kita adalah anggota sebuah universitas, lembaga keagamaan, atau partai politik; ketiga, dimensi kemasyarakatan, ketika kita berbicara sebagai warga negara suatu bangsa. Oleh karena itu, baginya, wacana selalu memiliki tiga aspek, dan ia selalu melihat pada tiga fungsi wacana: (1) posisi sosial; (2) relasi, karena saya selalu membentuk diri saya dalam hubungan saya dengan yang lain; dan (3) kognisi, yakni bahwa cara kita membentuk diri kita dalam hubungannya dengan orang lain selalu dipengaruhi oleh sistem kepercayaan atau pengetahuan yang kita miliki bersama.

Apa yang Anda rekomendasikan kepada para pemula dalam analisis wacana? Seberapa pentingkah ia bagi para mahasiswa di bidang studi agama?

Itu pertanyaan yang sulit. Anda memilih metode sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian Anda. Tidak semua pertanyaan cocok dijawab dengan analisis wacana. Saya memiliki kecenderungan pada analisis wacana, tetapi saya juga menyadari bahwa analisis wacana memiliki keterbatasan. Analisis wacana adalah salah satu dari banyak metode. Mungkin ada pertanyaan yang lebih sesuai dijawab dengan etnografi tradisional. Tetapi jika Anda ingin mempelajari analisis wacana atau analisis wacana kritis, Anda harus menyadari bahwa ada berbagai pendekatan, seperti yang saya katakan sebelumnya, yang boleh jadi akan membingungkan Anda. Saran saya adalah membaca buku Fairclough, Discourse and Social Change (1992). Bab tiga buku itu mengandung ringkasan teori; bab delapannnya mengandung penerapan praktis dari teori. Namun demikian, pada akhirnya Anda harus membuat pilihan mengenai metode apa yang paling sesuai untuk penelitian Anda sendiri.

Analisis wacana ini dapat membantu meningkatkan pemahaman khalayak umum tentang agama. Satu hal yang sulit dilakukan adalah bagaimana merumuskan argumentasi yang meyakinkan untuk mereka; bahwa agama dapat berubah; bahwa agama yang kita kenal sekarang tidak sama dengan agama pada masa awal kemunculannya. Ada komentar terakhir?

Itu kembali ke awal wawancara ini. Jika Anda menunjukkan bahwa Anda adalah orang beriman yang berkomitmen dengan agama Anda, orang-orang akan memperlakukan Anda dengan serius. Inilah yang saya ragukan dari para sarjana agama yang menggunakan perspektif agnostik, karena mereka tak akan dianggap serius. Bahkan jika Anda berpandangan bahwa agama adalah suatu konstruksi—namun pada saat yang sama ia juga merupakan realitas yang hidup—itu tak akan menghilangkan keyakinan Anda. Dan memang, jika Anda menunjukkan bahwa Anda adalah orang beriman yang berkomitmen pada agama, konseptualisasi Anda tentang agama akan lebih diterima oleh rekan-rekan seiman Anda. Inilah di antara yang saya kagumi dari CRCS, yang tidak mengikuti model Eropa yang ingin netral dan tanpa bias, tetapi berusaha untuk ikut terlibat—tidak dalam rangka dakwah/misionari tentu saja—dan tidak menyangkal keberadaan agama. Di CRCS, agama Anda tidak Anda promosikan tetapi menjadi pijakan awal perspektif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai apa itu agama.  

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

0 Komentar

Tinggalkan komentar