Our Land is the Sea atau Air Tanahku adalah film dokumenter pendek tentang tiga generasi keluarga Bajau di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang kini menghadapi perubahan drastis budaya dan lingkungan mereka.

Kian cepat punahnya keragaman tumbuhan dan hewan membuat budaya manusia dan sistem pengetahuan yang telah bertaut lama dengan keragaman itu turut punah pula. Our Land is the Sea menjelajahi bagaimana hal ini terjadi melalui perspektif orang-orang Bajau yang kini bergulat menghadapi kepunahan terumbu karang, perubahan ekonomi, diskriminasi etnis, dan pergeseran praktik-praktik keislaman mereka.

Siapa Orang-Orang Bajau?

Bajau adalah kelompok etnis pelaut dengan wilayah tradisional di area Segitiga Terumbu Karang, kawasan dengan luas tak kurang dari 6 juta km persegi dan mengandung terumbu karang yang beragam dan terbanyak sedunia. Ada komunitas Bajau di Filipina, Indonesia, Malaysia, Timor Timur, dan Papua Nugini. Komunitas Bajau Sulawesi Tenggara, yang menjadi fokus film Our Land is the Sea, menghabiskan sebagian besar hidup mereka di atas perahu di kawasan laut mereka dan di hutan bakau tempat tumpang tindihnya lautan dan daratan.

Produksi

Our Land is the Sea berasal dari kolaborasi anggota komunitas Bajau, yakni Andar dan Saipa (keduanya difiturkan dalam film), pengajar di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM Dr. Kelli Swazey, dan pembuat film Matt Colaciello. Rekaman-rekaman yang menjadi bahan film ini dilakukan selama empat pekan di Wakatobi pada 2016 dan 2018 dan diedit di Yogyakarta. Film ini diproduksi atas kerja sama CRCS UGM, Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) University of Hawai’i Manoa, dan the Global Workshop.

TONTON

 

Presentasi di TEDxUbud

Simak presentasi Dr. Kelli Swazey di TEDxUbud 2018 mengenai topik yang dibahas dalam film ini.

Pemutaran

Peluncuran pertama film ini dilakukan di @america, Pacific Place Mall, Jakarta, pada 8 Agustus 2018. Setelah diputar di Bali International Film Festival pada September 2018, film ini ditayangkan dan didiskusikan di Institut Francais d’Indonesie (IFI) Yogyakarta pada 10 Oktober 2018.

___________

Baca juga tentang film ini dalam bahasa inggris di situs web CSEAS University of Hawai’i beserta bacaan pendamping film ini.