• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Video Amerta
  • Anyaloka

Anyaloka

  • Video Amerta
  • 20 March 2025, 10.01
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

The Amerta Movement presented in this video is rooted in my experience attending several workshops with Mbah Prapto. From him, I learned how the body can listen, feel, and move with full awareness—an awareness of all the senses, and of our presence within both the inner and outer circles of the body. In this work, I explore and play with that awareness: the sense of movement flowing from the inside out, and from the outside in. A practice I once experienced and embodied through my encounters with Mbah Prapto.

—

Joged Amerta yang disajikan dalam video ini berakar dari pengalaman saya menghadiri beberapa lokakarya bersama Mbah Prapto. Dari beliau, saya belajar bagaimana tubuh dapat mendengar, merasakan, dan bergerak dengan kesadaran penuh—kesadaran akan semua indra, dan akan kehadiran kita di dalam lingkaran dalam dan luar tubuh. Dalam karya ini, saya mengeksplorasi dan bermain dengan kesadaran itu: rasa gerakan yang mengalir dari dalam ke luar, dan dari luar ke dalam. Sebuah praktik yang pernah saya alami dan wujudkan melalui pertemuan saya dengan Mbah Prapto.

______________________

Silvia Dewi Martha Ningrum once participated in a Joged Amerta workshop with the late Mbah Prapto Suryodarmo. What she learned from Amerta is how the body learns to listen, feel, and move—listening to nature as the cosmic body, sensing and moving not with the intention of conquering nature as a mere object, but recognizing it as more than that. Nature is a living book that grows; it is a meta-body that exists both within and beyond us. We exist because nature exists.

Silvia Dewi Martha Ningrum pernah mengikuti lokakarya  Joged Amerta bersama Mbah Prapto Suryodarmo. Yang ia peljari dari Amerta ialah bagaimana tubuh belajar untuk mendengarkan, merasakan, dan bergerak—mendengarkan alam, sebagai tubuh semesta; merasakan dan bergerak tanpa adanya usaha untuk menundukkan alam sebagai  sebatas objek kebendaaan, tetapi  jauh lebih dari itu. Alam merupakan buku baca yang tumbuh, alam  juga adalah  metatubuh  yang selalu ada dalam diri kita dan di luar diri kita. Kita ada karena alam ada.

Tags: Silvia Dewi Marthaningrum Video Amerta

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Ke Tamansari membawa teman Jangan lupa membeli tik Ke Tamansari membawa teman
Jangan lupa membeli tiket masuknya 
Kalau tertarik belajar isu keberagaman 
CRCS UGM jawabannya 😎

Jangan lupa follow TikTok CRCS juga yaa 😉

#crcsugm #admissionopen #adil #setara #selaras
satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan segera satu dua tiga empat
lima enam tujuh delapan
segera daftar ayo cepat
crcs buka pendaftaran
A S (E L A) M A T Konon, Asmat berasal dari kata " A S (E L A) M A T
Konon, Asmat berasal dari kata "As Akat" dalam bahasa setempat yang berarti 'orang yang tepat'. Entah kebetulan atau ada akar bahasa turunan, kata "ismat" (عِصْمَة) dalam bahasa Arab artinya perlindungan dan kerap merujuk pada salah satu sifat manusia terpilih. Hompimpa etimologis tersebut menyiratkan bahwa keselamatan sudah menubuh dalam masyarakat adat Asmat. Namun, keselamatan rupanya punya banyak versi dan tidak selalu bersepakat, bahkan saling meniadakan. Apa pun versinya, keselamatan tak boleh menjadi alasan untuk menghapus memori, apalagi eksistensi. Keselamatan seharusnya membuka ruang baru untuk saling memahami.

Simak ulasan @yunus_djabumona tentang Asmat dan keselamatan hanya di situs web crcs.
keluarga bukan soal kepemilikan, melainkan keberpi keluarga bukan soal kepemilikan, melainkan keberpihakan
damai bahagia untuk sesama dan semesta
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY