• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Tesis
  • Sang Putra Masjid

Sang Putra Masjid

  • Tesis
  • 31 March 2010, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Judul: SANG PUTRA MASJID: Komodifikasi Agama dalam Relasi Sosial Kyai dan Pekerja Madura di Malaysia

Penulis: Akhmad Siddiq (CRCS, 2008)

Kata-kata kunci: kyai, agama, komodifikasi, tenaga kerja Madura

Abstrak:

Tesis ini mencoba mengungkap proses komodifikasi agama dalam relasi sosial antara kyai dan tenaga kerja Madura di Malaysia, terutama melalui aktivitas pengajian yang diadakan kyai di kongsi-kongsi (perumahan sementara) tenaga kerja asing di Malaysia. Proses komodifikasi agama ini dapat dilihat embrionya dari keberangkatan kyai ke Malaysia, guna mencari dana bagi institusi-institusi keislaman, seperti pesantren, madrasah, dan masjid. Menggunakan kapital agama, para kyai merancang aktivitas-aktivitas keislaman selama kunjungan mereka di Malaysia. Untuk menjaga hal itu, mereka senantiasa melestarikan habitus ke-kyai-an, garis keturunan, dan kekuatan kharisma.


Komodifikasi agama biasanya diproduksi dalam konteks budaya tertentu. Hal ini meniscayakan pemahaman yang komprehensif tentang batas-batas budaya. Bersembunyi di balik kesucian nilai-nilai agama, kyai yang datang ke Malaysia menggunakan simbol-simbol agama untuk memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis. Kyai memahami betul arti penting otoritas keagamaan; atribut, simbol, dan ritual keagamaan adalah faktor yang sangat penting untuk melanggengkan pengaruh (influence) para kyai dalam kehidupan tenaga kerja Madura. Seperti kita ketahui, dalam struktur sosial masyarakat Madura, kyai masih merupakan simbol kekuatan kharismatik karena peran sosio-historis mereka, terutama dalam ranah agama. Zamakhsyari (1982) mendefinisikan kyai sebagai sosok yang memiliki pesantren dan mengabdikan dirinya untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Iik Arifin Mansurnoor (1990) membagi kyai Madura dalam dua kelompok: (1) kyai lokal (local kyai) dan (2) kyai supra-lokal (supra-local kyai). Kyai supra-lokal memiliki koneksi yang lebih luas dan status yang lebih tinggi dalam masyarakat; mereka memiliki akses terhadap pemerintahan, lembaga dana, atau individu-individu dermawan. Tidak seperti kyai supra-lokal, kyai lokal mempunyai hanya koneksi yang terbatas; sulit untuk mencari dana pengembangan pesantren atau madrasah yang mereka kelola. Akhirnya, sebagian dari mereka pergi ke Malaysia untuk mencari dana, dengan cara, misalnya, mengadakan pengajian.


Tesis ini memadukan hasil observasi-partisipatif (participant observation) dan wawancara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan selama satu-bulan penelitian di Kuala Lumpur dan Selangor. Dua lokasi ini adalah kantong terbesar tenaga kerja Madura bekerja di Malaysia. Selain itu, data-data di dalam tesis ini diramu dari penelitian selama dua bulan di Pamekasan, Madura serta data-data pustaka lainnya.


Sebagai konklusi, tesis ini menggarisbawahi adanya praktik komodifikasi agama dalam relasi sosial antara kyai dan tenaga kerja Madura di Malaysia. Salah satu pertimbangan utama kepergian kyai ke Malaysia adalah profit. Moralitas dan religiusitas menjadi faktor sekunder. Tesis ini adalah sebuah upaya untuk menyibak apa yang ada di balik layar, sesuatu yang tersembunyi, yang terselubung dalam ruang-ruang dakwah atas nama agama. Merujuk pada Bourdieu, di sinilah religious enterprise (firma agama) itu terlihat menjadi nyata.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY