• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • News
  • Ekowisata untuk Pelestarian Ekologi Adat

Ekowisata untuk Pelestarian Ekologi Adat

  • News
  • 13 April 2018, 14.37
  • Oleh: ardhy_setyo
  • 0

Ekowisata untuk Pelestarian Ekologi Adat

Linah Khairiyah Pary – 13 April 2018

“Wisatawan datang untuk menikmati adat istiadat, keasrian, dan keindahan hutan kami, tetapi  mewariskan ‘sampah’ di atas tanah kami” —masyarakat adat Ammatoa.

Menjadikan lingkungan masyarakat adat sebagai tempat pariwisata menyisakan efek samping tersendiri, yakni keberadaan para wisatawan yang belum sadar akan pentingnya pelestarian dan keasrian lingkungan adat bagi masyarakat yang mendiaminya. Hal ini telah menimpa masyarakat adat Ammatoa Kajang, Sulawesi Selatan. Dalam kerangka persoalan yang demikian ini, maka Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Kelompok Sadar Ekowisata” di University Club UGM pada Kamis, 9 April 2018.

Disamping perwakilan masyarakat adat Ammatoa, lokakarya ini turut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Bulukumba, Andi Misbawati Wawo; Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bulukumba, Muh. Ali Saleng; dan jajaran staf dinas terkait dari Kabupaten Bulukumba. Lokakarya ini merupakan rangkaian kegiatan dari penelitian “Ekowisata untuk Pelestarian Ekologi Adat dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas di Masyarakat Adat Ammatoa Kajang”. Penelitian ini diketuai oleh dosen CRCS UGM,  Dr. Samsul Maarif, bersama Prof. Dr. IGP Suryadharma (ahli Etnobotani UNY) dan Dr. Muhammad (dosen Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM) dan dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Penelitian (LPDP) Kementerian Keuangan selama dua tahun (2018-2019).

Dalam sambutannya, Dr. Zainal Abidin Bagir selaku Kaprodi CRCS UGM mengatakan bahwa CRCS  telah lama memiliki perhatian serius terkait isu masyarakat adat. Di samping menawarkan mata  kuliah terkait agama dan budaya lokal, CRCS juga menerbitkan buku-buku yang berhubungan dengan masyarakat adat dan terlibat aktif dalam mengadvokasi masyarakat adat. Dalam hal ini, Dr. Bagir mengutarakan, ekowisata merupakan salah satu metode advokasi dan pemberdayaan masyarakat adat. Dalam kegiatan ini, CRCS sebagai lembaga pendidikan tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga secara langsung terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, khususnya terhadap masyarakat adat.

Sejak awal, CRCS UGM merancang program ekowisata di masyarakata adat Ammatoa dengan pendekatan lintas disiplin ilmu. Kelompok peneliti yang berlatarbelakang disiplin ilmu yang berbeda bekerja sama mengupayakan rancangan yang menyeluruh. Karena inilah CRCS UGM juga menggandeng Lembaga Adat Ammatoa Kajang (LAAK), Dispar, dan DLHK Bulukumba, Sulawesi Selatan, sebagai mitra.

Lokakarya ini bertujuan untuk merumuskan materi capacity building dan metode pelatihan partisipatif yang efektif, termasuk sinergitas antara program riset CRCS UGM dan program-program dari dinas-dinas terkait di pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Rumusan tersebut nantinya akan dituangkan dalam modul pelatihan. Di antara materi yang dirumuskan adalah ekologi adat, khususnya terkait masyarakat adat Ammatoa. Ekologi adat, sebagai basis utama ekowisata, dikaji, didiskusikan dan didialogkan dengan sains dan kebijakan pemerintah terkait lingkungan. Selain itu, materi juga mencakup sejarah komunitas adat, pengakuan adat Ammatoa dalam peraturan daerah, ekowisata sebagai strategi pemberdayaan, dan lain sebagainya.

Lima belas orang dari komunitas adat Ammatoa dan 10 perwakilan dinas-dinas dan swasta akan dilibatkan dalam pelatihan ini. Mereka adalah kelompok utama yang merancang program, menjalankan, dan mengembangkannya. Dua puluh lima peserta pelatihan akan dibagi dalam 5 kelompok dengan fokus program berupa pengelolaan sarung adat, pengelolaan sampah, seni tradisi, tata kelola (koperasi), dan tata ruang ekowisata. Kelima program tersebut bertumpu pada penelitian dasar (baseline research) yang dilakukan sebelumnya pada tanggal 6-9 April oleh kelompok peneliti.

Kelima program ini dipilih dengan pertimbangan makin mendesaknya persoalan tersebut untuk diselesaikan. Produksi sarung adat, misalnya, masih belum cukup memenuhi kebutuhan ritual masyarakat adat, padahal telah dianggarkan oleh Dispar. Sampah, yang dibuang sembarangan oleh para wisatawan dan dikeluhkan banyak orang Ammatoa, juga harus mendapat perhatian serius.

elain materi dan metode pelatihan, workshop ini juga menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut  yang akan dilaksanakan oleh dua dinas peserta lokakarya. Kepala Dinas Pariwisata, Muh. Ali Saleng, mengatakan bahwa pihaknya segera membangun “sentra ekowisata”, tempat dan pusat kegiatan kelompok-kelompok di atas. Sementara DLHK akan melakukan penanaman tanaman murbei untuk pakan ulat sutra sebagai bahan baku untuk memproduksi sarung tenun. Menurut Kadis DLHK, Andi Misbawati Wawo, pada tahun 70-an, wilayah Kajang pernah menjadi sentra produksi kain sutra. Penanaman tanaman murbei ini akan menghidupkan kembali produksi sarung sutra yang secara tidak langsung akan berdampak pada pemberdayaan dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat adat. Romlah, selaku warga masyarakat adat Ammatoa dan sekaligus Kepala Dusun di Desa Tanah Toa mengatakan bahwa pemasaran sarung tenun saat ini mengalami kendala dikarenakan mahalnya bahan baku dan tingginya biaya produksi. Budidaya murbei ini akan mendekatkan bahan baku sehingga biaya produksi dapat ditekan, dan harga sarung tenun (adat) dapat lebih bersaing.

Lokakarya tersebut juga memutuskan bahwa aktivitas pembangunan sentra kerajinan dan pengelolaan desa ekowisata akan dilaksanakan di Kawasan Luar masyarakat adat Ammatoa. Daerah Ammatoa terbagi dua: Kawasan Dalam, yakni  area “inti” di mana hal-hal baru dari luar tak boleh masuk; dan Kawasan Luar. Pembagian kawasan tersebut telah berhasil menjaga kelestarian adat dan lingkungan masyarakat adat Ammatoa.

Dr. Samsul Maarif selaku ketua peneliti menyampaikan rasa haru dan bangga dengan kehadiran Kadis Pariwisata dan Kadis LHK Kebupaten Bulukumba dalam merancang kegiatan ini. Desa ekowisata Ammatoa akan dijadikan proyek percontohan (pilot project) bagi desa-desa lain di Bulukumba, atau bahkan di Sulawesi Selatan secara umum. Kerja sama dan komitmen pelbagai elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program ini.

Tags: ekowisata masyarakat adat

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY