Selamat atas 25th Anniversary of CRCS UGM. Tetap terdepan dalam pengembangan riset, pengabdian masyarakat dan bidang keilmuan untuk menghasilkan lulusan berprestasi yang siap berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih adil dan damai.
Tulisan ini merupakan refleksi atas perjalanan bersama CRCS dalam rentang waktu tertentu. Sebagai disclaimer, bias di dalam tulisan ini tentu tidak terhindarkan, antara lain karena subjektivitas penulis, maupun karena lebarnya bentangan waktu yang memisahkan posisi penulis dan kejadian yang diamati.
CRCS sebagai Suatu Titik Balik
Perkuliahan di CRCS, selain bermakna sebagai perjalanan akademik di bidang studi agama-agama (academic quest on Religious Study), juga merupakan proses transformasi cara pandang dalam isu relasi lintas agama. Proses transformasi itu dapat dimaknai sebagai suatu titik balik (turning point) cara pandang dalam membangun relasi lintas-agama (interreligious relationship). Berikut adalah konteks yang melatarbelakangi pandangan tersebut.
Tahun 1970-an di Oinlasi, kampung saya di pedalaman Pulau Timor, sudah menetap beberapa keluarga muslim yang berprofesi sebagai pedagang. Warga lokal menyebutnya orang Bugis. Dengan jumlah yang bertambah banyak, jejaring dagang yang kuat, dan pengaruh yang meluas, orang Bugis menjadi pesaing utama bagi pedagang Cina di pelosok Timor. Penduduk lokal di sana adalah warga suku Atoni (Dawan), kebanyakan berprofesi sebagai petani dan berlatar belakang kristiani (Kristen Protestan dan Katolik). Nyaris tidak terjadi kawin campur lintas suku Atoni dan orang Bugis. Praktik saling mengunjungi pada hari raya keagamaan menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Namun, sekitar tahun 1990-an praktik itu benar-benar lenyap.
Jadi, walaupun dua komunitas ini hidup berdampingan, relasi mereka lebih bersifat transaksional. Kalau meminjam istilah Herbert Mercuse, kondisi itu disebut dengan toleransi negatif (negative tolerance), yaitu mereka hidup berdampingan, tidak saling mengganggu, tetapi tidak melakukan inisiatif kerja sama secara sadar untuk kepentingan bersama. Alih-alih bekerja sama, muncul stereotipe di kalangan warga lokal bahwa kehadiran orang Bugis semata untuk mencari keuntungan—bahkan secara diam-diam mau menyebarkan agama. Tidak ada bukti empiris yang menguatkan atau menggugat tuduhan tersebut. Narasi ini mendominasi cara pandang masyarakat lokal terhadap orang Bugis di sana. Tensi politik nasional yang memanas pada tahun 1990-an akibat maraknya politisasi agama dalam berbagai kerusuhan, menjadi salah satu pemicu perginya sebagian besar orang Bugis. Beberapa keluarga memilih tetap tinggal. Bagi mereka, kampung tersebut tidak terpisahkan dari sejarah hidupnya.
Kunjungan saya ke acara Open House CRCS pada awal tahun 2004 menjadi pijakan bagi langkah-langkah berikutnya. Gayung bersambut. Mengantongi izin dari lembaga tempat saya beraktivitas dan surat rekomendasi dari Prof. Gerrit Singgih, pada tahun 2004 saya melanjutkan studi ke CRCS. Kelas kami terdiri dari 32 mahasiswa, yang datang dengan beragam latar belakang pendidikan kesarjanaan dan agama (Kristen 3 orang, Buddha 1 orang, Kong Hu Chu 1 orang, Hindu 3 orang, dan sisanya Islam). Komposisi ini mirip kondisi demografi agama di Indonesia. Kehadiran dua mahasiswa asing dan beberapa dosen dari luar negeri menambah nuansa internasional perkuliahan. Penyesuaian terhadap penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, maupun terhadap model pembelajaran yang jauh berbeda dari pola belajar di strata satu, bukan perkara gampang. Namun, perlahan-lahan kami menyesuaikan diri untuk berdiri tegap penuh percaya diri.
Selama kurang lebih dua tahun, kami berproses dalam berbagai aktivitas. Selain mendapatkan pengetahuan, suasana akademik melatih mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap kemapanan berpikir dan belajar untuk peka terhadap berbagai persoalan sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena kepiawaian dosen-dosen CRCS. Mahasiswa juga diajak untuk berani menelaah klaim kebenarannya secara kritis.
Saya berangkat dari tradisi kristiani yang dominan di Timor, baik di lingkungan keluarga, sosial dan pendidikan, serta masuk CRCS dengan minim pemahaman terhadap tradisi keagamaan lain. Dengan demikian, perjumpaan dengan teman-teman di CRCS merupakan suatu berkah dalam proses belajar bersama. Berbagai isu yang sulit dibicarakan di ruang publik dapat kami cakapkan secara bebas, rileks dan terkadang muncul dalam guyonan. Kelas-kelas yang kami ikuti menyediakan perspektif analisis untuk memotret dan membedah berbagai fenomena sosial keagamaan. Sementara itu, di kelas kami dan di angkatan sebelumnya, saya bertemu beberapa teman dari Makassar. Dalam perjumpaan itu, saya terbebas dari stereotipe yang saya warisi. Pengalaman yang mencerahkan ini selanjutnya menuntun pada suatu proses transformasi untuk membangun identitas, tentang “saya” dan relasinya dengan “yang lain” (“I” and “the other”). Konstruksi “yang lain” yang tadinya diwarnai kecurigaan atau stereotipe kemudian runtuh dan diganti dengan pemahaman baru, yaitu suatu identitas diri yang lebih mapan, yang diletakan dalam relasi dengan pihak lain. Dengan demikian, praktik relasi positif bersama teman-teman menjadi cara untuk berdamai dengan masa lalu saya.
Informal Interreligious Relationship, suatu Pendekatan Alternatif
Perkuliahan di CRCS, dalam pandangan saya, selain berkenalan pola dan metode belajar baru, juga memberi peluang untuk membangun informal interreligious relationship. Sebagai contoh, dalam kuliah Theories of Religion yang diampu oleh Prof. Bernie Adeney-Rissakota, perkuliahan yang biasanya kami lakukan di ruang kelas lantai 3 Gedung Pascasarjana dipindahkan ke rumah Pak Bernie di Telaga Kodok, Gejayan. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Kami bersepakat untuk berbuka puasa bersama setelah perkuliahan. Sama seperti pada mata kuliah lainnya, mahasiswa wajib menyerahkan response paper dalam satu halaman. Kewajiban itu tidak selalu dapat kami penuhi dengan mudah. Kali ini, topik respons tentang halal dan haram dengan menjelaskan alasan-alasan sosiologis, higienis atau alasan lainnya, sebelum masuk pada alasan keyakinan agama. Di kelas seperti ini mahasiswa belajar untuk memahami kompleksitas perspektif dalam berbagai tradisi keagamaan dan tradisi lainnya. Kelas selesai tepat sebelum jam berbuka. Beban di ubun-ubun menguap seketika saat tiba jam berbuka. Kami semua menyambut gembira suguhan minuman dan makanan yang disiapkan nyonya rumah.
Peristiwa ini, menurut saya, bukanlah hal biasa. Pengalaman dalam peristiwa itu dapat dimaknai sebagai suatu pendekatan untuk membangun informal interreligious relationship di seputar meja makan. Beberapa unsur yang menopang inisiatif tersebut adalah trust, hospitality dan availability. Tentang trust, kami diajak untuk berproses bersama sebagai rekan seperjalanan. Tanpa saling curiga kami memeriksa kembali dan bernegosiasi dengan batasan-batasan yang diterima sebagai warisan, maupun tentang batasan yang dibangun sendiri. Sedangkan di balik penyiapan semua hidangan itu, terdapat kebaikan, keramahan, dan kemurahan hati nyonya rumah bersama orang-orang lain yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan perhatiannya bagi kegiatan itu. Itulah yang saya sebut sebagai hospitality. Hal berikut yang tidak kalah penting ialah availability, yaitu kesediaan pihak-pihak untuk terlibat dalam upaya tersebut. Dari peristiwa tersebut dan refleksi atas pengalaman-pengalaman lain di CRCS, saya beranggapan bahwa interreligious relationship tanpa trust adalah kesia-siaan, seperti suatu upaya menjaring angin. Interreligious relationship tanpa hospitality adalah suatu pertunjukan (performance) semata, sedangkan interreligious relationship tanpa availability dari masing-masing pihak untuk terlibat, seperti bertepuk tangan sebelah.
Dilema penerapan trust, hospitality dan availability terjadi ketika saya sedang melakukan field research CRCS pada tahun 2015, di Ambon, tepatnya di kampung muslim di Kebon Cengkeh. Saat itu warisan stereotipe relasi lintas agama di Ambon masih terasa. Pihak yang ingin saya temui telah bersedia menerima saya. Namun, sebelumnya saya diingatkan oleh pihak lain untuk tidak menerima makanan yang disuguhkan oleh tuan/nyonya rumah di kampung muslim itu. Di alamat yang dituju, seorang ibu berusia paruh baya menyambut saya. Ia tahu latar belakang agama dan dari mana saya berasal. Di ruang tamu telah tersedia suguhan pisang goreng dan minuman. Apakah saya percaya dan mau menerima kebaikan yang ditawarkan oleh pihak lain yang baru saja saya kenal? Jika menerima begitu saja dianggap sebagai kekonyolan, lalu seberapa besar trust yang saya sisakan bagi kemungkinan adanya ketulusan dalam proses itu? Jarum detik jam dinding terasa bergerak lambat, ketika mendengar tawaran nyonya rumah untuk mencicipi suguhan tersebut. Singkat cerita, saya menyantap makanan yang disediakan. Dari sana pembicaraan kami berlanjut dengan lebih leluasa. Rentetan pengalaman ini mengajarkan saya bahwa ide tentang interreligious relationship yang ditopang oleh trust, hospitality dan availability itu baru menghadapi ujian sebenarnya ketika dipraktikkan. Di sana pasti ada resiko kegagalan, tetapi juga tersedia peluang sukses untuk membangun relasi-relasi lintas agama yang lebih baik.
Belajar Meneliti Bersama Peneliti Senior
Keuntungan lain bagi mahasiswa CRCS ialah kesempatan ikut field trip bersama dosen, sambil mengintip strategi jitu pengumpulan data. Pada Januari 2005 kami diajak ikut bersama rombongan para antropolog yang hadir di forum the European Java Networks Workshop di Salatiga dan Yogyakarta. Di Salatiga kami berkunjung ke Rumah Percik. Diskusi dan presentasi berlangsung di luar ruangan, di bawah pepohonan. Secara spontan masing-masing peserta mencari tempat duduk di rerumputan. Pak Pradjarta, pengajar mata kuliah Religion and Local Culture bertindak sebagai tuan rumah, sekaligus moderator pertemuan tersebut. Walaupun kesulitan mengikuti topik diskusi tersebut, diam-diam saya meyakinkan diri untuk berbangga, karena dapat hadir di forum tersebut. Rupanya beberapa kakak angkatan yang terlibat sebagai panitia merasakan hal yang sama. Dari Salatiga kami menuju Jatinom, lokasi penelitian disertasi Prof. Irwan Abdullah. Saya berusaha memahami apa yang diceritakan Prof. Irwan tentang Jatinom di kelasnya, dengan apa yang saya amati di sana. Hal tersebut tidak mudah, tetapi sebagai mahasiswa yang baru melewati semester awal, field trip bersama peneliti-peneliti senior menjadi kesempatan untuk belajar banyak hal. Setidaknya, mahasiswa belajar merumuskan pertanyaan, merasakan suasana di lapangan, serta melatih tubuh dan kepekaan indrawi dalam pengamatan langsung di area penelitian. Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu beberapa peneliti tersebut di forum yang berbeda. Mereka masih mengingat kunjungan lapangan itu.
Peace, No War
Pada semester pertama perkuliahan, tepatnya pada Desember 2004, CRCS mengadakan seminar tentang Islam and Democracy di Yogyakarta. Salah satu pembicara utama dalam seminar itu adalah Prof. Paul Knitter, yang bukunya One Earth, Many Religions merupakan salah satu bacaan wajib mata kuliah Interreligious Dialogue. Mata kuliah itu diampu oleh Fatimah Husein yang waktu itu baru menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Bertemu langsung dengan tokoh yang pemikirannya kami bedah itu, sudah menggembirakan, tetapi kami mendapatkan lebih dari itu. Setelah seminar tersebut, kami berkesempatan untuk mengikuti workshop dua minggu bersama Prof. Paul Knitter pada bidang Interreligious Dialogue. Dalam workshop tersebut, Knitter juga mengulas isi manuskrip bukunya, Without Buddha I Could Not be a Christian, yang sedang dalam proses penyelesaian. Sebagian besar peserta workshop merupakan mahasiswa CRCS Angkatan 2003 dan 2004. Suatu hari, sehabis pertemuan, ketika saya berjalan ke luar kelas, Paul Knitter berada tepat di belakang saya. Saya menggunakan kaos hitam berkerah dengan tulisan Peace, No War berwarna putih di bagian punggungnya. Paul Knitter menunjuk pada tulisan itu. Saya menoleh dan ia melanjutkan bahwa persis itulah yang kita butuhkan dalam kondisi dunia saat ini. Saya baru paham kemudian bahwa respons Paul Knitter itu berkaitan dengan kondisi Perang Teluk Kedua (2003—2011) yang sedang terjadi. Penggunaan narasi agama dalam perang tersebut cukup dominan. Menurut Knitter, agama perlu mengambil peran untuk menyuarakan perdamaian, bukan menjadi alat provokasi permusuhan. Percakapan singkat itu cukup berkesan.
Usai workshop hari terakhir, Kate Skillman, guru bahasa Inggris di CRCS pada waktu itu, mengajak kami ke penginapannya di Gedung Sekip B-2. Kamar Kate terletak di lantai 2. Sekitar 20-an mahasiswa yang datang. Kami duduk bersila di ruang tamu. Paul Knitter kemudian melanjutkan dengan ulasan singkat mengenai ragam praktik tradisi di berbagai tempat untuk merawat atau merayakan pertemanan, sebagai contoh: ngopi, minum teh, atau menikmati anggur bersama teman. Di Kuba, orang-orang mengisap cerutu. Sampai di sini masih terdengar seperti kuliah ekstra. Kemudian Knitter beralih topik bahwa di dunia yang semakin terbuka, tradisi-tradisi dari tempat lain dengan mudah sampai ke tempat kita. Kita harus memilih dengan cerdas mana yang perlu kita adopsi.
Knitter kembali memperbaiki posisi duduknya. Kita akan mencoba hal baru, lanjut Knitter sambil menawarkan beberapa kotak cerutu Kuba. Ruangan itu serta-merta ramai, tawa lepas, karena tidak ada yang mengira kalau pertemuan itu akan berubah menjadi ajang social experiment. Paul Knitter mengambil sebatang cerutu sambil tersenyum lebar, lalu meneruskan kotak ke orang berikutnya. Satu per satu batang cerutu berkurang dari kotak itu. Ruangan lantai dua itu sontak berbau asap cerutu, diselingi tawa dan batuk-batuk ringan. Suasana menjadi lebih hangat. Peristiwa itu bisa jadi adalah suatu tawaran pertemanan Paul Knitter dengan CRCS. Nyatanya setelah bertahun-tahun lewat, menurut cerita teman-teman alumni lainnya, Paul Knitter masih mengingat nama dosen-dosen CRCS. Tentu setiap orang bebas memaknai perisiwa itu. Dari sana saya pulang dengan hati gembira.
Beberapa tahun setelah meninggalkan CRCS, saya menerima telepon dari Pak Zainal Abidin Bagir untuk bergabung dalam riset yang dilakukan CRCS. Peristiwa itu membawa saya terlibat lebih dalam riset-riset CRCS lainya. Itu pun patut disyukuri.
Sebagai penutup, saya ucapkan SALAM buat guru-guru kami dan rekan-rekan seperjuangan, terutama Angkatan 2004, penjaga dapur akademik CRCS, dan setiap orang yang berbangga karena pernah menjadi bagian dari CRCS.
______________________
Marthen Tahun adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2004.