• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Pos oleh
  • page. 86
Pos oleh :

Indonesian Waria: Transgender and Bodily Representation in Islam

Wednesday Forum News Tuesday, 25 October 2011

Waria is the common Indonesian word for transgender. It comes after wanita (female) and pria (male). In the context of Islamic communities, Indonesian warias have problems religious representation because in Islam, there are clear distinction between male and female, especially when it comes to worship activities. However, some warias in the city of Yogyakarta find their Islamic religious freedom in a pesantren (common Indonesian traditional Islamic school) which is specially established for waria. It is called Pesantren Senin-Kamis (Monday-Thursday Pesantren) since the pesantren is only active on those two days.

Wed Forum: The Role of Religion as Social Critique

Berita Wednesday Forum Tuesday, 25 October 2011

Wednesday forum is a weekly public discussion on various topics of religion and culture organized by CRCS and Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). The forum is held every Wednesday at 12.30 – 2.30 PM in room 306 (3rd floor) of UGM graduate school building. Since 2002 many scholars, students, and researchers worldwide have presented their papers or on-going research in this forum.

 

Anyone who wants to make a presentation in this forum should fill out the Wedforum-form and send it to wednesdayforum@yahoo.com and crcs@ugm.ac.id. For further information and inquiries, please feel free to contact the organizer Najiyah Martiam (jim) at jiahjim@yahoo.com or Amanah Nurish at amnuris@yahoo.com.

Pesantren Waria: Alternatif Spiritual untuk Kaum Transgender

Berita Wednesday Forum Tuesday, 25 October 2011

 

Seorang

Waria merupakan istilah yang popular di Indonesia untuk menyebut personal transgender, sosok laki-laki yang berperilaku menyerupai wanita (perempuan). Dalam konteks masyarakat Islam, waria dibelit oleh berbagai persoalan karena dalam Islam ada perbedaan yang jelas antara pria dan wanita, terutama dalam hal ibadah.

 

Menyikapi garis batas ini, beberapa waria di kota Yogyakarta mencoba melepaskan diri mereka dari belenggu fiqih baku Islam. Mereka berinisiatif mendirikan pesantren yang khusus diperuntukkan bagi waria dengan nama Pesantren Waria Senin-Kamis. Pesantren unik ini didirikan pada tahun 2008 oleh Maryani, (seorang waria) bersama Kyai Hamroli ingin menunjukkan bahwa waria punya hak untuk menjalani ibadah sesuai dengan agama yang mereka peluk (dalam konteks ini agama Islam).

Weak State Helps Extremism in Indonesia

Artikel Monday, 24 October 2011

Mohammad Iqbal Ahnaf, Ph.D | CRCS | Article

The most welcomed aspect of Indonesia’s democratization is probably political freedom. This is marked by the flourishing social organizations that illustrate the resurgence of civil society. However, strong society, although idealized, is not always positive for a democracy. This is especially true in a state with a weak government.

A distinguished political scientist, Joel Migdal in his book, Strong Societies and Weak States: State-society Relations and State Capabilities in the Third World (1988) warned of the risk of having a strong civil society in a state with government lacking the ability to govern. A common consequence of weakened states is that the government lacks political will, institutional authority and organised power to provide basic functions of the state. If the state is unable to fulfill these functions, a power void will result and may lead to the rise of strong societies.

WedForum: Provoked (A True Story)

Berita Wednesday Forum Tuesday, 18 October 2011

Manusia Indonesia Manusia Koruptif?

Artikel Monday, 17 October 2011

Suhadi Cholil | CRCS | Article

Pada tahun 1977, Mochtar Lubis berceramah di Taman Ismail Marzuki yang kemudian dibukukan dengan judul “Manusia Indonesia”. Saya menduga, kalau ceramah itu dilakukan hari-hari ini, Mochtar akan menambahkan satu karakter lagi dalam karakter ketujuh, Manusia Indonesia: Manusia Koruptif.

Belum usai gaduh kasus korupsi di Kemenpora dan Kemnakertrans, atau sebelumnya hingar-bingar kasus Century dan Gayus, kini diduga Banggar DPR pun melakukan penggembungan (mark up) APBN tahun 2011 senilai Rp 27,5 triliun. Meratanya korupsi hampir di setiap sektor birokrasi pemerintahan dari eksekutif, yudikatif, sampai legislatif memunculkan pertanyaan besar, benarkah manusia Indonesia itu manusia Koruptif?

1…8485868788…190

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY