• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Opini
  • page. 2
Arsip:

Opini

Defining faith: Beyond the Contentious "Religion Column"

Opini Monday, 17 November 2014

The Jakarta Post (Friday, November 14 2014)

xxHome Minister Tjahjo Kumolo has stated that followers of minority faiths can leave the religion column on their KTP (identity cards) blank. Yet the real problem beyond the debate of leaving the column blank or removing it altogether not only regards equality and civil rights for followers of aliran kepercayaan (indigenous religions or local faiths) — but the definition of agama (religion) itself.

Leaving the religion column blank for followers of faiths “which are not yet recognized as religions based on laws and regulations or adherents of kepercayaan [faiths]”, according to the 2013 Population Administration Law, was already legal in the 2006 law that it replaced.

Elect Leaders Based on Competence, Not Religion

Opini Monday, 10 November 2014

The Jakarta Post (Friday, October 24 2014)
xxThere are two reasons why some Muslims in Jakarta reject a non-Muslim governor, like Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. The first is the literal interpretation of the scriptures. The second is the matter of majoritarian psychology.
Those who oppose the non-Muslim leader have no common sense. Their rejection is solely based on several verses in the Koran that, according to their literal interpretation, prohibit non-Muslims from leading Muslims. In the case of Ahok, who will take over from Joko “Jokowi” Widodo as Jakarta governor, these people believe Islamic law is placed higher than the Constitution, so non-Muslim figures must be rejected because they do not suit Islamic law.
Read the whole article at www.thejakartapost.com/news/2014/10/24/elect-leaders-based-competence-not-religion.html

Jilbab Phenomenon: Religious or Cultural?

Opini Friday, 26 September 2014

The Jakarta Post (September 12, 2014)
How do we deal with the so-called jilboobs, an Indonesian term for Muslim women wearing the jilbab (Islamic headscarf) while at the same time wearing clothes that emphasize their breasts (boobs)? The phenomenon of jilboobs would not be startling if we properly understood the case.
First, let’s raise again the old question: Why is the jilbab (the popular Indonesian name for hijab) a religious obligation for Muslim women? Most Indonesian Muslim women would not know the rational answer, the raison d’etre or, in terms of Islamic jurisprudence, the ‘illat al-hukm.
Many Indonesian Muslim women most likely wear the jilbab only to follow the mainstream trend — the tradition, or rather the popular culture within the Muslim community.
Read more here.
Aziz Anwar Fachruddin
A graduate student at the Center for Religious and Crosscultural Studies (CRCS) UGM, Batch 2014

Harmoni Setelah Pilpres

Opini Thursday, 7 August 2014

Kedaulatan Rakyat 5 Agustus 2014

*Ahmad Khotim Muzakka

Bagaimana nasib pluralitas pasca-pemilihan presiden 2014? Pertanyaan ini patut dikemukakan mengingat Indonesia dihuni Beragam manusia dari berbagai kultur, kebudayaan, dan agama. Berbicara pluralistas tidak sekedar menonjolkan hitung-hitungan matematis seberapa besar anggaran Negara yang dialokasikan kepada tiap golongan ataupun kelompok. Namun, juga memperhatikan bagaimana pemerintah mengakomodasi berbagai kecenderungan dengan tidak menegasikan eksistensi minoritas.

Rekonsiliasi dan Cegah Konflik, Agenda Mendesak Pasca Pilpres

Opini Tuesday, 8 July 2014

Opini | CRCS | Suhadi
Suhadi

Inti dari rekonsiliasi adalah memulihkan hubungan antara pihak-pihak yang bertikai menjadi kembali normal. Menyimak perkembangan kampanye Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) yang  panas belakangan ini, rekonsiliasi dan pencegahan konflik pasca Pilpres mutlak diperlukan.

Setelah Reformasi 1998, kita telah mengalami tiga kali Pilpres, plus satu kali yang akan kita jalani dalam beberapa hari lagi. Sebagaimana kita pahami, Pilpres kali ini sungguh berbeda dengan tiga Pilpres sebelumnya. Salah satu perbedaan yang mencolok terletak pada jumlah pasangan yang mencalonkan diri, kalau dalam tiga kali Pilpres sebelumnya selalu terdapat lebih dari dua kandidat, dalam Pilpres 2014 hanya ada dua kandidat.

Politik Sowan Kiai

Opini Tuesday, 1 July 2014

Opini | CRCS | Ahmad Khotim Muzakka

 

Ahmad Khotim MuzakkaPEREBUTAN RI-1 semakin menarik ketika masing-masing kubu—baik Prabowo Subianto maupun Joko Widodo—berhasil menarik gerbong yang memiliki hubungan dengan kiai dan pesantren. Tidak bisa ditampik bahwa restu kiai memiliki nilai dan diduga kuat bisa menjadi penarik massa pemilih.

 

Hadirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di kubu Jokowi-Jusuf Kalla merepresentasikan perwakilan ”partai kiai” karena secara historis dan ideologis partai ini lahir dari rahim pemikiran para kiai. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sang pendiri partai, merupakan contoh nyata bahwa partai ini memiliki hubungan historis kental dengan dunia kiai meskipun, pada akhirnya, terjadi pecah kongsi antara kubu Muhaimin Iskandar dan Gus Dur. Namun, aroma tersebut masih melekat kuat.

123

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY