• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Joget Amerta
  • Menggali Memori Perjumpaan dengan Mbah Prapto, Penggagas Jogèd Amerta

Menggali Memori Perjumpaan dengan Mbah Prapto, Penggagas Jogèd Amerta

  • Joget Amerta
  • 10 March 2025, 15.36
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

oleh Deny Hermawan

Tiga belas tahun lalu, tepatnya 31 Mei 2012, saya untuk pertama kalinya mengunjungi Padepokan Lemah Putih di Karanganyar Jawa Tengah. Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jogja, yang saya tempuh dengan naik kereta api ke Solo, disambung naik sepeda motor bersama seorang rekan.

Waktu itu, saya masih menjadi jurnalis di grup media Kedaulatan Rakyat di Jogja. Kenapa saya ke sana? Sebenarnya bukan untuk liputan, tapi untuk belajar pada sosok Suprapto Suryodarmo, atau Mbah Prapto, sang pencipta Amerta Movement, atau Jogèd Amerta. Waktu itu saya sudah dengar kalau Jogèd Amerta itu dipelajari dan diterapkan di berbagai negara di dunia, oleh seniman tari dan gerak, musisi, guru, psikoterapis, terapis seni/musik/drama, seniman instalasi dan seniman lainnya. Begitu berkelas lah.

Jogèd Amerta yang saya pahami waktu itu adalah bentuk praktik gerakan nonbergaya yang mengacu pada gerakan bebas, berlandaskan praktik meditasi Vipassanā buddhis dan meditasi Sumarah kejawen. Ini sangat menarik, karena saya sendiri mempelajari dan mempraktikkan meditasi Vipassanā, walau merasa tidak pandai menari. 

Di Lemah Putih, saya disambut oleh Mbah Prapto yang berkarakter hangat, ramah, rendah hati, dan terbuka. Saya lupa apa saja yang diobrolkan waktu itu. Yang jelas, saya sempat bertanya tentang bagaimana sejarah padepokan dan seni gerak yang berkembang. Sayang pertemuan ini tidak saya rekam maupun saya catat. Pemaparan tentang pengalaman ini hanya berdasarkan memori saya saja. Namun demikian, saya sempat mengambil foto Mbah Prapto, dan juga foto suasana di Padepokan Lemah Putih.

Tentang Amerta

Kata “Amerta” berasal dari bahasa Jawa (yang kalau dilacak dari Sansekerta) yang juga masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Artinya adalah “tidak dapat mati” atau “abadi”. Berarti ada kehidupan di sana. Dan salah satu ciri kehidupan adalah gerakan. 

Begitulah saya memaknai Jogèd Amerta, sesuai ajaran Mbah Prapto, yang menekankan pada gerakan yang alami, spontan, dan tidak terstruktur. Praktisi diajak untuk melepaskan diri dari pola gerakan yang kaku dan membiarkan tubuh bergerak sesuai dengan dorongan internal. Inilah intisari hidup dan kehidupan. Tujuan praktik meditasi gerak ini adalah untuk mencapai kesadaran penuh akan tubuh, ruang, dan lingkungan sekitar. Di dalam prosesnya, praktisi belajar untuk mendengarkan tubuh mereka, merasakan aliran energi, dan menghubungkan diri dengan alam.

Kebetulan, waktu saya ke sana, ada dua orang perempuan seniman gerak yang tinggal di sana untuk belajar. Saya sempat mengamati bagaimana mereka berlatih, berproses, bergerak, yang memang intuitif. Salah seorang di antaranya memanfaatkan media kursi kayu untuk mengekspresikan diri. Saya pun melihat bagaimana Mbah Prapto lalu ikut menari bersama kedua orang itu. Sangat menarik, walau bukan hal yang baru bagi saya, yang sewaktu SMA di Kolese De Britto selama 3 tahun ikut ekskul teater dan bergelut dengan proses yang sejenis.

“Saya pernah diajak bante Pannya (Bhikkhu Śri Paññāvaro Mahāthera) ke Jepang,” begitu tutur Mbah Prapto waktu itu. Bhante Pannya memang terkenal sebagai guru meditasi, khususnya meditasi Vipassanā, atau yang sering ia sebut sebagai meditasi kesadaran. Saya kebetulan beberapa kali pernah mengikuti retret meditasi di tempat bante Pannya di Vihara Mendut.

Kesadaran ini, menurut Mbah Prapto, merupakan hal esensial guna merespons eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Melalui gerakan yang penuh kesadaran (mindful), kita dapat mengintegrasikan kembali bagian-bagian diri kita, baik batin maupun jasmani, untuk menjadi bagian dari semesta.

Saya tidak ingat persis, apa saja hal-hal yang dijelaskan oleh Mbah Prapto waktu itu. Yang saya ingat, sajian penuturan pengalaman dan penjelasan beliau lalu memberikan banyak wawasan baru bagi saya, waktu itu. Sungguh perjumpaan pertama yang mengesankan kala itu dengan beliau.

Mempelajari Sumarah

Meski sudah mempelajari berbagai jenis meditasi, termasuk berbagai jenis Vipassanā (meditasi memiliki  banyak jenis, dua yang paling terkenal adalah Vipassanā & Goenka], saya belum pernah mempelajari meditasi Sumarah, yang oleh Mbah Prapto dijadikan fondasi Jogèd Amerta. Sampai akhirnya, ketika saya mengikuti acara Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF), yang digelar  November  2018, saya berkesempatan mengikuti sesi meditasi bersama Laura Romano, seorang pamong Sumarah kelahiran Italia yang sudah menjadi warga negara Indonesia.

Kesimpulan saya, banyak kemiripan memang–walau tidak sama persis–antara meditasi kesadaran buddhis, dengan meditasi Sumarah. Saya pun merasa bisa memahami Jogèd Amerta secara lebih mengena, usai mencicipi cita rasa Sumarah.

Perjumpaan Terakhir dengan Mbah Prapto

Akhir  2019, saya mendapat kabar bahwa Mbah Prapto meninggal dunia. Saya ikut merasakan kesedihan kala itu. Saya ingat, setahun sebelumnya, April 2018, saya sempat berjumpa dengan beliau untuk terakhir kali dalam sebuah acara diskusi seni di UGM Yogyakarta. Waktu itu dirinya ikut menjadi pembicara. Saya lebih banyak memiliki memori tentang perjumpaan dengan beliau di “Kampus Biru” ini dibanding di Padepokan Lemah Putih.

Dalam perjumpaan singkat ini  ia sempat menyinggung bahwa proses dirinya belajar meditasi buddhis Vipassanā maupun ajaran kejawen Sumarah sangat berguna untuk mengeksplorasi alam dan kesadaran.

“Dari situ saya belajar tentang resonansi, kepekaan tubuh,” ungkapnya.

Mbah Prapto pun waktu itu membahas juga terkait Jogèd Amerta. Catatan kata-katanya waktu itu masih bisa saya akses.

“Saya sebut joget, karena lebih merujuk pada orang yang sedang belajar menari dari dasar,” terangnya.

Mbah Prapto menambahkan, secara filosofis jogetnya bertolak dari konsep tradisi, yaitu hubungan  antarmanusia, alam dan The Unknown, atau Tuhan Yang Tak Diketahui. Transformasi batin manusia menurut dia harus selalu mengacu ke tiga hal itu. Sedangkan dari sisi bentuk, Jogèd Amerta adalah olah tubuh sehari-hari yang mengabaikan pakem yang selama ini berlaku dalam olah tubuh. Lewat Jogèd Amerta inilah ia mengajarkan murid-muridnya untuk merespons dirinya sendiri dan atmosfir di sekelilingnya.

“Orang asing yang belajar dengan saya sebenarnya tidak paham. Namun, karena budaya mereka yang ingin tahu, sedikit-sedikit mereka paham. Ingin tahu inilah yang harus kita kembangkan,” katanya penuh ketegasan.

Satu lagi ilmu dan anjuran dari Mbah Prapto, teruslah ingin tahu, teruslah menyadari, teruslah mengalami, dan jangan selesai dengan pengetahuan yang sudah tertanam di benak kita. Karena kalau selesai, sama saja kita itu mati, tidak amerta.

Terima kasih Mbah Prapto, atas Jogèd Amerta, warisan rasa dan intelektualmu yang mendunia. Semoga semakin banyak warga bumi yang mau mempelajari dan mempraktikkan ilmu adiluhung ini.

Klik tautan ini untuk artikel versi bahasa Inggris

______________________

Deny Hermawan ialah seorang jurnalis dan praktisi spiritual, yang pernah mempelajari meditasi Vipassana dan Sumarah yang menjadi basis kebatinan Amerta Movement. Ia pernah beberapa kali berjumpa dengan Mbah Prapto dan belajar darinya. Bisa diajak berdiskusi lewat akun IG @Real_Java

[wpdm_package id=’20107′]

Tags: deny hermawan joget amerta

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY