• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Human and Nature in Indonesia

Human and Nature in Indonesia

  • 20 December 2024, 17.04
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Human and Nature in Indonesia

Between 2019 and 2023, the Humans and Nature in Indonesia (HANI) team at Universitas Gadjah Mada conducted a large-scale survey to explore faith-based support for nature preservation. The team used an existing Humans and Nature scale, originally developed at Radboud University Nijmegen, with which they intensively collaborate. Assuming that people in Indonesia are overwhelmingly religious and vulnerable to natural disasters, the HANI team elaborated on the original HAN scale adding context-dependent items. The researchers conducted 1105 structured interviews and 115 in-depth interviews, in Aceh, Jambi, Samarinda, Kupang, Denpasar, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, and Jakarta. Currently, the team is analyzing and interpreting the data, and reporting the findings.

The team welcomes new (senior and junior) researchers to join the HANI research by either analyzing existing data (per location or category, for example, youngsters, women, villagers) or generating new data using the HANI scale in different locations. If you are interested please contact: zainalbagir@ugm.ac.id, samsul.maarif75@ugm.ac.id, or franswijsen@ugm.ac.id

For more information see:

  • Human and Nature in Indonesia (2019-2022) https://www.icrs.or.id/news/human-and-nature-in-indonesia
  • Wijsen, F., Bagir, Z. A., Yusuf, M., Ma’arif, S., & Marsiyanti, A. (2023). “Humans and Nature: Does Religion Make a Difference in Indonesia?” Journal for the Study of Religion, Nature and Culture, 17(1), 30–55. https://doi.org/10.1558/jsrnc.21211 (open access),
  • Discussion with Frans Wijsen at PPIM Seminar Series "Humans, Nature, and God in Indonesia: Does Religion Matter?" (March 1, 2024)

Instagram

vasudaiva kutubakam selamat menghayati catur brat vasudaiva kutubakam

selamat menghayati catur brata nyepi
SUAR(U)A(NG) Di antara gema takbir dan sunyi nyepi SUAR(U)A(NG)
Di antara gema takbir dan sunyi nyepi, kita belajar satu hal yang jarang diakui: yang sakral tidak selalu saling memahami. Di titik itu, iman tidak hanya soal percaya, tetapi juga soal berbagi ruang. Rahajeng lailatul nyepi.
NYALI Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang me NYALI
Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang meledak-ledak. Seolah ia hadir dalam bentuk teriakan, gebrakan meja, atau keberanian untuk menantang secara dramatis. Padahal, nyali justru seringkali bersembunyi di tempat yang sunyi, pada sebuah jeda yang membuat seseorang terus berjalan dalam iman dan keadilan. Seperti para pemuka agama yang ditukil dan didongengkan oleh @nf_nuzula , Melalui sosok-sosok tersebut, nyali menemukan bentuknya yang hakiki: keberpihakan. Nyali merekalah yang membuat nyala agama tetap ada di hati rakyat dan mereka yang tertindas.
M E R A H Merah itu mencolok, laiknya luka yang ta M E R A H
Merah itu mencolok, laiknya luka yang tak sempat disembunyikan. Salib-salib merah suku Awyu berdiri di tanah yang hendak dirampas. Ia menjadi tanda bahwa ada yang sedang dipertahankan, sekaligus yang perlahan coba dihilangkan. Merah bukan sekadar warna iman. Ia berubah menjadi bahasa tentang kehilangan, tentang klaim atas ruang, dan tentang ingatan yang menolak dihapus diam-diam. 
Simak ulasan @tropicalboi tentang perlawanan masyarakat adat Awyu melalui kreativitas beragama, hanya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY