• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Cerita Alumni
  • Belajar Agama di CRCS: Bisa Diterima Kerja Apa Ya?

Belajar Agama di CRCS: Bisa Diterima Kerja Apa Ya?

  • Cerita Alumni
  • 9 June 2026, 14.33
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Tepat di pertengahan April 2026, ketika pohon-pohon di Montreal sudah mulai mengeluarkan tunas-tunas baru pertanda musim semi, saya menyelesaikan dan mengumpulkan initial thesis ke McGill. Setelah hampir tujuh tahun semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Montreal, saya menyelesaikan proses menulis dan menuju ke tahap selanjutnya, thesis defense.

Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu pembimbing untuk mempersiapkan initial thesis submission. Karena beberapa alasan, saya merasa kurang percaya diri dengan disertasi saya. Namun,  pembimbing saya meyakinkan, “You have put a lot of effort into finishing this in a small pocket of time, which is impressive. There are a lot of strengths in your work. I think you should be proud of your self! Get yourself some sleep!”

Beberapa hari setelah mengumpulkan initial thesis, saya banyak duduk di cafe dan taman, mulai mencerna fakta bahwa saya baru menyelesaikan satu proses penting dalam studi doktoral dan juga hidup. Saya tidak menyangka betapa lelah dan emosionalnya menyelesaikan studi ini. Jika ada orang yang punya dua gelar doktor, saya yakin dia orang terhebat di alam dunia dan akhirat.

Saya mulai berefleksi perjalanan saya hingga sampai titik ini. Sebagaimana banyak orang, pencapaian mereka dalam satu hal tidak dimulai saat itu, melainkan dekade-dekade sebelumnya yang membentuk dirinya. Dalam hal ini, saya melihat masa studi di CRCS adalah satu periode penting yang membentuk diri dalam hal akademik dan intelektualisme. Ia telah membukakan saya jendela dunia!

Tahun 2013, semester awal saya di CRCS dimulai. Ia menjadi perkenalan yang sangat bermakna, tetapi juga menantang. Beberapa diskusi yang bahkan hingga masa-masa studi Doktoral di McGill masih penting dan menarik adalah soal konsep “religion” dan “secular”.

Jika sebelum masuk CRCS kita mempelajari, memahami, dan mendiskusikan “agama” sebagai konsep yang sudah didefinisikan oleh negara, buku-buku pelajaran sekolah, dan juga oleh literatur dari institusi agama masing-masing,  kali ini kita disuguhkan teorisasi dan konseptualisasi oleh pemikir yang menamakan dirinya scholars of religion, atau sosiolog dan antropolog agama. Buku Daniel Pals, Seven Theories of Religion, menjadi pegangan di kelas Theories of Religion and Societies yang diampu Dr. Samsul Ma’arif. Saya mulai mengenal pemikir-pemikir awal yang ikut berkontribusi membentuk bidang Religious Studies, seperti Rudolf Otto dan selanjutnya Eliade. Semua ini cukup baru dan menantang bagi saya yang baru lulus dari fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga. Bagaimana bisa agama didefinisikan berbeda-beda? Bagaimana masa depan umat masing-masing? Sebagai lulusan sekolah dasar di masa Soeharto, agama itu simpel. Dia harus punya Tuhan, nabi, kitab suci, dan tetek bengek lainnya.

Belakangan, di kelas World Religion yang diampu Dr. Ahmad Munjid, saya paham bagaimana definisi negara tentang agama  telah menciptakan masalah diskriminasi yang sangat besar bagi para pemeluk agama lokal. Lebih dalam lagi, di kelas Academic Study of Religion, kita disuguhi kritik Talal Asad terhadap para pemikir yang ingin mendefinisikan agama secara universal. Geertz, misalnya, berpendapat bahwa agama adalah satu sistem simbol yang memiliki makna dan terorganisir. Artinya, jika kita datang ke suatu komunitas agama dan meneliti mereka, kita harus mencari simbol dan mencari makna dari simbol-simbol tersebut. Asad, di sisi lain, justru menekankan pentingnya melihat relasi kuasa. Jika simbol-simbol tersebut punya makna, Asad bertanya, “Bagaimana makna-makna itu dibentuk dan diberikan? Apa kondisi sosial dan politik yang ikut berkontribusi atas pembentukan makna simbol-simbol tersebut?” Setelah kelas-kelas tersebut selesai, biasanya kami berkumpul di warung kopi sambil main gaple, dan bertanya-tanya, “Kira-kira menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang agama itu akan memudahkan kita dapat pekerjaan gak ya kalau lulus nanti? Bisa kerja apa kita nanti ya?”

Terlepas dari itu, saya mulai mengenal agama sebagai satu kategori dan konsep yang dikonstruksi. Ia adalah produk suatu masa. Tugas kita sebagai peneliti fenomena agama dan sosial adalah menggali dan mempresentasikan bagaimana suatu konsep itu dimaknai sedemikan rupa seiring perjalanan waktu.

Setelah diterima studi di School of Religious Studies, McGill, pada tahun 2019, saya mulai menggali lebih jauh lawan dari kata religion yaitu the secular. Setidaknya begitu ia dipahami di dunia Barat. Untuk memudahkan, saya akan menyebut “yang sekular”. Lagi-lagi Talal Asad mengantarkan saya pada diskusi yang kompleks dan membuat saya jatuh cinta pada metode yang ia tawarkan. Menurut Asad,  “sekular” terlahir secara spesifik dari sejarah Barat yang mengalami perang Katolik-Protestan puluhan tahun dan berujung pada perjanjian Westphalia di 1648. Pendek kata, ia adalah produk dari satu situasi sosial politik yang lalu mempengaruhi produk-produk kebijakan negara.

Pengalaman-pengalaman diskusi intelektual di CRCS dan McGill selanjutnya membawa saya pada disertasi tentang agama dan nasionalisme di Papua di abad ke-21, setelah diturunkannya kebijakan Otonomi Khusus. Sebagaimana Asad, saya juga mencoba meng-historisasi kategori dan konsep yang dijumpai dalam penelitian, salah satunya konsep nasionalisme. Jika konsep bangsa, nasionalisme, dan selanjutnya pendirian negara-bangsa adalah warisan sejarah Barat yang diadopsi masayarakat terjajah, bagaimana ia selanjutnya membentuk masyarakat? Jika nasionalisme dan pendirian negara-bangsa, yang awalnya diadopsi untuk memerdekaan diri dari penjajahan dan mendapatkan kedaulatan, selanjutnya menyebabkan kesengsaraan dan kematian orang-orang di pegunungan Papua, yang sejak awal memang tidak ikut dalam diskusi pembentukkan negara-bangsa Indonesia di tahun 1940an, lalu apa tujuannya?

Terlepas dari itu semua, saya sangat bersyukur bahwa CRCS telah membukakan saya jendela menuju dunia akademik global, dari gedung lingkar Pascasarjana UGM menuju gedung Birks Religious Studies, McGill. Saya tidak menyangka bisa sekolah di negara dengan cuaca dingin bahkan hingga minus 40 derajat ketika musim dingin. Awalnya hanya membaca novel Ahmad Fuadi, Ranah Tiga Warna, yang menceritakan masa studinya di Quebec, satu provinsi Prancis di tengah lautan anglophone Kanada, saat ini saya sedang menunggu jadwal thesis defense! Selain itu, saya juga sering kali main ke perpustakaan Islamic Studies yang iconic dan melihat tesis-tesis yang ditulis mahasiswa Indonesia dari IAIN, seperti Prof. Harun Nasution, al-Makin, Ratno Lukito, bahkan dosen keren pengampu kelas Interreligious Dialogue CRCS, Dr. Fatimah Husein.

Pada akhirnya setelah semuanya usai, pertanyaan yang saya miliki di CRCS dulu kembali menghantui, “Setelah berdiskusi soal agama dan sekular, saya akan dapat kerja apa ya?”

Selamat ulang tahun yang ke 25, CRCS!

______________________

Hary Widyantoro adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2013. 

Tags: Cerita Alumni Hary Widyantoro

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY