• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Artikel
  • Pelajaran dari Sang Walikota dan Sang Imam

Pelajaran dari Sang Walikota dan Sang Imam

  • Artikel
  • 5 April 2011, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Oleh:

Gde Dwitya Arief

Mahasiswa CRCS Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Angkatan 2009

 

 

Artikel ini mengulas laporan “The Foreign Policy” tentang 100 Pemikir Top Internasional tahun 2010 yang mencantumkan nama Walikota New York, Michael Bloomberg dan Imam Feisal Abdul Rauf.

 

Michael Bloomberg adalah walikota New York City berdarah Yahudi.Feisal Abdul Rauf merupakan imigran Kuwait yang kemudian menjadi Imam di AS. Mereka telah membuka cakrawala dunia bahwa Muslim merupakan bagian dari Amerika dan Islam tidak menyerang Barat.

 

Keduanya merupakan tokoh penting dalam melawan stigma yang dilekatkan pada Islam setelah serangan teroris di World Trade Center. Mereka percaya bahwa bukan Islam yang menyerang Amerika. Itu hanyalah sekelompok kecil orang yang tidak puas, kemudian mengatakan diri mereka mewakili Islam.

 

Bloomerg dan Rauf mengajak kita untuk menolak menyerah pada logika yang disahkan oleh teroris, dan beralih pada pandangan bahwa Islam memiliki nilai-nilai damai yang perlu didukung dan dipromosikan.

 

Awal abad ke-21, di mana dunia dihantam gelombang pesimisme terhadap kemungkinan masyarakat multikultural yang begitu kuat, sikap Bloomberg dan Rauf membawa optimisme baru bagi hubungan antara agama, negara dan hak asasi manusia.

 

Baca selengkapnya:

  • http://www.thejakartaglobe.com/commentary/lessons-from-the-mayor-and-the-imam/409903

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

vasudaiva kutubakam selamat menghayati catur brat vasudaiva kutubakam

selamat menghayati catur brata nyepi
SUAR(U)A(NG) Di antara gema takbir dan sunyi nyepi SUAR(U)A(NG)
Di antara gema takbir dan sunyi nyepi, kita belajar satu hal yang jarang diakui: yang sakral tidak selalu saling memahami. Di titik itu, iman tidak hanya soal percaya, tetapi juga soal berbagi ruang. Rahajeng lailatul nyepi.
NYALI Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang me NYALI
Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang meledak-ledak. Seolah ia hadir dalam bentuk teriakan, gebrakan meja, atau keberanian untuk menantang secara dramatis. Padahal, nyali justru seringkali bersembunyi di tempat yang sunyi, pada sebuah jeda yang membuat seseorang terus berjalan dalam iman dan keadilan. Seperti para pemuka agama yang ditukil dan didongengkan oleh @nf_nuzula , Melalui sosok-sosok tersebut, nyali menemukan bentuknya yang hakiki: keberpihakan. Nyali merekalah yang membuat nyala agama tetap ada di hati rakyat dan mereka yang tertindas.
M E R A H Merah itu mencolok, laiknya luka yang ta M E R A H
Merah itu mencolok, laiknya luka yang tak sempat disembunyikan. Salib-salib merah suku Awyu berdiri di tanah yang hendak dirampas. Ia menjadi tanda bahwa ada yang sedang dipertahankan, sekaligus yang perlahan coba dihilangkan. Merah bukan sekadar warna iman. Ia berubah menjadi bahasa tentang kehilangan, tentang klaim atas ruang, dan tentang ingatan yang menolak dihapus diam-diam. 
Simak ulasan @tropicalboi tentang perlawanan masyarakat adat Awyu melalui kreativitas beragama, hanya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY