• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Agama dan Ekologi dalam Gerakan Chipko di India

Agama dan Ekologi dalam Gerakan Chipko di India

  • Perspective
  • 6 January 2021, 21.02
  • Oleh: CRCS UGM
  • 0

Agama dan Ekologi dalam Gerakan Chipko di India

Tarmizi Abbas – 6 Januari 2021

Sebelum gerakan ekologi modern diteorisasi, komunitas-komunitas adat atau agama lokal di pelbagai penjuru dunia merupakan kelompok yang menerjemahkan kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, kesadaran ekologis berbasis kepercayaan religius ini melekat erat dalam kepercayaan dan tradisi mereka serta mendorong lahirnya aksi perlawanan terhadap para perusak alam. Salah satunya, yang akan disorot dalam esai ini, ialah gerakan Chipko di Uttar Pradesh, India.

‘Chipko’ sendiri secara literal berarti ‘memeluk’ atau ‘melekatkan’. Nama ini menyimbolkan taktik utama anggota gerakan ini dengan merangkul pohon untuk melindunginya dari para penebang liar. Di abad ke 20, gerakan Chipko kian masif dan mengambil inspirasi dari Satyagraha, yakni gerakan perlawanan non-kekerasan ala Mahatma Ghandi, serta pandangan tentang kesatuan antara manusia dan alam. Bila pada abad 18 gerakan perlawanan semacam ini dialamatkan pada kekuasaan raja, di era Ghandi dan setelahnya gerakan Chipko menjadi perlawanan terhadap keserakahan korporat baik dari kaum kolonial Inggris maupun pemerintah India sendiri yang ingin merampas sumber daya masyarakat lokal.

Bishnoi sebagai Inspirasi

Khabirul Alam dan Kumar Halder dalam A Pioneer of Environmental Movements in India: Bishnoi Movement (2018) menyebut bahwa gerakan Chipko terinspirasi dari aksi masyarakat penganut ajaran Bishnoi, salah satu sekte Hindu, di desa Khejarli, pada abad 18. Alkisah, pada 1730 perempuan bernama Amrita Devi di Desa Khejarli melindung pohon Khejri (Prosopis cineraria) dari tentara Abhay Singh, raja Jodhpur saat itu, yang menginginkan kayunya untuk dijadikan bahan baku pembangunan istana kerajaan yang baru. Bagi masyarakat lokal, pohon Khejri memiliki berbagai manfaat. Dedaunannya dapat digunakan untuk memberi makan ternak bahkan ketika musim kering. Kulit kayunya juga dapat digiling menjadi tepung dan digunakan sebagai makanan selama kelaparan.

Saat para tentara kerajaan mengayunkan kapak mereka, Amrita dan ketiga anaknya berlari ke arah pohon Khejri dan memeluknya. Ia lantas berteriak, “Kepala yang ditebas lebih murah harganya daripadi pohon yang ditebang. Maka lebih baik korbankan kepalamu untuk menyelamatkan pohon” (Alam & Halder, 2018:286). Teriakan Amrita ini memantik warga desa untuk ikut berlari dan memeluk pohon. Orang-orang ini bahkan tidak melepaskan pelukannya meskipun satu-persatu kepala mereka ditebas oleh para serdadu kerajaan. Aksi ini berakhir dengan tewasnya 363 orang-orang Bishnoi di tangan para serdadu kerajaan sebelum sang raja mengetahui, meminta maaf, serta melindungi tanah mereka sampai saat ini.

Ajaran Bishnoi yang menginspirasi aksi Amrita, ketiga anaknya, dan masyarakat desa yang mengikutinya digariskan oleh Guru Jambheshwar pada 1451. Jambheshwar mendeklarasikan 29 bentuk aturan “hidup sehat” kepada para pengikutnya. ‘Bishnoi’ itu sendiri berarti 29—‘bish’ berarti 20 dan ‘noi’ berarti 9. Dari 29 aturan ini, 10 di antaranya mengulas prinsip hidup sehat; 9 lainnya tentang perilaku sosial yang sehat; 4 ajaran tentang praktik penyembahan kepada Tuhan; sedang 6 sisanya berbicara tentang kelestarian alam dan mendorong praktik peternakan yang baik.

Lebih spesifik dalam 6 aturan terakhir, ajaran Bishnoi menekankan pentingnya menjaga ekosistem lingkungan. Dua di antara aturan ini mengejawantah dalam kewajiban bagi para penganut Bishnoi untuk selalu berlaku baik kepada seluruh makhluk hidup dan tidak boleh menebang pohon hijau. Kebaikan kepada makhluk ini bahkan diterjemahkan lewat para perempuan yang memberikan asi mereka kepada rusa-rusa hitam lantaran telah dianggap sebagai anak kandung sendiri. Larangan menebang pohon itu juga diterjemahkan menjadi gerakan ekologis untuk melindungi pohon dengan cara memeluknya. Dengan demikian, gerakan Chipko tidak hanya merupakan gerakan ekologis. Lebih mendasar dari itu, gerakannya bersumber pada keyakinan religius.

Pengaruh Ghandi dan Perang Sino-India

Selain kisah penganut Bishnoi, Chipko juga dipengaruhi ajaran Ghandi tentang konsep perlawanan anti-kekerasan (Satyagraha). Argumen ini dirincikan oleh Vhandana Shiva dan J. Bandyopadhyay dalam From the Evolution, Structure, and Impact of The Chipko Movement (1986: 135) yang menyebut bahwa Satyagraha bukan saja merupakan bentuk ‘resistensi pasif’ bagi masyarakat India yang tidak mau lagi patuh terhadap penguasa tiran, melainkan juga gerakan perlindungan alam dari kapitalisme kolonial Inggris di India. Hal ini terjadi pada 1930 ketika Satyagraha menginspirasi aksi perlawanan terhadap monopoli garam dan eksploitasi hutan di India yang merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat.

Dalam kasus garam, Ghandi memimpin 73 orang India melakukan penyulingan garam massal di wilayah Dandi, Pantai Laut Arab. Aksi ini dilakukan untuk menentang pemerintah Inggris yang menjadikan garam sebagai komoditas dan memaksa pribumi untuk membelinya degan pajak yang tinggi. Gerakan kian menyebar meskipun Ghandi dan pada pengikutnya ditangkap. Ia lalu dibebaskan pemerintah Inggris dengan syarat menghentikan gerakan tersebut. Dalam kasus eksploitasi hutan, ratusan masyarakat Gahrwal melakukan protes non-kekerasan kepada pihak kerajaan yang membiarkan pemerintah Inggris menyewa tanah mereka seharga 400 rupe sejak tahun 1850 dan mengeksploitasinya. Naasnya, Chakradhar Jayal, seorang menteri Kerajaan Tehri merusak protes ini dengan mengerahkan prajuritnya. Meskipun aksi tersebut berhasil menghentikan penebangan hutan, ada ratusan korban mati dan terluka.

Impian terbebas dari kolonialisme Inggris tercapai ketika India merdeka pada 1947. Namun tidak berselang lama, konflik antara India dan China yang bermula sejak 1942 memuncak pada 1962. Terjadilah Perang Sino-India setelah pemerintah India menolak proposal penyelesaian konflik di Perbatasan Himalaya yang disengketakan oleh China. Konflik ini dipicu oleh klaim atas sebuah kawasan di Kashmir, yang oleh China disebut sebagai Aksai Chin dan merupakan bagian yang tidak terpisah dari Tibet. Perang tidak bisa dielakkan lagi dan berlangsung selama 31 hari setelah armada militer China merangsek masuk ke wilayah tersebut dan mulai melancarkan serangan pada masyarakat India. Pada 1963, perjanjian damai dilakukan oleh kedua belah pihak melalui the Line of Actual Control (LoAC) dengan mengembalikan daerah-daerah sepanjang perbatasan Himalaya ke tangan India. 

Aksi-aksi Chipko

Setelah LoAC disepakati, daerah-daerah di perbatasan Himalaya, khususnya negara bagian Uttar Pradesh di India mengalami perkembangan ekonomi yang signifikan. Hanya saja, perkembangan ini menciptakan kapitalisme baru di daerah tersebut. Tulisan Melissa Petruzzello berjudul Chipko Movement: Indian Environmental Movement (2018) menyebutkan bahwa setelah Perang Sino-India berakhir, dibangunlah jalan-jalan masuk ke hutan pedalaman di daerah-daerah tersebut sehingga menarik berbagai perusahaan asing yang mencari sumber daya hutan. Pemerintah India, di sisi lain, juga memutus akses masyarakat lokal di daerah tersebut terhadap lahan dan hutan, padahal mereka sudah lama memanfaatkannya sebagai sumber mata pencaharian, perkebunan, dan peternakan.

Menanggapi hal itu, pada 1964 Chandi Prasat Bhatt, seorang aktivis lingkungan yang juga Ghandian, mendirikan organisasi bernama Dasholi Gram Swarajya Sangh (DGSM) yang salah satu tujuannya ialah memberdayakan industri kecil penduduk desa melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Organisasi ini lantas berubah menjadi gerakan perlawanan ketika Bhatt mengetahui bahwa banjir bandang yang menghanyutkan lebih dari 200 warga desa pada 1970 disebabkan kerusakan alam akibat ulah perusahaan penebang hutan. Alhasil, pada 1973 ia mengajak masyarakat di desa Mandal untuk melakukan protes Chipko ketika pemerintah tidak mengizinkan mereka mengakses pohon-pohon di hutan sementara pemerintah justru memberikan izin kepada perusahaan penebangan untuk mengeruk sumber daya hutan. Setelah beberapa hari aksi Chipko ini dilakukan, pemerintah membatalkan izin penebangan pohon dan mengalihkannya ke DGSM.

Pada 1973, lewat Sunderlal Bahuguna, satu dari banyaknya generasi baru yang terlibat dalam gerakan ini, mulai memperluas skala, strategi, dan praktik Chipko ke daerah-daerah lain di India. Ia bahkan menambah satu lagi fondasi penting dalam gerakan ini, yakni pandangan Ghandi tentang alam semesta (Shiva & Bandyopadhyay, h. 137). Bagi Ghandi, alam semesta adalah “organisme hidup” yang mengejawantah dalam dua bentuk hukum. Pertama adalah hukum kosmik, yakni bahwa seluruh entitas kehidupan yang ada di alam semesta adalah satu-kesatuan. Ghandi percaya bahwa alam semesta ini terstruktur dan dihuni oleh berbagai makhluk (manusia dan non-manusia) dan keseluruhannya berasal dari “Yang Satu”. Jika manusia gagal memahami spiritualitas yang terpancar di alam semesta, maka alam semesta akan hancur. Kedua adalah hukum spesies, yakni bahwa manusia memiliki kewajiban untuk menjadi “penjaga” atas makhluk lain. Dua ajaran fundamental ini lantas menjadi salah satu prinsip Chipko hingga saat ini.

Protes terbesar di masa Bahuguna terjadi pada 1974 ketika 2.000 pohon di desa Reni akan ditebang oleh pemerintah India. Aktivitas ini lantas ditentang oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan jumlah besar yang menyadari bahwa deforestasi di wilayah tersebut telah akut. Pemerintah India lantas mengutus salah satu perwakilan desa untuk melakukan mediasi. Namun demikian, mereka justru dihadang oleh sejumlah perempuan yang dipimpin oleh Gaura Devi yang telah melakukan aksi Chipko di kawasan hutan dan enggan meninggalkannya. Aksi ini berakhir setelah pemerintah India menciptakan komite untuk menginvestigasi deforestasi di daerah tersebut yang berakhir dengan keputusan berisi larangan terhadap penebangan kemersial selama 10 tahun di daerah tersebut. Secara bertahap, Chipko di India terus menyebar dan menginspirasi banyak komunitas lain di India. Di antaranya terjadi dalam aksi Selamatkan Himalaya pada 1981-1983 dan gerakan-gerakan lain yang masih lestari hingga kini.

Demikianlah, gerakan Chipko merupakan salah satu contoh praktik terbaik (best practice) dari gerakan ekologi keagamaan. Oleh para penulis Barat era kolonial, para inisiator gerakan Chipko dinarasikan sebagai ‘penyembah alam’ (nature worshipper), tetapi justru gerakan inilah yang dapat secara masif mendorong lahirnya gerakan-gerakan ekologi lain di banyak penjuru India. Banyak darinya yang berhasil melindungi alamnya dan, tak kalah penting untuk dicatat, banyak darinya yang digerakkan oleh kaum perempuan.

___________________

Tarmizi “Arief” Abbas adalah mahasiswa Program Studi Agama Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana, UGM, angkatan 2019. Baca tulisan Arief lainnya di sini.

Gambar header: para perempuan gerakan Chipko melindungi pohon—diambil dari Wikimedia Commons.

Tags: tarmizi abbas

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY