• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • "Hubungan Antar Agama di Tamilnadu," Valliamal Baskaran

"Hubungan Antar Agama di Tamilnadu," Valliamal Baskaran

  • Berita Wednesday Forum
  • 22 September 2010, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Pada tanggal 28 April 2010, pembicara dalam forum mingguan CRCS-ICRS, Wednesday Forum, adalah Dr M. Valliammal Baskaran yang berbicara tentang “Hubungan Antar Agama Kuno Tamilnadu” Sedangkan Maufur Ipung, koordinator akademik ICRS, bertindak sebagai moderator.

Sebelum melanjutkan ke inti presentasinya, Valiammal menunjukkan peta India pertama untuk menunjukkan wilayah Tamilnadu kepada para audiens. Menurutnya, selama umur Sangam (300 SM – 300 M), ada tiga agama inti di sana: agama Veda, agama Adat, dan agama Shramanic – yang mengacu kepada Jainisme, Buddhisme, dan lain-lain. Valiammal mengatakan bahwa selama masa tersebut tiga agama utama ini eksis hingga akhir Zaman Sangam.

Valiammal melanjutkan bahwa tidak ada konflik antara mereka dan tidak ada bukti konflik pada masing-masing pemeluk agama. Untuk mendukung penelitiannya, Valiammal menunjukkan alasan mengapa tidak ada konflik agama di Era Sangam. Masyarakat cukup akomodatif, mereka mempunyai visi besar “every village as their village and every people as their relative/kin person,” mereka juga masih memiliki tradisi eklektik, misalnya Tirukkural, Silappadikaram, Manimekalai. Raja juga membangun kuil untuk dewa-dewa yang berbeda dan dilindungi.

Selama periode ini, raja-raja sendiri mempromosikan hubungan antar-agama, mereka mendorong perdebatan yang sehat dan diskusi di antara para pengikut agama yang berbeda dan mendorong mereka untuk menghormati prosedur yang harus diikuti dalam debat di ruang publik. Mereka juga menyarankan untuk menghindari segala bentuk konflik, kemarahan, bahkan dengan musuh untuk tidak berkonfrontasi dalam menanggapi perbedaan pendapat dan pandangan. Perbedaan doktrinal di antara orang-orang diperlakukan dengan saling menghormati.

Valiammal mengatakan bahwa penyebab konflik agama adalah perbedaan doktrinal, klaim terhadap kebenaran absolut, semangat misionaris dan upaya penyebaran agama (yang dilakukan secara terorganisir oleh orang-orang Saivite dan pemimpin Vaisnava), ketakutan terhadap pola misionaris dari luar dan rasa tidak aman, kesalahpahaman, prasangka, dan stereotip, faktor ekonomi dan politik (kompetisi untuk memenangkan patronase kerajaan), dan institusionalisasi agama Hindu.

Valiammal melanjutkan presentasinya pada perubahan yang terjadi setelah tahun 800 setelah masehi. Jainisme secara bertahap mulai untuk muncul kembali, patung Jainisme kembali dipugar dan kuil dibangun. Orang-orang dan badan-badan pemerintah lokal melakukan inisiatif dalam mengawali pembangunan ini dan kemudian raja juga memberikan sumbangan secara bebas untuk candi Jainisme, tapi pembangunan tersebut tidak terjadi dalam kasus agama Buddha kecuali mereka hanya diberi subsidi yang sangat kecil.

Selama forum terbuka, seolah-olah audiens terpesona, enggan untuk mengangkat tangan mengajukan pertanyaan. Namun setelah sedikit persuasi dari moderator, beberapa tangan terangkat. Pembicara menjawab pertanyaan dengan baik dan mendapat respon positif dari peserta. Forum ini berakhir tepat pukul 14:30 dengan putaran tepukan hangat untuk Valiammal. Dr M. Valliammal Baskaran adalah profesor Departemen Sejarah di Lady Doak College di Madurai, Tamilnadu, India. Beliau saat ini tinggal di Yogya sebagai fellow di ICRS-Yogya.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY