• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Articles
  • Kuliah Umum Chaiwat Satha-Anand: Yang Sakral dalam Cermin

Kuliah Umum Chaiwat Satha-Anand: Yang Sakral dalam Cermin

  • Articles, Headline, News
  • 3 November 2015, 16.14
  • Oleh:
  • 0

Asep Salik | CRCS

Agar tak terjebak dalam kekerasan, keterlibatan setiap muslim dalam dunia politik dan segala sendi kehidupan di dunia meniscayakan satu hal, yakni, sebagaimana ditawarkan Chaiwat Satha-Anand, “hadirnya kesadaran untuk menggeluti Realitas Ilahiah tanpa harus kehilangan kemampuan mempertanyakan diri, orang lain, dan dunia.” Hal ini dapat dicapai dengan, antara lain, meletakkan Yang Sakral di dalam cermin. Dengan begitu, seorang muslim dapat membangun jarak ideal antara dirinya dengan Yang Sakral, sehingga ia tidak menjadi—meminjam istilah Hent de Vries—“ngengat yang terpesona oleh api hingga terlalap olehnya.” Chaiwat Sata-Anand mengungkapkan hal ini dalam acara “Nurcholis Madjis Memorial Lecture” (NMML) yang digelar pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 lalu di gedung sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Kuliah umum yang mengambil tema The Sacred in The Mirror; Islam and Politics in The 21st Century ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan ulang tahun Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM yang kelima belas.

Dalam ceramahnya, Chaiwat yang dikenal sebagai aktivis perdamaian lintas agama dan pemikir ini menyoroti maraknya beragam perilaku kekerasan atas nama agama yang kerap terjadi belakangan ini. Ia mencontohkan betapa mudahnya bagi beberapa gelintir kelompok yang mengaku religius untuk membakar dan merusak rumah ibadah, menyerang kelompok lain yang berseberangan agama atau paham, hingga melakukan pembunuhan. Ironisnya, kekerasan tersebut tidak lagi memandang tempat dan waktu. Hal itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, bahkan di dalam rumah ibadah sekalipun, tempat yang ditengarai sebagai sesuatu yang sakral. Ia mensinyalir jika di masa lalu tempat atau simbol kesucian adalah tanda di mana kekerasan tidaklah diperkenankan, namun kini hal itu telah kehilangan maknanya. Hampir semua umat beragama terjebak dalam hal ini, termasuk kaum muslimin. Mereka kerap menjadi korban sekaligus pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama.

IMG_9278Menurut Chaiwat, fenomena semacam ini tak lepas dari pengaruh pergeseran cara pandang seseorang terhadap apayang disebut dengan istilah “Yang Sakral” (the Sacred), yang bila berpijak pada pemikiran Eliade, ini dapat bermakna Tuhan. Bagi seorang muslim, konsep Yang Sakral sangatlah berpengaruh terhadap cara pandangnya mengenai dunia serta perilaku dan tindakan yang dilahirkannya kemudian, sebagai refleksi atas realitas kehidupan yang dihadapinya. Oleh sebab itu, kegagalan memahami Yang Sakral dan memosisikan diri atasnya dapat berakibat fatal dan kontraproduktif. Alih-alih mengejewantahkan nilai-nilai positif dari Yang Sakral, seorang muslim justru dapat terjerembab ke dalam kekerasan yang tak berujung pangkal; penghancuran atas apa pun yang dianggapnya sebagai penentang. Atau, dapat pula membuat seorang muslim—seperti yang kerap terjadi pada para mistikus—dilahap kefanaan yang meniscayakan kebisuan, laiknya ngengat yang terbakar dalam keterpesonaan di hadapan kobar api.

Mengenai hal ini, Chaiwat kemudian menjelaskan bagaimana cara pandang Muhammad Saw. saat ditemui oleh Jibril pertama kali saat proses turunnya wahyu. Ia menjelaskan bahwa dalam keterpanaannya saat itu, Muhammad tidak lantas kehilangan kemampuannya untuk bertanya. Sisi kemanusiaannya tidak musnah dengan adanya perjumpaan itu. Oleh sebab itu, ia tetaplah menjadi Muhammad, seorang Arab yang pedagang. Namun, ia menjadi seperti baru terlahir kembali dengan makna yang lain. Sebab, dirinya telah tercerahkan oleh Yang Sakral. Dengan begitu, Muhammad tidak lantas membabi buta dan menghancurkan apa saja yang dianggapnya menentang Yang Sakral.

Berlandaskan pada apa yang terjadi pada diri sang Nabi, Chaiwat kemudian mengetengahkan sebuah solusi untuk mengantisipasi fenomena kekerasan yang disebabkan adanya salah pandang mengenai Yang Sakral ini: “menempatkan Yang Sakral di dalam cermin.” Menurutnya, hal ini sangatlah penting untuk dilakukan. Sebab dengan cara itu, seseorang dapat mengambil jarak ideal dari Yang Sakral, untuk kemudian melakukan perenungan mendalam akan dirinya di hadapan Yang Sakral dengan cermat. Dengan tersisanya ruang semacam itu, seseorang tidak akan mudah terjebak dan terprovokasi ke dalam kekerasan. Ia akan memiliki cukup ruang untuk menatap dirinya—atau Yang Sakral—di hadapan cermin tersebut dengan penuh khidmat tanpa kehilangan kemampuan untuk bertanya.

Seolah tak ingin membiarkan peserta kuliah umum merenung lebih lama, secara atraktif Chaiwat menarik sebuah cermin besar ke tengah arena. “Apa yang Anda lihat pada cermin ini?” tanyanya memancing keriuhan peserta dengan aneka jawaban yang dilontarkan oleh mereka. Dan, dengan senyum khasnya, ia berkomentar jenaka sekaligus penuh pancingan untuk berpikir, “Mungkin yang terlihat adalah seekor binatang buas dari selatan, kebun binatang Honolulu, ucap saya pada diri saya.” Kemudian, ia menjelaskan bahwa dengan adanya kemampuan untuk bertanya saat berada di dalam keterpanaan akan mengubah cara pandang serta sikap seorang muslim terhadap orang lain dan dunia. Kemungkinannya akan menjadi seperti apa yang terjadi dengan Muhammad sang nabi. Sehingga, kekerasan atas nama agama takkan lagi menjamur di dunia ini.

Diskusi yang dihadiri oleh para alumni CRCS, aktivis kerukunan umat beragama, kalangan akademisi, para tamu undangan kolega CRCS, serta perwakilan agama resmi maupun agama lokal di Indonesia ini semakin hidup dengan dibukanya kesempatan untuk tanya-jawab. Ada banyak pertanyaan menggelitik sekaligus penuh kegelisahan dan keingintahuan dari para peserta yang berjumlah lebih dari seratus orang tersebut. Farisah, mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahkan dengan nada sedikit menggugat bertanya, “Betulkah ada jarak antara Tuhan dengan manusia?” Ia kemudian mengutip beberapa dalil mengenai kedekatan Tuhan dengan manusia, yang ditengarai lebih dekat daripada urat nadi manusia itu sendiri. Lain lagi dengan pertanyaan yang diajukan Martin Sinaga dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Ia menggarisbawahi bahwa faktor pencetus kekerasan bukanlah semata soal Yang Sakral, melainkan sangat kompleks. Faktor trauma, dendam, ekonomi dan politik ikut andil dalam menciptakan kekerasan itu. Selain itu, masih banyak lagi pertanyaan lainnya dari sekitar delapan orang penanya yang diberikan kesempatan oleh M. Iqbal Ahnaf, moderator pada acara tersebut.

Menanggapi beragam pertanyaan itu, Chaiwat mengatakan bahwa memang sulit sekali untuk membayangkan jarak antara Yang Sakral dengan manusia. Namun, menurutnya, menghadirkan cermin dalam kondisi seperti itu diharapkan sanggup membuat seseorang dapat menatap Yang Sakral sambil tetap mengapresiasi dunia. Hal ini laiknya yang terjadi dengan Muhammad saat menerima wahyu melalui Jibril. Walau ia berada dalam keterpanaan, ia tetap sanggup bertanya saat diminta untuk membaca. Keterpanaannya tidak memutus Muhammad dari realitas kemanusiaannya. Dalam menanggapi pertanyaan mengenai dendam atau trauma serta persoalan lainnya sebagai pemicu kekerasan, Chaiwat mengisahkan perjumpaannya dengan seorang ibu yang beragama Buddha. Ia menuturkan bahwa si ibu kehilangan suaminya dan harus terusir dari kampung sebab adanya konflik. Suaminya meninggal dengan cara dibakar. Namun, si ibu berikrar bahwa ia telah memaafkan para pelakunya. Ia bisa menerima takdirnya, walaupun masih trauma dan harus hidup dalam gelimang kemiskinan. Ia tidak hendak melakukan pembalasan dengan melakukan kekerasan yang serupa. Menurut Chaiwat, hal ini bersumber dari hasil bercermin si ibu tersebut. Ia tidak kehilangan penglihatan mata batinnya dengan adanya masalah tersebut. Karenanya, Chaiwat tidak sepenuhnya sependapat dengan Martin mengenai penyebab munculnya kekerasan.

Di akhir kuliah umum itu, Chaiwat sedikit bercerita mengenai Nurcholis Madjid yang menurutnya merupakan seorang yang berwawasan luas, terbuka, perhatian dan penuh kasih sayang. Selain itu, ia juga berpesan terhadap para peserta agar memperbanyak komunikasi dengan beragam orang, terus membuka diri terhadap keragaman, senantiasa mawas diri sambil tetap “bercermin”.

Tags: Cermin Chaiwat Chaiwat Satha-Anand CRCS Anniversary Dialogue islam Kekerasan atas nama agama Public Lecture the sacred Yang sakral

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY