• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Alumni
  • Paradigma yang 'Open Minded' dan Sebuah Dialog Kehidupan

Paradigma yang 'Open Minded' dan Sebuah Dialog Kehidupan

  • Berita Alumni
  • 2 November 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

“Paradigma yang open-minded. Mungkin CRCS tidak memberikan semua ilmu, tapi CRCS memberikan paradigma tentang ke mana harus melangkah.” Demikian jawaban dari Izak Y. M. Lattu, alumni CRCS angkatan 2000, ketika ditanyakan mengenai kontribusi CRCS terhadap pekerjaannya saat ini. Laki-laki yang kerap disapa dengan nama “Chaken” ini bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, serta menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprogdi).

 

Selama masa kuliahnya di CRCS, Izak menemukan berbagai hal yang menguntungkan dirinya secara pribadi dan mahasiswa lainnya. Menurutnya, sekat-sekat agama sewaktu kuliah mencair dan hal itu memudahkannya untuk dapat belajar tentang agama lain. Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keuntungan yang tidak dapat dilupakannya pula, termasuk membangun jaringan nasional dan internasional.

 

Laki-laki yang berasal dari Maluku ini juga menceritakan tentang pengalaman kuliah di CRCS yang membuatnya terkesan sampai saat ini. Menurutnya, perkuliahan dengan Muhammad Ayoub adalah salah satu perkuliahan yang sangat menarik dan membangun paradigmanya. “Kalau belajar tentang agama lain, kita harus belajar dengan hati, bukan belajar untuk mencari kesalahan dan membangun debat, tetapi mencari pemahaman untuk membangun dialog,” jelas Izak mengenai perkataan dari Muhammad Ayoub yang masih diingatnya. “Dialognya dialog kehidupan, bukan hanya chit-chat,” tambahnya.

 

Selain disibukkan dengan perkuliahan dan pengorganisasian program studi yang dipimpinnya, Izak juga sedang menjalankan penelitian pribadinya mengenai “Java-Muslim Migrant and Emotional Identity in the Midst Moluccan Christian Hosts” di pulau Seram, Ambon. Penelitiannya ini tidak lepas dari minatnya terhadap kajian agama dan budaya, serta agama dan konflik. Hal ini pula yang memotivasinya untuk berencana melanjutkan program S3 pada tahun 2010 atau 2011 nanti.

 

Aktifitas-aktifitas bersifat praktis juga dijalankan oleh Izak dalam koridor paradigma yang dimaksudkannya diatas. Ia bersama rekan-rekannya menggiatkan Forum Antar Iman dan Solidaritas Sosial (FAISAL) di Salatiga. Ia turut mengarahkan mahasiswanya untuk mengalami langsung pembelajaran dengan penganut agama lain, terutama umat Muslim. Izak memulainya dengan membawa mereka belajar di Pondok Pesantren Adi Mancoro, Salatiga, untuk mata kuliah “Agama Islam” yang diampunya. “Mereka belajar tentang membangun hubungan antar-agama, untuk membangun mutual-understanding,” jelas Izak. (JMI)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

vasudaiva kutubakam selamat menghayati catur brat vasudaiva kutubakam

selamat menghayati catur brata nyepi
SUAR(U)A(NG) Di antara gema takbir dan sunyi nyepi SUAR(U)A(NG)
Di antara gema takbir dan sunyi nyepi, kita belajar satu hal yang jarang diakui: yang sakral tidak selalu saling memahami. Di titik itu, iman tidak hanya soal percaya, tetapi juga soal berbagi ruang. Rahajeng lailatul nyepi.
NYALI Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang me NYALI
Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang meledak-ledak. Seolah ia hadir dalam bentuk teriakan, gebrakan meja, atau keberanian untuk menantang secara dramatis. Padahal, nyali justru seringkali bersembunyi di tempat yang sunyi, pada sebuah jeda yang membuat seseorang terus berjalan dalam iman dan keadilan. Seperti para pemuka agama yang ditukil dan didongengkan oleh @nf_nuzula , Melalui sosok-sosok tersebut, nyali menemukan bentuknya yang hakiki: keberpihakan. Nyali merekalah yang membuat nyala agama tetap ada di hati rakyat dan mereka yang tertindas.
M E R A H Merah itu mencolok, laiknya luka yang ta M E R A H
Merah itu mencolok, laiknya luka yang tak sempat disembunyikan. Salib-salib merah suku Awyu berdiri di tanah yang hendak dirampas. Ia menjadi tanda bahwa ada yang sedang dipertahankan, sekaligus yang perlahan coba dihilangkan. Merah bukan sekadar warna iman. Ia berubah menjadi bahasa tentang kehilangan, tentang klaim atas ruang, dan tentang ingatan yang menolak dihapus diam-diam. 
Simak ulasan @tropicalboi tentang perlawanan masyarakat adat Awyu melalui kreativitas beragama, hanya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY