• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Artikel
  • Menguji the Clash of Civilizations Samuel P. Huntington

Menguji the Clash of Civilizations Samuel P. Huntington

  • Artikel
  • 8 November 2011, 00.00
  • Oleh:
  • 1

Zainal Abidin Bagir | CRCS

Pada akhir 1980-an, dunia sedang memasuki politik tahap baru pasca meredanya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ciri yang cukup mengemuka kala itu adalah kehadiran “The End of History” Francis Fukuyama yang menyatakan Demokrasi Liberal Barat sebagai bentuk akhir dari evolusi sosial, kultural dan pemerintahan di dunia dan terjerembabnya nation state dalam tarikan tribalisme dan globalisme. Pecahnya Uni Soviet yang menandakan berakhirnya Perang Dingin membuat Amerika Serikat membutuhkan panduan baru untuk membaca situasi dunia ke depan. Salah satu pemikiran yang mendapatkan perhatian pengambil kebijakan di Amerika Serikat adalah artikel Samuel P. Huntington’s pada tahun 1993 dengan judul “The Clash of Civilizations” di Foreign Affairs journal.

Huntington menyatakan, “It is my hypothesis that the fundamental source of conflict in this new world will not be primarily ideological or primarily economic. The great divisions among humankind and the dominating source of conflict will be cultural…. the principal conflicts of global politics will occur between nations and groups of different civilizations. The clash of civilizations will dominate global politics. The fault lines between civilizations will be the battle lines of the future.” Lewat hipotesisnya, Huntington mencoba menawarkan paradigma baru dalam melihat dunia. Ia melihat ada 7 peradaban yang akan mewarnai persaingan global: Western, Latin American, Confucian, Japanese, Islamic, Hindu dan Slavic-Orthodox.

Professor of the Science of Government Harvard University ini memprediksikan akan terjadi konflik di level makro antara negara-negara dari peradaban yang berbeda dalam mengontrol institusi internasional, ekonomi global dan kekuatan militer. Tesis Huntington ini sering dijustifikasi kebenarannya lewat peristiwa mengemparkan 11 September 2001.

Akan tetapi oleh pemikir-pemikir kenamaan lainnya, the Clash Civilizations ala Huntington ini mendapat kritik keras. Tariq Ali misalnya,mempersoalkan kategorisasi peradaban Huntington yang cenderung statis dan monolitik. Padahal peradaban sendiri memiliki komplekstitas dan berbagai perbedaan antar pendukungnya. Oleh karena itu, tokoh yang dikenal keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat ini lebih cenderung melihat kepada benturan unsur-unsur fundamentalis pada peradaban-peradaban yang ada.

Dari perspektif yang berbeda, Edward Said turut mengkritik pandangan Huntington. Pakar orientalisme ini berpendapat bahwa peradaban bukanlah kotak tertutup. Sejarah memaparkan secara jelas dinamika interaksi, pertukaran, dan saling pinjam antar peradaban. Sehingga paradigma Huntington justru tidak membantu memahami realitas yang ada, meskipun mampu “memberi perspektif” kongkret dan praktis. Selain itu, Said melihat perspektif Huntington memberikan porsi signifikan terhadap Islam sangat dipengaruhi memori lama tentang pertentangan Muslim dan Eropa, khususnya persaingan Abramistic Religions. Menurutnya, benturan antar peradaban tak lebih dari bahasa baru untuk mengungkap (seleksi) sejarah, bukan untuk memahami kesalingbergantungan yang terus berlangsung sampai saat ini.

Belum cukup sampai di situ, masih ada Martha Nussbaum yang turut menunjukkan kelemahan tesis Huntington. Bagi Martha, “The real clash is not a civilizational one between “Islam” and “the West,” but instead a clash within virtually all modern nations—between people who are prepared to live with others who are different, on terms of equal respect, and those who seek the protection of homogeneity, achieved through the domination of a single religious and ethnic tradition.” Yang jadi sumber perbenturan menurut Professor of Law and Ethics University of Chicago ini adalah pertentangan antara kehendak menguasai dengan kehendak untuk hidup bersama dalam kesetaraan.

Posisi kontra Huntington juga dapat temui pada pandangan Dominique Moisi. Ilmuan politik dari Perancis ini cenderung melihat pertentangan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor psikologis: balutan ketakutan, keterhinaan, dan harapan, Ketakutan Dunia Barat, keterhinaan Dunia Muslim dan harapan sebagian besar negara-negara di Asia. Oleh karena itu, diperlukan upaya menghilangkan ketakutan yang tak berdasar, menciptakan kesetaraan (menumbuhkan martabat) agar melenyapkan rasa keterhinaan, dan terus berusaha mewujudkan masa depan yang penuh harapan dengan semangat perdamaian.

Untuk menciptakan solidaritas global harus dimulai dari upaya saling mengenal. Hal lain yang sangat penting adalah mengenali “musuh bersama” dan problem-problem bersama. Demo anti Perang AS atas Irak menjadi sinyal positif bagi peluang kerjasama antar orang-orang yang punya semangat menciptakan kerukunan dari berbagai belahan dunia. Dalam batas-batas tertentu, upaya inilah yang sedang dilakukan CRCS UGM untuk mewujudkan situasi dunia baru yang lebih harmonis dengan semangat mencari sekutu di antara “musuh” lama. (GUN)

(Dinarasikan dari slide powerpoint yang disampaikan oleh Dr. Zainal Abidin Bagir pada Diskusi “Great Thinkers” Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, 31 Oktober 2011)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Comment (1)

  1. Dhani 9 years ago

    Tetap tidak pernah mau jujur, teori Samuel P Huntington terbukti kan? Anda lihat Arab Spring, menambah semakin derasnya pengungsi ke daratan Eropa dengan harapan hidup yg lebih baik. Bagaimana jika harapan itu tidak terpenuhi? mulai terjadi polarisasi yang partikular, atas dasar budaya dan agama. Terjadi pertikaian karena pendatang yang jelas tidak bisa beradaptasi karena dasar partikularitas tadi. Lihat London, pendatang dari luar mulai membentuk daerah yang berbasis Syariah, mulai ada “polisi” syariat. Resistensi sudah memuncak dikalangan penduduk lokal, clash sangat mungkin terjadi.

    Reply

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY