• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Diskusi dan Buka Puasa Bersama:

Diskusi dan Buka Puasa Bersama:

  • Berita Wednesday Forum
  • 25 September 2007, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Komunis China yang secara resmi beridiology atheis merupakan penyebab kehancuran lingkungan China, karena komunis atheis China tidak berkeinginan untuk tunduk dengan kerendahan hati kepada segala kebenaran yang berlawanan dengan ?pembangunan ekonomi? mereka. Komunis China ? secara paradox- sangat anti pengetahuan, mereka hanya percaya pada tahayul Marxist-materialist-atheist mereka, walaupun hal tersebut bertantangan dengan ilmu pengetahuan. Hal tersebut menyebabkan kondisi material, lingkungan dan ekologi China sangat kacau saat ini -karena tahayul materialism China, serta Partai Komunis menolak untuk tunduk kepada kebenaran-.

Amerika ?walaupun secara nominal merupakan negara yang kebanyakan beragama Kristen- berkontribusi atas masalah ini melalui kebiasaan orang Amerika yang menuhankan material/ekonomi.

Bagaimana umat Muslim, khususnya yang hidup di alam demokrasi seperti Indonesia, dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan ekonoli/lingkungan serta juga memberikan contoh baik untuk China dan Amerika?

Jika Anda tertarik dengan topic ini, silahkan bergabung di Forum Jumat Sore CRCS. Pembicara yang akan mengisi acara ini adalah John D. Ball, ESQ (Temple University School of Law).Diskusi akan dilaksanakan pada :


Hari: Jumat, 28 September 2007
Jam: 15:00-18:00.
Tempat: Ruang 306, Gedung Sekolah Pascasarjana UGM

Untuk Info lebih lanjut, silahkan menghubungi

Iqbal Ahnaf Iqbal Ahnaf (i_ahnaf@ugm.ac.id atau 085835169940)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

vasudaiva kutubakam selamat menghayati catur brat vasudaiva kutubakam

selamat menghayati catur brata nyepi
SUAR(U)A(NG) Di antara gema takbir dan sunyi nyepi SUAR(U)A(NG)
Di antara gema takbir dan sunyi nyepi, kita belajar satu hal yang jarang diakui: yang sakral tidak selalu saling memahami. Di titik itu, iman tidak hanya soal percaya, tetapi juga soal berbagi ruang. Rahajeng lailatul nyepi.
NYALI Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang me NYALI
Nyali kerap dipahami sebagai sesuatu yang meledak-ledak. Seolah ia hadir dalam bentuk teriakan, gebrakan meja, atau keberanian untuk menantang secara dramatis. Padahal, nyali justru seringkali bersembunyi di tempat yang sunyi, pada sebuah jeda yang membuat seseorang terus berjalan dalam iman dan keadilan. Seperti para pemuka agama yang ditukil dan didongengkan oleh @nf_nuzula , Melalui sosok-sosok tersebut, nyali menemukan bentuknya yang hakiki: keberpihakan. Nyali merekalah yang membuat nyala agama tetap ada di hati rakyat dan mereka yang tertindas.
M E R A H Merah itu mencolok, laiknya luka yang ta M E R A H
Merah itu mencolok, laiknya luka yang tak sempat disembunyikan. Salib-salib merah suku Awyu berdiri di tanah yang hendak dirampas. Ia menjadi tanda bahwa ada yang sedang dipertahankan, sekaligus yang perlahan coba dihilangkan. Merah bukan sekadar warna iman. Ia berubah menjadi bahasa tentang kehilangan, tentang klaim atas ruang, dan tentang ingatan yang menolak dihapus diam-diam. 
Simak ulasan @tropicalboi tentang perlawanan masyarakat adat Awyu melalui kreativitas beragama, hanya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY