• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • CRCS & ICRS WEDNESDAY FORUM: "Pemberitaan Media terhadap Perempuan di Daerah Konflik: Studi Kasus di Poso, Indonesia"

CRCS & ICRS WEDNESDAY FORUM: "Pemberitaan Media terhadap Perempuan di Daerah Konflik: Studi Kasus di Poso, Indonesia"

  • Berita Wednesday Forum
  • 14 February 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Kami mengundang Anda untuk bergabung dalam Wednesday Forum minggu ini dan berdiskusi tentang “Pemberitaan Media akan Perempuan di Daerah Konflik: Studi Kasus di Poso, Indonesia”. Elis Zuliati Anis, M.A. sebagai pembicara dalam forum ini. Informasi lebih lanjut dapat dibaca di bawah ini:

Tanggal: Rabu, 18 Februari 2009
Waktu: 12.30 – 14.30 WIB (Makan Siang Gratis)
Tempat: Ruang 306, Sekolah Pascasarjana UGM, Teknika UtaraPogung, YKT
Pembicara: Elis Zuliati Anis, M.A.

Abstrak:

This research will analyze how the local newspapers inPalu, Central Sulawesi portrayed women duringthe Poso conflict (1998 2003). Thepresent argument is that women in conflict reporting are often depicted aspassive victims, such as in the case of sexual harassment, rape, and murder.The womens effort in peace building and their effort as an active agent of thefamily survival were rarely covered by the media. My previous research onFraming conflict news in Poso (2005) indicated that womens perspective inthe local media was often ignored, while mens view dominated the news. Theresearch also concluded that the local media often used provocative languageand images in describing the conflict news. The conflict news obviously had abias reporting, both in terms of religious affiliation and gender perspective.This can be explained that the local journalists during the conflict had lessunderstanding or skill in peace reporting and gender viewpoint. In addition,the local journalists were part of the victims and had difficulties to avoidtheir personal perspectives.

Sekilas tentang Pembicara:

Elis Zuliati Anis obtained her M.A. inCommunication from Ohio University, U.S.A andCRCS UGM. She is currently working as the Office Manager of ICRS-Yogya. Hermain research interests include Media and Conflict Resolution, Gender andMedia, Communication and Development, Participatory Communication, and InterReligious Dialogue.

Registrasi:

Forum ini tidak memungut biaya apapun dan terbuka untuk umum. Apabila Anda ingin menjadi pembicara dalam Wednesday Forum, silakan menghubungi kontak kami di bawah ini.

Contact person:

Maufur ipung(ICRS): maufur_nd@yahoo. com;MustaghfirohRahayu (CRCS): mth.rahayu@gmail. com

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

vasudaiva kutubakam selamat menghayati catur brat vasudaiva kutubakam

selamat menghayati catur brata nyepi
SUAR(U)A(NG) Di antara gema takbir dan sunyi nyepi SUAR(U)A(NG)
Di antara gema takbir dan sunyi nyepi, kita belajar satu hal yang jarang diakui: yang sakral tidak selalu saling memahami. Di titik itu, iman tidak hanya soal percaya, tetapi juga soal berbagi ruang. Rahajeng lailatul nyepi.
NYALI Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang me NYALI
Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang meledak-ledak. Seolah ia hadir dalam bentuk teriakan, gebrakan meja, atau keberanian untuk menantang secara dramatis. Padahal, nyali justru seringkali bersembunyi di tempat yang sunyi, pada sebuah jeda yang membuat seseorang terus berjalan dalam iman dan keadilan. Seperti para pemuka agama yang ditukil dan didongengkan oleh @nf_nuzula , Melalui sosok-sosok tersebut, nyali menemukan bentuknya yang hakiki: keberpihakan. Nyali merekalah yang membuat nyala agama tetap ada di hati rakyat dan mereka yang tertindas.
M E R A H Merah itu mencolok, laiknya luka yang ta M E R A H
Merah itu mencolok, laiknya luka yang tak sempat disembunyikan. Salib-salib merah suku Awyu berdiri di tanah yang hendak dirampas. Ia menjadi tanda bahwa ada yang sedang dipertahankan, sekaligus yang perlahan coba dihilangkan. Merah bukan sekadar warna iman. Ia berubah menjadi bahasa tentang kehilangan, tentang klaim atas ruang, dan tentang ingatan yang menolak dihapus diam-diam. 
Simak ulasan @tropicalboi tentang perlawanan masyarakat adat Awyu melalui kreativitas beragama, hanya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY