Perkenalkan, saya Brian Trinanda K. Adi, mahasiswa CRCS UGM angkatan 2018, yang sekarang sedang menempuh studi S-3 di Amsterdam School for Cultural Analysis, University of Amsterdam. Perjalanan saya menempuh studi S-2 tujuh tahun silam di CRCS bermula dari kegelisahan, motivasi, sekaligus “kegagalan” saya untuk dapat studi S-2 di luar negeri; dibalut dengan keresahan akademik, guna memuaskan dahaga akan pengetahuan, dan—yang ini perlu ditegaskan—kekaguman pada pribadi yang memang betul sungguh mengagumkan, Pak Zen, Zainal Abidin Bagir.
Apa CRCS Pelarian Semata?
Pada 2014, setahun sejak kelulusan dari ISI Yogyakarta pada bidang etnomusikologi, saya diperkenalkan oleh Dr. Citra Aryandari, dosen pembimbing S-1, dengan Dr. Barbara Titus, associate profesor di bidang cultural musicology (etnomusikologi) dari University of Amsterdam (UvA), yang sekarang menjadi pembimbing S-3 saya. Sejak pertemuan itulah, sesungguhnya, pintu untuk mengambil langkah besar—menggapai cita-cita saya sejak kecil yaitu studi di luar negeri—terbuka. Ibu Barbara yang baik hati menawarkan saya Letter of Acceptance (LoA) untuk mengambil S-2 di UvA. Meski tentu, hal itu tidak terlepas dari syarat administrasi yang harus saya penuhi. IELTS dengan keseluruhan skor 7—bukan band 7, melainkan skor minimal 7 untuk semua item: listening, speaking, reading, dan writing.
Waktu itu, bagi saya, seorang mahasiswa seni dengan kapasitas bahasa Inggris yang jauh dari bare minimum, untuk mendapatkan keseluruhan band 7 saja sudah terasa hampir mustahil. Apalagi, saya harus bekerja dan menabung untuk mengikuti tes IELTS yang juga tidak murah. Mimpi untuk kuliah ke luar negeri memang sepertinya masih jauh, meski tidak pula menyurutkan niat dan semangat saya. Sepanjang tahun 2014 hingga 2017 adalah masa-masa transisi, saya hengkang sejenak dari dunia seni untuk mengejar ketertinggalan yang begitu jauh dalam bahasa Inggris dengan menjadi siswa hingga mengajar di Pare, Kediri. Saat itu, mengajar adalah jalan yang terbaik untuk belajar, plus menabung. Di tahun 2017, skor IELTS saya belum juga memenuhi target yang diharapkan. Namun, kesempatan untuk terus belajar belumlah terputus. Hingga pada momen itulah saya “berjodoh alamiah” dengan LPDP dan CRCS UGM.
Bermodalkan hasil tes IELTS dan TOEFL pas-pasan, saya berhasil lolos seleksi LPDP dan program CRCS UGM. Memilih CRCS untuk lanjut S-2 mungkin terkesan sebagai sebuah pelarian dari kegagalan saya menempuh studi S2 di UvA. Namun, ini juga tidak sepenuhnya benar. Pilihan untuk lanjut di CRCS adalah sebuah keputusan besar yang sama sekali, sedetik pun, tidak pernah saya sesali. Berbulan-bulan saya menelusuri berbagai pilihan program studi dan kampus di Indonesia, mencatat segala kelebihan dan kekurangan, sekaligus kecocokan dengan minat studi yang ingin saya pelajari. Berbagai website kampus saya kunjungi, plus lengkap dengan nama-nama tokoh dan dosen yang mengampunya. Hingga tibalah pada website CRCS. Saya melihat berbagai programnya yang menarik dan sebuah video dengan Pak Zen yang menjelaskan tentang apa itu CRCS. Ah, sungguh memesona!
Di CRCS inilah hati saya berlabuh. Klise, alasan saya jatuh cinta dengan CRCS pertama-tama adalah karena “internasionalisme”-nya! Program S-2 ini berbahasa Inggris. Meski tentu, tidak juga hanya karena satu alasan klise ini. Berbagai program yang ditawarkan CRCS memang sungguh sangat menarik, tetapi menyisakan satu keraguan yang tak kalah besar: studi agama! Jujur saja, waktu itu studi agama tampak cukup mengerikan bagi saya. Dalam kerangka kesalihan, praktik beragama saya sangat nominal—jika tidak dikatakan minimal. Bayangan saya waktu itu, studi agama pastilah tidak terlepas dari studi teologi, tafsir, dan penuh dengan seabrek persoalan internal praktik beragama. Lagi-lagi saya dihadapkan dengan kegalauan, persoalan bare minimum. Meski, setelah menghayati program-program yang ditawarkan CRCS dengan lebih seksama, keraguan ini terus-menerus menipis. Apalagi setelah mengikuti perkuliahannya; “Agama itu sendirilah yang bahkan perlu didekolonisasi!” kata Suhu Ancu (Samsul Maarif), guru—tidak sekadar dosen—CRCS, bersama jajaran dosen lainnya yang tidak henti-hentinya semakin saya kagumi.
Membangun Kampung Halaman Melalui Seni
Momen dua tahun yang singkat di CRCS telah betul-betul mengubah hidup saya. Dari seorang mahasiswa seni yang penuh dengan praktik—ISI memang lebih mirip sanggar seni daripada kampus akademik, akhirnya saya semakin mengenal dunia akademik, dengan segala macam tata cara “disiplin”-nya: dari membaca dan menulis ratusan paper hingga diskusi-diskusi yang memuaskan dahaga. Berbagai kesempatan untuk tumbuh pun datang, baik dari forum-forum hingga bahkan short course ke luar negeri. Atas rekomendasi Bu Irma (Prof. Dr. Fatimah Husein), pada tahun 2019, saya mendapatkan kesempatan yang begitu luar biasa untuk dapat mengikuti program Certificate of Advanced for Inter-religious Studies (CAS-IS) yang diselenggaran di Boggis Bossey, Switzerland. Dari kesemua itu, yang terpenting dan khas CRCS ialah pendidikan humanismenya yang sangat terasa. CRCS, ringkasnya, sudah bukan lagi sekadar kampus akademik, melainkan kampus kehidupan. Ia adalah inkubator yang melahirkan “manusia-manusia biasa” yang berdaya guna untuk sekitarnya.
Dari inkubator itulah, Brian yang sekarang dilahirkan kembali, untuk turun gunung akademik—tetapi naik kembali ke gunung-gunung yang nyata. Bermula dari perjalanan menulis tesis S-2 di CRCS, saya menelusuri lebih dalam kehidupan manusia-manusia bijak di Komunitas Lima Gunung, dengan melihat, mendengarkan, mengikuti, meresapi, mencatat, dan menyadari cara-cara “beragama” seni dan pertanian mereka. Komunitas inilah yang menelurkan Festival Lima Gunung yang melegenda. Meski masih jauh dari sempurna, dengan bimbingan Suhu Ancu, segenap refleksi itu telah beralih wahana menjadi sebuah catatan akademik, monograf tesis, berjudul “Being Religious in Artistic Ways.” Naik dan turun gunung, pulang dan pergi, dari gunung yang nyata, ke gunung akademik, terus menerus, tampaknya memang sudah menjadi laku hidup para guru di CRCS sebagai aktivis/scholar; sebuah kombinasi rupawan yang masih terus menerus saya hayati. Hal itu lantas menelurkan satu langkah lagi, sebuah festival di gunung, kampung halaman saya, Gunung Muria.
Sebagai kelanjutan dari perjalanan belajar bersama Festival Lima Gunung, saya bersama teman-teman di wilayah Muria mengadakan Festival Muria Raya. Festival yang pada tahun 2025 sudah menggapai ulang tahun kelimanya ini tentu tidak akan hadir tanpa interaksi panjang antara saya dengan CRCS dan Komunitas Lima Gunung. Ilmu dari CRCS adalah salah satu bekal utama yang saya bawa untuk dapat membaca sekaligus mengolah dengan baik segala peristiwa yang dihadirkan di setiap festival. Di situlah perjalanan naik turun gunung saya berlanjut, bermuara pada rencana monograf selanjutnya yang masih saya olah untuk kepentingan S-3: menghadirkan sekaligus merekam peristiwa produksi pengetahuan dari gunung yang nyata, Gunung Muria, dan gunung akademik di Amsterdam. Dua gunung yang terus menerus mengiringi langkah saya hingga detik ini.
Di ulang tahun CRCS ke-25 ini, saya berharap CRCS akan terus memberikan inspirasi, tidak hanya untuk mahasiswa didiknya, tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia dan dunia. Kerja-kerja luar biasa yang terus menerus dilakukan oleh para guru di CRCS, para alumni, dan sejawat penopang CRCS sudah membuktikan konsistensi untuk melahirkan ruang-ruang inspiratif tersebut. Semoga benih kebaikan ini semakin tumbuh subur di ruang-ruang baru dan terus-menerus disemai hingga generasi mendatang.
______________________
Brian Trinanda K. Adi adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2018. Baca tulisan Brian lainnya di sini.