• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Articles
  • Mengkaji Agama-agama secara Interreligius

Mengkaji Agama-agama secara Interreligius

  • Articles, Headline, News
  • 18 September 2017, 12.20
  • Oleh:
  • 0

Afifur Rochman Sya’rani | CRCS | Jurnal Kelas

Terdapat berbagai cara untuk mempelajari agama-agama, masing-masing dengan tujuan dan kelebihannya tersendiri. Bila mengikuti klasifikasi Achmad Munjid, model studi agama(-agama) dapat dibagi menjadi tiga dilihat dari caranya.
Pertama, model monoreligius, yakni model studi agama yang hanya mempelajari satu agama yang dianut. Kedua, model multireligius, yakni model studi agama yang tidak hanya mempelajari satu agama yang dianut, tetapi juga agama lain. Ketiga, model interreligius, yakni model studi agama yang menekankan pada adanya “dialog” dalam mempelajari agama-agama.
Dalam pandangan Munjid, tiga model studi agama tersebut bukan berarti yang satu lebih unggul daripada yang lain, sebab selain mempunyai tujuan yang berbeda, penerapan tiga model tersebut mempunyai konteks yang berbeda. Model monoreligius misalnya sangat efektif diterapkan di pesantren, seminari, dan semacamnya, karena bertujuan untuk mendalami agama yang dianut.
Dua model yang lain, yaitu model multireligius dan interreligius, sekilas tampak sama, namun memiliki perbedaan esensial. Kata kunci yang membedakan antara keduanya ialah adanya dialog. Model multireligius hanya memperkenalkan perbedaan masing-masing agama. Lebih dari itu, menurut Munjid, studi agama-agama model interreligius menuntut kesediaan seseorang untuk membuka diri dan menghargai pandangan agama lain, dengan cara mendialogkan perspektif agama yang dipelajari dengan perspektif agama yang dianut secara bergantian. Dalam proses dialog tersebut, masing-masing agama akan dikaji melalui proses dialektis “melihat” dan “dilihat”, “berbicara” dan “mendengar”, “internalisasi” dan “klarifikasi”, secara bergantian.
Studi agama model interreligius dapat mengurangi stigma atau pandangan negatif terhadap agama lain. Dalam model ini, seseorang harus mempertimbangkan perspektif agama yang sedang dipelajari tidak dengan pandangan agamanya sendiri. Stigma atau pandangan negatif terhadap agama lain terjadi karena ketidaktahuan terhadap titik berangkat perspektif yang berbeda dari masing-masing agama dan ketika seseorang mengukur keberagamaan orang lain melalui perspektif agamanya sendiri.
Misalnya, ketika seorang Muslim melihat ritual agama Hindu, ia lalu menilai bahwa pemeluk agama Hindu menyembah “patung” Siwa, Wisnu, Brahma, dan lain-lain. Prasangka semacam ini dapat muncul karena ia memahami agama Hindu melalui “perspektif Islam”: Tuhan berbeda dengan apapun dan tidak boleh atau tidak bisa dilukiskan dalam bentuk patung. Namun, berbeda halnya jika ia memahami cara beribadah agama Hindu melalui perspekti agama Hindu sendiri.
Diana L. Eck, dalam bukunya Darśan: Seeing the Divine Image in India, menjelaskan bagaimana umat Hindu India memaknai cara beribadah mereka. Dalam perspektif Hindu, objek patung atau gambar hanyalah media dalam ritual mereka dan bukan objek sesembahan itu sendiri. Dalam berkomunikasi dengan Tuhan, umat Hindu berkeyakinan bahwa mereka harus “melihat” dan “dilihat” oleh Tuhan yang disimbolkan dalam bentuk objek suci (sacred object). Umat Hindu India menyebut ritual ini dengan “darśan”. Bagi mereka, melihat (seeing) mempunyai makna religius yang mendalam. Dengan melihat, mereka dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam kesadaran (consciousness). Melihat juga bukan sekadar visualisasi pasif melainkan aktif, sebab melihat membutuhkan konsentrasi penuh untuk bisa seakan-akan “menggapai” dan “menyentuh”-Nya.
Bukan esensialisme agama
Studi agama model interreligius tidak bertujuan untuk mencari persamaan esensial dari semua agama, yang berujung pada kesimpulan bahwa “semua agama itu pada intinya sama”, baik sama-sama mengajarkan kebaikan maupun sama-sama memiliki satu konsep tertentu mengenai “Tuhan” betapapun teologinya bisa jadi berbeda-beda. Pandangan semacam itu dikemukakan oleh kalangan esensialis. Huston Smith, misalnya, dalam bukunya The World’s Religions, mengatakan bahwa semua agama menuju satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Ia mengibaratkatkan “kesatuan esensial agama-agama dunia” dengan gunung: meskipun berangkat dari sisi yang berbeda, umat beragama menuju satu puncak yang sama.
Pandangan esensialisme ini dikritik oleh Stephen Prothero dalam bukunya God is Not One (2010). Menurutnya, meskipun memiliki tujuan yang baik, yakni untuk menjembatani dialog guna meredam konflik antarumat beragama, pandangan esensialis terhadap agama ini justru menghindarkan seseorang dari memahami keunikan tiap agama dan, lebih buruk dari itu, kadang membuat satu agama tertentu diteropong melalui konstruksi teologis agama lain yang lebih besar atau mendominasi. Prothero menyebut pandangan esensialis semacam ini dengan “pretend pluralism”, pandangan yang justru menutup mata terhadap partikularitas setiap agama.
Menurut Prothero, kita harus mula-mula memahami agama-agama dari perspektif masing-masing agama itu sendiri. Dalam nada yang retoris, Prothero mempertanyakan: Jika benar bahwa semua agama menuju satu puncak yang sama, bagaimana dengan agama-agama yang tidak mengenal konsep tentang Tuhan, seperti Buddhisme, Taoisme dan Konfusianisme? Bagi Prothero, sikap toleran antarumat beragama meniscayakan pada dirinya akan adanya perbedaan, sebab jika semua agama sama, manakah yang harus ditoleransi?
Mengkaji agama-agama secara interreligius berarti bersedia untuk tidak menggunakan kacamata dari agama sendiri dalam menilai agama lain. Ini bukan untuk merelatifkan agama, apalagi untuk mendangkalkan iman, melainkan untuk membuat agama-agama yang dipelajari berbicara melalui perspektifnya sendiri, sebab satu hal dasar yang pertama-tama harus disadari setiap pengkaji agama ialah bahwa agama-agama mempunyai keunikan dan partikularitasnya masing-masing.
*Afifur Rochman Sya’rani adalah mahasiswa CRCS angkatan 2017.

Tags: god is not one interreligius Pluralisme Studi Agama

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY