• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Joget Amerta
  • Nilai dalam Amerta Movement

Nilai dalam Amerta Movement

  • Joget Amerta
  • 10 March 2025, 15.26
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

oleh Dody Eskha Aquinas

Saya telah lama mengenal nama besar mendiang Suprapto Suryodarmo, berkat hubungan antarseniman lintas disiplin yang cukup erat, khususnya di lingkungan Wisma Seni Taman Budaya, Kota Solo, Jawa Tengah. Lingkungan ini sarat dengan kehangatan dan rasa kekeluargaan. Saya bertemu dan mengenal Mbah Prapto melalui berbagai acara kesenian yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah, Padepokan Lemah Putih, maupun kegiatan yang diselenggarakan oleh para seniman di berbagai komunitas kesenian di Solo.

Kedekatan yang terjalin diantara para seniman membuat saya, seorang aktor teater dan film, memiliki kesempatan untuk mengenal Mbah Prapto lebih dekat. Namun, ketika pertama kali melihat beliau berlatih bersama para muridnya, saya belum tertarik untuk terlibat. Saat itu, saya hanya membatin, “Ini orang-orang sedang ngapain sih?” Seiring waktu berlalu, saya mulai tertarik untuk mengamati dan belajar.

Ketertarikan awal saya terhadap latihan bersama Mbah Prapto muncul karena saya juga sedang mendalami meditasi. Saya melihat adanya kesamaan antara latihan yang dilakukan Mbah Prapto dengan praktik meditasi. Karena itu, saya pun mulai mencari kesempatan untuk ikut berlatih bersama beliau dan murid-muridnya. Sekitar tahun 2016, Mbah Prapto mengajak saya bergabung. Bersama dengan murid-muridnya yang berasal dari berbagai negara, kami berlatih di beberapa tempat seperti Pendopo Wisma Seni, Candi Borobudur, Candi Ratu Boko, Candi Sukuh, dan Pantai Parangtritis. Jadi, dapat dikatakan bahwa saya merupakan salah satu yang paling belakangan mengikuti latihan Amerta bersama mendiang Mbah Prapto, dan belum terlalu lama mengenal praktik ini.

Meski demikian, saya memperoleh banyak pembelajaran dari pengalaman tersebut—khususnya mengenai kesadaran diri manusia dalam hubungannya dengan makhluk hidup lain dan alam semesta. Amerta Movement menyadarkan saya tentang realita saat ini; bahwa saya ada, bernapas, dan hidup. Kesadaran mendasar ini menunjukkan kepada saya nilai penting dari Amerta Movement, yakni memaknai kehidupan. Nilai ini mengajak saya untuk melihat dan menyadari lebih dalam tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup secara lebih bermakna—bukan hanya untuk diri sendiri dan sesama manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain.

Almarhum Mbah Prapto tidak membatasi cara para murid dalam mempelajari atau mempraktikkan Amerta Movement. Ia hanya memberikan petunjuk bagi para muridnya untuk menyadari bunyi dan suara dalam kehidupan sehari-hari, menyapa tubuh, serta menyadari dan berinteraksi dengan alam sekitar. Gerakan yang dilakukan pun bergantung pada pengalaman dan tingkat kesadaran masing-masing peserta. Pendekatan ini membuat Amerta Movement dapat diikuti oleh orang-orang dari berbagai latar belakang, tidak terbatas pada mereka yang bergelut di dunia seni pertunjukan.

Dalam praktiknya, Amerta Movement juga melatih kesadaran diri terhadap unsur-unsur alam seperti tanah, api, angin, air, dan logam. Di samping itu, ketika latihan ini dipadukan dengan doa atau mantra, terbentuklah sebuah kondisi spiritual yang menyadarkan manusia akan keterhubungannya dengan Sang Pemilik Kehidupan. Saat ini, saya menggabungkan latihan Amerta yang saya pelajari dari Mbah Prapto dengan Mantra Jawa Walikan atau Mantra Kalacakra, sebagai bentuk doa atau ruwatan untuk keselamatan semua makhluk hidup.

Selain itu, latihan Amerta Movement juga memiliki manfaat penyembuhan emosional. Banyak orang menyimpan masalah dan frustrasi dalam diam, yang pada akhirnya menumpuk sebagai energi negatif dalam tubuh. Melalui Amerta Movement, mereka bisa melepaskan beban tersebut. Saya menyaksikan hal ini saat sesi latihan berakhir, ketika Mbah Prapto membuka ruang berbagi bagi para murid. Dalam momen ini, tak jarang peserta mencurahkan isi hatinya dan mengungkapkan beban yang selama ini dipendam.

Pada beberapa kesempatan, setelah latihan atau pementasan, Mbah Prapto sering bertanya kepada saya dalam Bahasa Jawa, “Iki mau enek nilaine ora, Gus? (Tadi itu ada nilainya tidak, Gus?)” Nilai! Ya, Mbah Prapto selalu menekankan itu—sebuah nilai yang dapat diambil dari latihan Amerta Movement. Nilai ini bukan dalam bentuk angka, tetapi makna yang bisa menjadi bekal dalam menjalani hidup, dan juga sebagai bekal dalam perjalanan spiritual ke depan. Tentunya melalui refleksi perenungan yang mendalam.

Dalam sebuah kesempatan, sembari menyaksikan murid-muridnya berlatih dengan tatapan tajam namun menerawang, Mbah Prapto yang duduk di sebelah saya berkata, “Gus, golekno sejatine awakmu (Gus, carilah kesejatian dalam dirimu).” Kalimat itu sangat membekas dan menggugah saya untuk merenung tentang kesejatian hidup. Saya diajak berpikir lebih dalam: ke mana sebenarnya arah hidup ini? Apa makna dari kehidupan itu sendiri? Saya diajak menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri, tetapi bersama dengan berbagai ciptaan lainnya. Selain itu, saya juga diajak menyelami tujuan sebenarnya dari hidup manusia. Syukuri hidupmu, dan hiduplah seakan kematian akan datang menjemputmu esok hari. Itulah salah satu pesan yang saya tangkap dari nilai-nilai dalam Amerta Movement.

Matur sembah nuwun, Mbah, banyak nilai yang saya peroleh dari perjumpaan saya dengan Amerta Movement.

Klik tautan ini untuk artikel versi bahasa Inggris

______________________

Dody Eskha Aquinas merupakan seorang aktor yang juga belajar Amerta Movement langsung dari sang maestro  Almarhum Suprapto Suryodarmo. Ia pernah ikut berlatih dengan Mbah Prapto di berbagai tempat, candi maupun pantai serta wisma seni.

 

[wpdm_package id=’20108′]

Tags: Dody Eskha Aquinas joget amerta

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY