• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Wawancara
  • Patrick Guiness: Kampung, Anak Muda dan Islam di Jawa Urban

Patrick Guiness: Kampung, Anak Muda dan Islam di Jawa Urban

  • Wawancara
  • 17 October 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

[perfectpullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=”13″]”Patrick Guiness adalah antropolog yang pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1970 an. Tulisan etnografinya yang paling mengesankan adalah “Five Families on Sand Diggers” (lima keluarga penggali pasir), bercerita mengenai kehidupan penggali pasir di Kali Code, Yogyakarta di tahun 1977. Tulisan bersifat life history inilah yang kemudian menjadi disertasinya dan menghantarkannya meraih gelar PhD. Patrick juga menulis tentang orang-orang gelandangan di Yogyakarta. Tak lama setelah itu, ia menerbitkan buku tentang ‘Kampung: Harmony and Hierarchy in a Javanese Kampung’ (1986). Buku ini sangat menaruh simpati dan pembelaan terhadap masyarakat Kampung Ledok, yang tinggal di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Keteguhan Patrick sebagai “antropolog sejati” yang membela rakyat kecil terus berlanjut dengan kembali ke Kampung Kali Code pada tahun 1999. Kali ini ia bermaksud melihat proses perubahan warga kampung Ledok pasca keruntuhan Orde Baru.”[/perfectpullquote][perfectpullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=”13″]”Saya mewawancari Patrick Guiness secara singkat di sebuah workshop ‘Growing Up in Indonesian: Experience and Diversity in Youth Transitions’ di kampus Australian National University. Wawanca berlanjut pada sebuah peluncuran buku terbarunya ‘Kampung, State and Islam in Urban Java’ (2009) di Asian Book, Canberra. Di dua tempat ini, Patrick Guiness berbincang tentang penelitiannya di sebuah kampung bernama Ledok, bagaimana masyarakat di sana bernegosiasi dengan konsep ruang dan perubahan sejarah dalam merespon perubahan politik, ekonomi dan sosial secara lebih luas.”[/perfectpullquote]

CRCS: Apa perbedaan antara karya anda tentang kampung dengan karya-karya para sarjanawan lainnya yang juga mendiskusikan tentang kampung, seperti John Sullivan tentang sebuah kampung juga di Yogyakarta, Jellinek di Jakarta dan bahkan Clifford Geertz di sebuah kampung di Pare?

Patrick: Di bab pertama dari buku terbaru saya, saya banyak melakukan diskusi dengan para sarjanawan tersebut. Ada beberapa sarjanawan kunci dimana dua diantaranya adalah orang Australia yang menulis tentang sistem ketetanggaan masyarakat urban, pada waktu yang sama saya juga melakukan hal tersebut. Hal yang sangat menarik pula bahwa John Sullivan ada di kampung sebelah pada waktu itu, dan kami saling berkunjung dan berdiskusi tentang hal-hal yang mendetail. Hal ini merupakan hal yang paling menantang selama bertahun-tahun dalam pengalaman saya. Penelitian ini bukanlah sebuah kesimpulan, karena banyak hal atas apa yang mereka lihat, namun saya tidak melihatnya. Mungkin juga pada satu sisi saya yang benar dan mereka salah di sisi lain dan seterusnya. Hal ini menyadarkan saya bahwa kita bisa melihat sebuah fenomena yang sama, namun dilihat dari cara-cara yang berbeda. Kita juga dapat melakukan studi pada dua komunitas, di dua kampung dalam kota yang sama, namun realitas mereka bisa sangatlah berbeda. Di kasus-kasus seperti di atas inilah yang terjadi pada penulisan buku saya. Ada sebuah debat besar pada buku terbaru saya. Saya menemukan tantangan pada berbagai ide-ide para sarjanawan yang melihat komunitas ketetanggaan secara sederhana merupakan konstruksi dari negara. Mereka mengatakan bahwa komunitas kampung yang ditelitinya di tengah perkotaan adalah hasil dari sebuah pengaturan dari negara. Negara telah mengorganisir pada berbagai aspek kehidupan, khususnya sistem kesejahteraan, karena itu sebenarnya penduduk lokal hampir tidak dapat menciptakan kesejahteraan sosial mereka sendiri. Saya mendebat pendapat-pendapat ini di buku saya, karena saya tidak percaya bahwa komunitas kampung dalam kota tersebut, khususnya di wilayah yang saya teliti adalah sebuah komunitas yang menekankan kehidupan dan kesejahteraan dari dalam masyarakat itu sendiri.

CRCS: Bagaimana kondisi tentang anak muda di kampung Yogyakarta yang anda teliti tersebut?

Patrick: Mereka adalah kelompok yang sangat aktif, karena terlibat dalam beberapa kegiatan dan acara. Pada satu sisi keagamaan, mereka yang Katolik ikut aktif dalam kegiatan koor (paduan suara) dan mereka yang muslim terlibat aktif di kegiatan pengajian. Di kampung ini juga terdapat keterlibatan aktif anak muda dalam segala kegiatan.

CRCS: Apa peranan anak muda di kampung tersebut?

Patrick: Di kampung Ledok, ada seksi pemuda, dan RT/RW yang pada umumnya anak muda sendiri yang akan mengurus aktivitas organisasi-organisasi tersebut. Seksi Pemuda misalnya, didukung oleh beberapa komunitas lainnya. Masyarakat melihat bahwa pemuda adalah sebuah elemen penting dalam kehidupan komunitas kampung. Demikian pula, di awal-awal kedatangan saya, pemuda juga memainkan peranan dalam mengatur berbagai berita-berita mengenai komunitas dan kelas-kelas bahasa Inggris. Belakangan ini, mereka secara aktif juga terlibat dalam menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan. Mereka juga aktif dalam kegiatan pos ronda. Anak muda menjadi tonggak sekuriti di wilayah ketetanggaan mereka. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh pemuda, namun juga oleh anak-anak muda yang telah menikah.

CRCS: Bagaimana anak-anak muda ini bernegosiasi dengan anak muda kampung yang relijius, bahkan fundamentalis?

Patrick: Ini adalah aspek yang sangat penting, karena di tahun 1970 an ketika saya masih baru berada disana, anak-anak muda yang bergerak di dunia spiritual melakukan meditasi di samping sungai dan menganggap dirinya dimasuki oleh roh-roh penuh kekuatan. Namun di masa kini, ada aktivitas yang sangat kuat dengan melibatkan sejumlah beberapa pemuda di terlibat di berbagai kegiatan di masjid-masjid kecamatan. Karena ketika pertama kali saya datang, ada banyak anak muda yang berdoa di masjid yang masih jarang, namun saya tidak yakin kalau mereka juga melakukannya di rumah. Dengan demikian, aktivitas anak muda Muslim di kampung berkembang sangatlah pesat. Kebanyakan dari aktivitas keagamaan ini dipimpin oleh orang yang berasal dari luar kampung. Mereka juga menjadikan anak-anak muda ini murid dengan menawarkan tempat kos gratis untuk menjalankan aktivitas-aktivitas ke-Islaman, namun rata-rata para remaja-nya (adolescence) tidak tertarik dengan kegiatan ini. Kebanyakan yang lebih terlibat dalam aktivitas keagamaan adalah anak-anak dan ibu-ibu, dibanding anak-anak muda yang seperti saya sebutkan diatas. Mereka juga tidak punya aktivitas pengajian yang rutin dan mereka tidak tertarik dengan dunia semacam itu.

CRCS: Bagaimana anda melihat anak-anak muda ini bernegosiasi dengan isu-isu kependudukan? Karena kebanyakan dari penduduk di kampung semacam Ledok ini, mempunyai rumah, tapi tidak mempunyai tanah?

Patrick: Banyak penduduk yang tinggal tidak di tanah mereka sendiri, banyak diantara mereka yang menyewa, dan mereka akan meninggalkannya pada suatu waktu dan menggali tanah lainnya untuk mendirikan rumah kembali, namun hal ini tidak menjadi mengganggu isu kependudukan antar warga kampung. Karena siapa saja yang tinggal di kampung adalah warga anggota masyarakat Kampung. Dan semua aktivitas kampung yang besar juga melibatkan anak muda seperti kegiatan arisan, simpan pinjam dan berbagai aktivitas lainnya. Dengan demikian, isu mengenai kependudukan bukanlah isu besar. Isu kependudukan yang paling utama pada awal kedatangan orang-orang kampung ini adalah mereka yang tinggal di seberang sungai dan orang-orang yang tidak mempunyai tanah dan permasalahan demarkasi teritori kampung. Warga kampung ini tidak didemarkasikan ke dalam bagian dari kecamatan secara legal.

CRCS: Ok terima kasih banyak Pak Patrick

Hingga kini Patrick Guiness aktif sebagai pengajar di jurusan Antropologi, Australian National University, Canberra. Pada tahun 1980-an, Patrick pernah mengajar di jurusan antropologi UGM selama 3 tahun dan menjadi staf PSKK (Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan)-UGM. (HAK)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY