Saya bisa dengan yakin mengatakan sepuluh dari sepuluh alumni ketika ditanyakan apakah bangga dan cinta dengan CRCS mereka akan menyatakan kebanggaan dan kecintaannya. Perasaan ini disebut sebagai eudaimonic pride, yaitu kebanggaan sebagai alumni karena pendidikan selama di CRCS bukan hanya untuk mengejar karir pekerjaan, melainkan juga kebanggaan karena turut bersama-sama mengupayakan dunia yang adil, setara, dan selaras untuk semua entitas. Oleh karena itu, ketika terbit undangan untuk menulis cerita bagi para alumni, saya tentu saja tergerak untuk menulis karena cinta tanpa tindakan nyata hanya seperti janji-janji manis politisi. Akan tetapi, cinta saya kepada CRCS ternyata sungguh paradoksal seperti pekerjaan menulis dan membaca dalam hidup yang seringkali saya hindari. Sepertil irik lagu yang populer, “benci-benci tapi rindu”.
Masa-masa di CRCS adalah masa ketika saya paling banyak membaca dan menulis. Mutu akademik yang tinggi di CRCS memaksa kami membaca segudang literatur dan jurnal berbahasa Inggris. Belum lagi kewajiban membuat response paper setiap pertemuan yang membuat semua mahasiswa pontang-panting. Bahkan beberapa kali saya mendengar teman-teman sampai keluar masuk rumah sakit di masa pengumpulan tugas akhir. Meski demikian, semua bisa dilalui antara lain karena terjalinnya hubungan yang humanis di dalam kelas dan di luar kelas, antara sesama mahasiswa dan para guru (dosen). Suasana belajar sangat kondusif karena setiap pendapat dan perbedaan di pandang berhargadan layak untuk menjadi bahan diskusi. Orang dengan latar belakang minoritas, baik suku maupun agama, akan menjadi spesial karena pengalamannya memperkaya diskusi pembelajaran di dalam kelas.
Saya masuk ke CRCS di tahun 2016 saat pulang ke Indonesia. Sebelumnya, saya menghabiskan enam tahun untuk mengabdi di sebuah biara di Taiwan. Selama bertahun-tahun hidup di biara, ajaran yang paling utama bagi kami adalah tentang dunia satu keluarga, membangun Sukhavati di dunia. Dengan semangat Bodhisatva, manifestasi tertinggi dari cinta kasih untuk semua makhluk adalah berkontribusi pada terciptanya sebuah dunia yang tidak saja aman, tapi juga nyaman dan indah untuk dihuni oleh semua makhluk. Sebuah tujuan luhur bersama yang tak mungkin dicapai tanpa kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, manusia dan nonmanusia.
Menjadi jembatan alih-alih menjadi tembok di dunia yang penuh perbedaan. Inilah yang saya pelajari selama di CRCS. Menjadi jembatan artinya kami diajarkan melihat perbedaan bukan sebagai sumber kecurigaan, kebencian apalagi permusuhan. Menjadi jembatan juga berarti berusaha menjadi penghubung bagi pihak-pihak yang selama ini terpinggirkan oleh sistem dan struktur yang tidak adil di masyarakat. Jembatan untuk jurang-jurang ketidakadilan dan diskriminasi yang semakin lebar di dunia. Upaya untuk memulai semua itu dimulai dari membenahi ketidakadilan pengetahuan di dalam kepala kita yang sering tidak disadari. Karena penjajahan yang paling sulit dilawan adalah dominasi dan hegemoni pengetahuan yang melanggengkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan.
Pengetahuan dan teori yang didapatkan selama belajar di CRCS dalam bidang studi ilmu agama dan lintas budaya sangat inspiratif dan selalu menyesuaikan dengan kondisi terkini riset dan pengetahuan. Hal ini karena secara alamiah sifat internasional CRCS membuat jaringan pengetahuan global mudah diakses melalui jurnal dan jaringan kolega para dosen. Penerapan pengetahuan di masyarakat lokal melalui pengabdian masyarakat juga menjadi laboratorium hidup bagi pembelajaran di CRCS. Kunjungan lapangan sebagai media belajar dan melihat langsung kenyataan di masyarakat menjadi pengalaman belajar yang berharga yang selalu ditungu-tunggu.
Pengalaman belajar selama di CRCS pun sangat mendukung tugas dan pekerjaan saya di Pusdiklat Sukhavati Maitreya Yogyakarta. Melalui satu mata kuliah favorit saya di CRCS yaitu “Religion and Ecology” yang diampu oleh pak Zainal Abidin Bagir, saya mendapatkan banyak pembelajaran untuk dibagikan kepada para pemuda Buddhist yang belajar disini. Mata kuliah ini juga membantu saya dalam menjalankan organisasi INLA Yogyakarta (International Nature Loving Association), yaitu sebuah organisasi nirlaba yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan dan pendidikan moral kepada generasi muda melalui senibudaya dan pendidikan.
Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah Earth Festival, yaitu sebuah kegiatan promosi kepedulian terhadap bumi untuk masyarakat yang dikemas dalam bentukkegiatan yang menarik dan interaktif. Kegiatan ini biasanya di lakukan secara berkala setiap tahun, selama tiga hari di pusat perbelanjaan untuk menjangkau atensi masyarakat luas. Pada tanggal 24—26 Mei 2024 Earth Festival Jogja diadakan di Malioboro Mall Yogyakarta dengan mengusung tema “New Civilization:Respect All Beings” dan saya berkesempatan dipercaya sebagai ketua panitia festival pada saat itu. Tentu saja kesempatan itu saya gunakan untuk berkolaborasi dengan CRCS merancang acara dan workshop yang sesuai dengan semangat kepedulian terhadap lingkungan. Dari kolaborasi ini lahir workshop jamu yang dipandu oleh ketua MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia) DIY, talkshow “Jogja Darurat Sampah, talkshow “Komunitas Lintas Agama Bergerak Memelihara Bumi”, lomba daur ulang sampah, lomba Earth Speech, Earth Voice, dan berbagai kegiatan lainnya yang terselenggara dengan kolaborasi berbagai pihak. Dukungan dari Kaprodi CRCS, mas Anchu, beserta mahasiswa CRCS Angkatan 2022 dan 2023 yang turut serta mempersiapkan acara di festival ini menjadi memori indah dan berharga. Harapannya kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi dengan kolaborasi yang lebih luas lagi di tahun-tahun mendatang demi terwujudnya dunia yang adil, setara, dan selaras.
Pada akhirnya, sejak masuk di tahun 2016 ternyata saya tidak pernah selesai belajar di CRCS. CRCS bukan sekadar tempat belajar formal akademik, melainkan juga tempat belajar nilai-nilai kehidupan. CRCS telah memberikan saya lebih dari sekadar beasiswa selama kuliah, menambah teman-teman lintas iman, budaya dan negara, dan menginspirasi lewat kuliah-kuliah di dalam dan di luar ruang kelas bersama para guru-guru yang bijaksana. Lebih dari itu, CRCS telah menjadi titik penting dalam perjalanan hidup saya, dalam cara saya memandang dan menjalani kehidupan. CRCS bukan sekadar tempat produksi buku dan pengetahuan ilmiah tentang dekolonialitas, religion and peace building, interreligious dialogue atau mata kuliah apa pun yang akan terus bertransformasi menyesuaikan perkembangan situasi terkini warga dunia. CRCS adalah bagian penting yang menjadi motor penggerak dalam transformasi warga dunia untuk menuju kehidupan dunia yang adil,setara, dan selaras. CRCS juga bukan sekadar tempat mengumpulkan response paper, final paper, proposal tesis, dan tesis. CRCS juga menaruh tugas dan tanggung jawab di pundak setiap alumninya untuk menciptakan dunia yang adil, setara, dan selaras. Itulah sebabnya pada ulang tahun CRCS yang ke 25, ratusan alumni berkumpul kembali di kota tercinta Yogyakarta, bukan sekadar nostalgia mengenang masa lalu perkuliahan selama di CRCS, melainkan mendiskusikan apa yang telah dan akan dilakukan untuk menciptakan (sekali lagi) dunia yang adil, setara, dan selaras bagi semua entitas. Selamat ulang tahun CRCS tersayang.
______________________
Anthon Jason adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2016.