• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan
  • Merancang Klinik dan Advokasi KBB Berbasis Interseksionalitas

Merancang Klinik dan Advokasi KBB Berbasis Interseksionalitas

  • Laporan, News, News
  • 26 August 2025, 14.53
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Melindungi KBB bukan hanya soal agama atau keyakinan, melainkan juga memastikan semua orang, terutama kelompok rentan, dapat hidup dan berkembang tanpa diskriminasi.

Sebagai sebuah hak asasi manusia (HAM), kebebasan beragama atau berkeyakinan (KBB) selalu bersinggungan dengan hak-hak lain seperti hak anak, hak pendidikan, hak asasi perempuan, dan hak masyarakat adat. Karenanya, penting untuk membingkai upaya pemajuan KBB dengan pendekatan interseksionalitas. Hal inilah yang menjadi sorotan penting dalam Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) 2025 Tahap II pada 6—10 Agustus 2025 di Yogyakarta. Fellowship KBB angkatan ke-5 ini mempertemukan 19 dosen dari berbagai latar keilmuan antara lain hukum, syariah, teologi, filsafat, studi agama, dan ilmu-ilmu sosial dan politik. 

“Memahami interseksionalitas ini membantu kita melihat bahwa melindungi KBB bukan hanya soal agama atau keyakinan, melainkan juga soal memastikan semua orang, terutama kelompok rentan, dapat hidup dan berkembang tanpa diskriminasi,” tegas Renata Arianingtyas, Direktur Program BERDAYA Indonesia The Asia Foundation, salah satu fasilitator Fellowship KBB 2025. Dalam konteks KBB, seorang anak memiliki kebebasan untuk menentukan dan mengekspresikan keyakinannya sendiri, serta bebas dari paksaan untuk menjalankan atau menolak praktik agama tertentu. 

Sementara itu, dalam konteks hak pendidikan, pendidikan memang berperan penting dalam pemberdayaan perempuan dan penghapusan diskriminasi gender. Namun, pemaksaan pakaian keagamaan di sekolah kerap membuat anak perempuan menjadi kelompok paling terdampak, mulai dari kontrol tubuh sejak dini, stigma negatif, hingga tekanan sosial yang menyulitkan mereka untuk menolak.

Dalam konteks hak masyarakat adat, setiap masyarakat adat berhak mempertahankan identitas, adat istiadat, serta cara hidup. Namun, hak ini terancam ketika tanah adat mereka justru dirusak oleh negara untuk kepentingan tambang dan perkebunan komoditas ekspor. Di sisi lain, pewajiban suatu praktik ajaran agama tertentu kepada seluruh warga, termasuk yang berbeda keyakinan, ikut mengancam kebebasan beragama atau berkeyakinan masyarakat adat. 

Terobosan Baru: Klinik KBB dan Advokasi KBB

Berbeda dari aksi pemajuan KBB tahun-tahun sebelumnya, luaran utama kegiatan ini tidak terbatas pada naskah hasil penelitian. Fellowship KBB 2025 menghadirkan dua terobosan baru yakni rancangan pelaksanaan Klinik KBB dan Advokasi KBB.

Klinik KBB merupakan program yang dirancang sebagai bentuk pemajuan advokasi KBB melalui jalur pendidikan, khususnya bagi peserta yang berperan sebagai dosen. Menggunakan model experiential learning, program ini menempatkan mahasiswa untuk belajar langsung dari pengalaman berinteraksi dengan individu atau komunitas sekaligus terlibat secara nyata dalam menangani isu-isu yang mereka hadapi. Menurut Asfinawati, salah satu fasilitator, “mengalami sendiri membuat pengetahuan kita menjadi lebih masuk dan lebih berkembang.” 

Klinik KBB memadukan berbagai pendekatan untuk mengembangkan wacana KBB di Indonesia, memperkuat kolaborasi, dan mendorong keterlibatan langsung dalam penguatan komunitas. Harapannya, peserta mampu merancang program yang relevan dengan kebutuhan lokal, dan mampu mengimplementasikannya  di lingkungan kampus masing-masing.

Advokasi KBB  dirancang untuk memperluas pemahaman peserta mengenai praktik advokasi KBB di Indonesia dengan penekanan pada kekhasan perspektif HAM. “Perubahan tidak harus selalu hukum. Mengubah perekonomian kelompok rentan supaya lebih berdaya itu juga bagian dari advokasi,” jelas dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera ini. Peserta mempelajari tahapan penting dalam proses advokasi, mulai dari perumusan strategi hingga pelibatan para pemangku kepentingan. “Kali ini tidak hanya tulisan. Mereka bisa melakukan advokasi bersama-sama dengan mahasiswanya,” tukas Asfinawati.

Perbedaan dua luaran ini terletak pada orientasi dan ruang lingkupnya. Klinik KBB menitikberatkan pada capacity building melalui pendidikan berbasis pengalaman yang melibatkan mahasiswa secara langsung dengan komunitas. Sementara itu, advokasiKBB  berfokus pada memengaruhi kebijakan, membangun kesadaran publik, dan menggerakkan dukungan untuk perubahan struktural. Dengan demikian, Klinik KBB bersifat praksis edukatif di tingkat komunitas, sementara advokasi KBB menekankan strategi politik dan hukum pada skala yang lebih luas. 

Pendekatan ini juga melibatkan lintas disiplin ilmu—tidak hanya hukum, tetapi juga sosiologi, agama, psikologi, hingga ekonomi. Seperti yang diungkapkan Asfinawati, “solusi yang ditawarkan lebih beragam dan komprehensif, misal melihat isu KBB soal gendernya gimana, anaknya gimana. Jadi masalah tidak dilihat hanya tunggal, karena tentu saja dunia ini enggak pernah tunggal.”

______________________

Nanda Tsani adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Nanda lainnya di sini.

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Tags: Fellowship KBB Interseksionalitas nanda tsani

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY