• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Pos oleh
  • page. 85
Pos oleh :

The Development and Role of Religious Studies: Some Indonesian Reflections

Artikel Monday, 14 November 2011

Zainal Abidin Bagir and Irwan Abdullah | CRCS

While the development of contemporary religious studies as an academic discipline in Western universities can be traced back to the years following the Second World War the field can be said to have matured only in the 1970s. Since then there have been ups and downs, self-criticisms, and numerous developments which have brought it to its present state. What is usually understood as “religious studies as an academic discipline” is a discipline which utilizes a variety of methods from the social sciences and humanities. Religious studies is commonly distinguished from theological study by its sense of critical distance and its self-conscious attempt to be more “objective”, at least in the minimal sense of being aware of one’s own presuppositions which inform one’s study of religion. Indeed, questions of objectivity are elusive, and the very existence of this discipline, including what goes by the name “comparative religion”, has been questioned—not to mention the term “religion” itself. As evident in textbooks which introduce the students to this discipline, the whole enterprise of religious studies has been constantly reconsidered, and its practitioners, too, have always interrogated themselves and what they purport to do.

Perjuangan Identitas Perempuan Ahmadiyah Indonesia

Berita Wednesday Forum Thursday, 10 November 2011

Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 2008 memutuskan Ahmadiyah sebagai gerakan yang melenceng dari Islam dan mesti menghentikan aktivitas dakwahnya. Sayang, SKB tersebut oleh sebagian kelompok Muslim dijadikan justifikasi atas perlakukan intimidatif terhadap kelompok Ahmadiyah. Perempuan Ahmadiyah termasuk korban atas “vonis” sesat yang beberapa kali berujung dengan aksi kekerasan.

 

Bagaimana perjuangan identitas para perempuan Ahmadiyah mempertahankan identitas dalam situasi dilematis ini diangkat oleh Nina Mariani Noor, mahasiswi ICRS UGM yang juga seorang perempuan Ahmadiyah dan menjadi anggota Lajnah Ima’illah (organisasi komunitas Ahmadiyah) cabang Yogyakarta pada kesempatan Wednesday Forum CRCS-ICRS, Rabu 5 Oktober 2011 lalu dengan topik “Negotiating Identity in Indonesian Nation-State: Ahmadi Women Experience (A Study case in Yogyakarta)”.

Menguji the Clash of Civilizations Samuel P. Huntington

Artikel Tuesday, 8 November 2011

Zainal Abidin Bagir | CRCS

Pada akhir 1980-an, dunia sedang memasuki politik tahap baru pasca meredanya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ciri yang cukup mengemuka kala itu adalah kehadiran “The End of History” Francis Fukuyama yang menyatakan Demokrasi Liberal Barat sebagai bentuk akhir dari evolusi sosial, kultural dan pemerintahan di dunia dan terjerembabnya nation state dalam tarikan tribalisme dan globalisme. Pecahnya Uni Soviet yang menandakan berakhirnya Perang Dingin membuat Amerika Serikat membutuhkan panduan baru untuk membaca situasi dunia ke depan. Salah satu pemikiran yang mendapatkan perhatian pengambil kebijakan di Amerika Serikat adalah artikel Samuel P. Huntington’s pada tahun 1993 dengan judul “The Clash of Civilizations” di Foreign Affairs journal.

Serahkan Darah, Langitpun Tumpah

Artikel Monday, 7 November 2011

Beberapa waktu yang lalu, hujan merupakan barang mahal. Kemarau mencekam dalam waktu yang panjang. Banyak petani yang harus ‘menunda’ senyum karena hujan tak kunjung turun. Meski kini musim hujan telah datang, tak ada salahnya untuk melihat sebuah tradisi kuno yang masih bertahan sampai sekarang dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebuah tradisi unik yang ditujukan untuk memanggil hujan dengan cara-cara yang ‘kurang lumrah’ bagi sebagian besar orang.

Tulisan ini akan membahas tradisi meminta hujan yang dilakukan masyarakat desa Gumelem, Banjarnegara, yang dikenal dengan Ujungan atau kerap juga disebut Mujung. Ujungan berarti memohon kepada Tuhan agar menurunkan hujan. Sesuai dengan namanya, tradisi Ujungan dilakukan tiap kali kemarau panjang datang, biasanya pada akhir mangsa kapat atau awal mangsa kalima (akhir September atau awal Oktober). Meskipun Ujungan dapat dikatakan ritual sakral, namun tradisi ini tidak dilakukan dalam suasana hening yang penuh kekhusyukan. Sebaliknya, Ujungan dilakukan dalam suasana ramai, penuh aksi kekerasan yang dibalut nuansa kegembiraan. Ujungan dilakukan oleh dua orang laki-laki dewasa yang saling menyerang menggunakan senjata tongkat rotan. Para peserta melakukan aksi ini secara bergantian. Pertarungan mereka dikelilingi penonton yang bersorak-sorai mendukung jagoan mereka masing-masing.

Wed Forum: Islam and Culture

Berita Wednesday Forum Monday, 7 November 2011

Wed Forum: Post 9/11 Stand Up Comedy in USA

Berita Wednesday Forum Tuesday, 1 November 2011

Wednesday forum is a weekly public discussion on various topics of religion and culture organized by CRCS and Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). The forum is held every Wednesday at 12.30 – 2.30 PM in room 306 (3rd floor) of UGM graduate school building. Since 2002 many scholars, students, and researchers worldwide have presented their papers or on-going research in this forum.

 

Anyone who wants to make a presentation in this forum should fill out the Wedforum-form and send it to wednesdayforum@yahoo.com and crcs@ugm.ac.id. For further information and inquiries, please feel free to contact the organizer Najiyah Martiam (jim) at jiahjim@yahoo.com or Amanah Nurish at amnuris@yahoo.com.

1…8384858687…190

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY