Salah satu pelajaran penting yang saya dapat dari CRCS adalah soal paradigma beragama dengan pendekatan intersubjektivitas. Ini adalah cara berpikir yang menolak relasi kuasa sepihak, dan sebaliknya membangun hubungan yang setara dan kesalingan.
Cerita Alumni
Saya bisa dengan yakin mengatakan sepuluh dari sepuluh alumni ketika ditanyakan apakah bangga dan cinta dengan CRCS mereka akan menyatakan kebanggaan dan kecintaannya.
Pilihan untuk lanjut di CRCS adalah sebuah keputusan besar yang sama sekali, sedetik pun, tidak pernah saya sesali.
Saya menyebut fase akademik saya di CRCS sebagai “kelahiran ketiga”. Mendapatkan pencerahan tentang teori-teori ilmu sosial, studi agama-agama (tidak hanya Islam), dan tentu perjumpaan dengan komunitas agama lain di luar Islam.
Maklum, bagi seorang santri udik yang jarang pergi jauh seperti saya, pergi ke Jogja ketika itu merupakan perjalanan terjauh yang saya alami. Uang untuk membayar pendaftarannya pun berkat pinjaman dari salah satu gus di tempat saya nyantri ketika kuliah S-1. Saya memberanikan diri mendaftar karena berpikir bahwa bekal belajar bahasa Inggris kepada native speaker dari Amerika Serikat sewaktu mondok dan kemudian menjadi pengajar bahasa Inggris di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura, bisa menjadi modal awal agar bisa mendaftar di program S-2 CRCS.
Perkuliahan di CRCS, selain bermakna sebagai perjalanan akademik di bidang studi agama-agama (academic quest on Religious Study), juga merupakan proses transformasi cara pandang dalam isu relasi lintas agama. Proses transformasi itu dapat dimaknai sebagai suatu titik balik (turning point) cara pandang dalam membangun relasi lintas-agama (interreligious relationship).