• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Alumni
  • Masa Depan Agama Lokal di Indonesia: Sebuah Refleksi Lapangan terhadap Marapu

Masa Depan Agama Lokal di Indonesia: Sebuah Refleksi Lapangan terhadap Marapu

  • Berita Alumni
  • 21 November 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Oleh: Jimmy Marcos Immanuel

 

Berdasarkan data dari beberapa penelitian dan pemerintah lokal, semakin hari populasi penganut Marapu di Sumba Timur mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan beberapa faktor, eksternal maupun internal. Hidup selama 2 bulan bersama penganut Marapu di desa Wunga, Sumba Timur, membantu peneliti merasakan dan memahami faktor-faktor tersebut, memprediksi masa depan agama lokal ini, sekaligus merasakan keresahan para penganut Marapu.

 

Hampir serupa dengan sebagian besar agama-agama lokal lainnya di Indonesia, Marapu hanya diakui sebagai aliran kepercayaan. Para penganutnya hampir tidak mendapatkan porsi di dalam pemerintahan. Untuk menjadi pegawai pemerintahan, seseorang haruslah menganut agama nasional, yakni keenam agama besar di Indonesia. Di desa tempat peneliti tinggal, aparat desa masih ditoleransi beragama Marapu oleh karena keterbatasan sumber daya manusia. Lebih dari 80 persen dari total penduduk desa Wunga adalah penganut Marapu.

 

Marapu ini dianggap oleh orang yang bukan penganutnya sebagai sebuah aliran kepercayaan asli Sumba. Umumnya orang tersebut memanggil mereka dengan sebutan orang kafir, dan bahkan penganut Marapu sendiri menganggap diri mereka sendiri sebagai kafir. Pemaknaan kafir oleh masyarakat Marapu bukanlah dalam pemaknaan negatif, tetapi lebih sebagai pengistilahan lain untuk mereka sendiri yakni sebagai penganut kepercayaan.

 

Para penganut Marapu percaya akan adanya ilah tertinggi atau yang saat ini disebut oleh mereka sebagai Tuhan. Sebelumnya sang ilah tertinggi tersebut hanya disebut sebagai “bakulu maulang mata, balaru kacilu“? (bermata besar dan bertelinga lebar). Nama sang ilah tidak boleh disebutkan secara langsung, hanya dengan perumpamaan demikian, dan bahkan mereka sendiri tidak mengetahui namanya. Istilah Tuhan biasanya dipakai ketika mereka bertemu dengan orang-orang di luar komunitas atau agama mereka.

 

Mereka percaya bahwa mereka tidak dapat berkomunikasi langsung dengan sang ilah. Apabila mereka ingin berkomunikasi dengan Tuhan, mereka harus melakukan hamayangu (sembahyang/ritual) kepada roh nenek moyang (Marapu) melalui pengorbanan hewan tertentu (ayam/babi/kambing/kerbau) dan dipimpin oleh wunang (juru sembahyang). Pesan dari masyarakat kepada sang Ilah akan disampaikan oleh Marapu, selanjutnya Marapu akan menyampaikan pesan dari sang Ilah kepada masyarakat melalui hati dari hewan yang dikorbankan.

 

Meskipun agama lokal ini masih ada sampai saat ini, namun jumlah penganutnya berangsur menurun oleh karena faktor eksternal. Menurunnya jumlah penganut tersebut ditandai dengan pendidikan di sekolah. Sejak Sekolah Dasar (SD) guru yang kebanyakan beragama Kristen mengharuskan anak-anak dari para pengikut Marapu untuk memilih salah satu “agama nasional” untuk dipelajari sekaligus menjadi identitasnya di dokumen sekolah. Guru umumnya mengarahkan mereka untuk memilih Kristen. Ketika mereka ingin menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, sebagian besar sekolah mengharuskan mereka untuk mempunyai surat baptis atau menjadi warga gereja tertentu. Pada saat ini bagi penganut Marapu yang ingin membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), nama agama mereka tidak dicantumkan pada kolom agama, kecuali mereka mau bersikeras dan beradu pendapat dengan pegawai pembuatan KTP, seperti yang dialami oleh salah satu warga di desa Wunga ini.

 

Terhadap fenomena diatas, penganut Marapu saat ini lebih memilih untuk membiarkan anak-anaknya menganut agama lain selama anak mereka menginginkannya dan mendapat pendidikan yang lebih baik dari orangtua mereka. Kondisi ini dikarenakan pula harapan orangtua terhadap anak untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, terutama di Kota, agar dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga di desa. Meskipun ditantang dengan persoalan masa depan penganut Marapu ke depan yang akan menurun dan bahkan hilang, para penganut Marapu percaya hal tersebut tidak akan terjadi, karena sang Ilah dan Marapu akan mempertahankan sejumlah orang untuk meneruskan agama ini.

 

Persoalan ekonomi, seperti yang disebutkan diatas, menjadi salah satu faktor internal yang turut menyebabkan penurunan jumlah ini. Hamayangu yang mereka lakukan menuntut pengorbanan hewan yang tidak sedikit di tengah krisis ekonomi yang mereka hadapi. Intensitas hamayangu tersebut sangat tergantung dengan persoalan yang dihadapi keluarga atau orang lain di sekitar mereka yang membutuhkan bantuan hewan, dan proses adat yang mereka lalui. Oleh karena dirasa Kristen tidak terlalu banyak menuntut pengorbanan yang demikian, sebagian dari mereka lebih memilih pindah ke Kristen, selain oleh karena Kristen dianggap lebih maju atau mewakili perkembangan jaman (superior). Meskipun demikian, persoalan sebab-akibat yang diceritakan dalam agama Marapu membuat mereka masih setia ataupun ragu untuk meninggalkan agama ini. Fungsi sosial dari agama ini juga mengikat setiap orang pada lingkungan penganut Marapu untuk melakukan tradisi-tradisi mereka secara bersama, meskipun di antara mereka sudah beragama Kristen. Kemiskinan bersama terjadi di sini.

 

Kesulitan untuk mengakses sumber daya alam, seperti alang-alang dan bambu untuk rumah mereka, khususnya rumah adat, turut menjadi salah satu faktor internal yang menyebabkan semakin beratnya persoalan ekonomi rumah tangga. Padahal, rumah mempunyai berbagai fungsi penting dalam kaitannya dengan agama dan tradisi mereka. Fungsi sosial, ekonomi dan politik turut menjadi bagian dari fungsi rumah adat mereka. Kesulitan ini ditambah lagi dengan pencurian hewan (oleh para pencuri dari desa lain bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha besar antar-pulau) yang tak berujung dan menyebabkan kerugian besar dari para penduduk desa.

 

Dilema yang tampak dari para penganut Marapu ini menunjukkan pula masa depan dari agama lokal ini. Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap eksistensi dari agama Marapu turut menjadi salah satu penyebabnya. Selama ini belum ada usaha untuk memperjuangkan bagaimana agama ini dapat diakui sebagai salah satu agama di Indonesia, seperti halnya usaha pemerintah lokal Kalimantan dan masyarakat Dayak dalam mengangkat agama Kaharingan. (JMI)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY