
We invite those who have researches, papers, ongoing research, or short documentary film on religion and culture to present in our Wednesday Forum 12th Round. Click Call for Application for further information and click Presenters to see who will give talks on WedForum this semester.
Kebebasan pers di era Reformasi walaupun jauh lebih terbuka dibanding pada masa Orde Baru, namun, meminjam istilah Endy Bayuni, dalam bidang jurnalisme agama para jurnalis masih sulit memanfaatkan kebebasan ini untuk menyokong kesetaraan hak sipil warga. Hal ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan Yayasan Pantau mengenai persepsi wartawan Indonesia terhadap Islam tahun 2012. Survei yang dilakukan terhadap 600 wartawan di 16 propinsi ini memperlihatkan tingginya kecenderungan wartawan Indonesia yang mengidentifikasi diri sebagai Islam dari pada sebagai Indonesia. Identifikasi ini berimplikasi pada kentalnya bias wartawan ketika memberitakan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Ini terlihat dari penggunaan kata-kata yang cenderung menghakimi seperti: “sesat”, “harus ditobatkan”, dan lain-lain. Bias ini menurut saya timbul karena jurnalis sulit membedakan antara arena keberagamaan personalnya dengan arena profesinya sebagai jurnalis. Tulisan ini akan mencermati lebih jauh beberapa temuan, tidak semuanya karena keterbatasan ruang, dari hasil survei Yayasan Pantau tersebut.
Suhadi Cholil is a lecturer in the program of Center for Religious and Cross-Cultural Study (CRCS),
Jacqueline Aquino Siapno, dalam sebuah artikel berjudul “Syari’a Moral Policing and The Politics of Consent in Aceh”, menulis bahwa perempuan Aceh tidaklah seperti yang selama ini digambarkan oleh kebanyakan laporan internasional mengenai perempuan Aceh, yang dilanggar hak-haknya oleh penerapan syari’ah Islam. Pengalamannya selama penelitian di Aceh justru menunjukkan sebaliknya, perempuan Aceh adalah perempuan yang mandiri, memiliki mobilitas tinggi, dan memiliki posisi tawar/kuasa yang lebih atas laki-laki (matrifocality). Untuk itu ia menawarkan sudut pandang lain dalam melihat perempuan Aceh. Tulisan ini merupakan review atas artikel Siapno tersebut yang dimuat di Jurnal Social Difference-Online Vol. 1 Dec 2011.
Talking about Islamic art and geometry cannot be separated from the classical Greek author and mathematician, Euclid, whose works were translated into Arabic and whom then Muslim mathematicians advanced his understanding in math and geometry and translated the entire Greek corpus and transmitted great corpus of mathematics to the European worlds. In West and Northern America, we know that the math has roots from the classical Islamic world and back to Greek antiquity. In education, we know Arabic number, rooted from India, now we call that Hindu-Arabic numbers. Euclid formerly was fundamental to the training of geometry in elementary, junior and senior high schools. Today, Euclid is being eliminated from the curriculum with much greater emphasis on numerical and symbolic formulation which is very different from mathematical approach and understanding than Euclid’s.Those statements were explained by Carol Bier, the visiting scholar in the Center for Islamic Studies, Graduate Theological Union, Berkeley, USA opening a workshop entitled Geometry and Islamic Art: Explorations of Number, Shape and the Nature of Space hosted by Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM on July 12, 2013 at UGM Graduate School.