• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Transformasi Perjodohan di Kalangan Pesantren

Transformasi Perjodohan di Kalangan Pesantren

  • Berita Wednesday Forum
  • 16 February 2012, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Nihayatul Wafiroh

Pernikahan melalui perjodohan merupakan fenomena sosial menarik yang terjadi di masyarakat. Pesantren yang dianggap sebagai “lembaga suci” seringkali dijadikan rujukan untuk percarian pasangan dengan peran kyai sebagai “mak comblang” terpercaya. Sedikit berbeda dengan perjodohan tradisional dimana kuasa orang tua begitu besar terhadap anak perempuan sehingga mengabaikan proses pengenalan, pesantren menjadi solusi atas kegamangan orang lewat konsep ta’aruf (perkenalan yang Islami). Rekomendasi seorang kiyai yang notabene adalah sosok alim dan sholeh dianggap jaminan untuk mendapatkan pasangan yang baik.

 

Paparan di atas disampaikan Nihayatul Wafiroh, kandidat Ph.D di ICRS UGM pada 8 Februari lalu di Wednesday forum CRCS-ICRS dengan presentasi berjudul “Arranged Marriages in Indonesia: A Case Study from Darussalam Pesantren, Banyuwangi, East Java, Indonesia”. Fenomena perjodohan di kalangan pesantren ini merupakan penelitian tesis Nihayatul ketika menyelesaikan studi di University of Hawaii. Ia melibatkan berbagai elemen pesantren seperti kyai sebagai pemimpin pesantren beserta keluarganya, santri atau murid pesantren beserta alumni, juga masyarakat sekitar dalam riset tersebut.

 

Pesantren menjadi tempat penelitian yang menarik karena relasi kepatuhan antara santri dengan kyai mirip dengan relasi kepatuhan seorang anak dengan orang tua. Berdasarkan temuan di lapangan, Nihayatul menyebutkan bahwa proses perjodohan yang terjadi pada responden yang ditemuinya berbeda dengan proses perjodohan tradisional masa lalu, dimana pasangan yang dijodohkan tidak memiliki kesempatan untuk saling bertemu dan mangenal. Kedua pihak yang hendak dijiodohkan diperbolehkan untuk saling mengenal dan diberikan kebebasan untuk melanjutkan proses itu menuju pernikahan atau tidak.

 

Berbeda dengan pernikahan berbasis cinta yang dianggap sebagai representasi kebebasan, perjodohan seringkali dituding sebagai simbol pengekangan. Apalagi perjodohan karena motif ekonomi dimana distribusi uang atau kapital antara dua keluarga dan motif sosial terutama bagi keluarga si perempuan yang dijodohkan dengan si pria yang berasal dari derajat sosial tinggi, menjadikan anak perempuan diposisikan sekedar “pemenuh hasrat” orang tua. Tak jarang mereka memaksakan kehendak dan mengabaikan ketidaktertarikan sang anak dengan calon yang akan dijodohkan dengannya. Orang tua seringkali berdalih, ingin anaknya bahagia dengan menikahi pria kaya atau berasal dari keluarga kaya.

 

Sementara, perjodohan melalui kyai lebih bermotif pendekatan spiritual. Menikahi gadis sholehah atau pemuda sholeh diyakini sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Janji-janji agama ini membuat banyak orang menyerahkan pilihan jodohnya kepada kyai.

 

Nihayatul menemukan fakta yang menarik, dari sekian banyak pasangan yang menikah lewat jalur perjodohan yang ia wawancarai saat penelitian, hanya satu pasangan saja yang bercerai. Itupun karena si pria melakukan poligami. Baginya perjodohan bisa digiring lebih demokratis ketika ada hak untuk menerima/menolak kandidat yang diajukan.

 

Cinta yang selama ini diagung-agungkan, menurut responden Nihayatul di lapangan, bukanlah faktor penting ketika dua insan menuju pelaminan. Pilihan kyai sudah dianggap cukup. Karena cinta bisa tumbuh pasca pernikahan.

 

Dalam jurispudensi Islam dikenal terma “ijbar” (otoritas orang tua) sebagai salah satu pilar pernikahan. “Ijbar” adalah implementasi otoritas orang tua dalam menikahkan seorang anak perempuan yang diyakini belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan pernikahan. Namun, “Ijbar” salah dipahami sehingga terjadilah “ikrah” (pemaksaan). Banyak orang tua yang mempraktekkan “ijbar” dengan logika “ikrah”.

 

Beberapa tahun belakangan, terjadi perubahan signifikan di kalangan pesantren. Tradisi perjodohan perlahan tergerus dengan semakin banyaknya kaum santri yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Generasi muda mereka telah diberikan kebebasan untuk menemukan pasangan masing masing. [MoU]

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Whose gaze am I carrying in my body? Over time, we Whose gaze am I carrying in my body?
Over time, we learn to watch ourselves through the eyes of others. What does it take for a body to loosen itself from these gazes? Perhaps it begins with simply staying present. Breathing. Not disappearing. Quietly refusing.
Join this thought provoking discussion at #wednesdayforum with @anquaerere
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Family law is never just about the family. It’s al Family law is never just about the family. It’s also about who gets to shape the state.

Join this thought provoking discussion at #wednesdayforum. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
What does it mean for humans and societies to trul What does it mean for humans and societies to truly flourish?
Michael Champion from Australian Catholic University explores the growing field of flourishing across the humanities and social sciences—from philosophy and development economics to positive psychology and the Global Flourishing Study.
The discussion will ask what Religious Studies can contribute to as well as critically question in contemporary ideas of flourishing, while opening possibilities for new research in interreligious and intercultural studies between Indonesia and Australia. Join this thought provoking discussion at #wednesdayforum. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Ke Salzburg mengenal diri. Ikrana dan perjalanan S Ke Salzburg mengenal diri.
Ikrana dan perjalanan Study Exchange selama di Kota Mozart.

#Studyexchange #salzburg #crcsugm #sekolahpascasarjanaugm #religiousstudies
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY