• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Kebangkitan Agama dan Partisipasi Perempuan dalam Gerakan Buruh

Kebangkitan Agama dan Partisipasi Perempuan dalam Gerakan Buruh

  • Berita Wednesday Forum
  • 10 June 2011, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Prof. Dr. Teresa Murphy hadir sebagi pembicara dalam agenda mingguan Wednesday Forum CRCS-ICRS, Rabu 2 Mei 2011. Mengangkat tema “The Importance of Religion in the US Labor Movement in the Early Nineteenth Century”, Associate Professor American Studies dari George Washington University ini memaparkan hubungan perubahan agama dan gerakan buruh (terutama buruh perempuan) pada tahun 1840-an di Amerika Serikat.

 

Murphy mengemukakan bahwa kebangkitan agama Kristen di Amerika Serikat awal abad 19 yang dikenal sebagai Second Great Awakening ditandai oleh gejala peningkatan perpindahan agama dan partisipasi gereja. Hierarki gereja tradisional mulai terdesak oleh arus baru yang menginginkan keterbukaan konsep kepemimpinan gereja. Pelayanan agama yang selama ini diselenggarakan di gereja, perlahan merambah ke perkemahan terbuka, di mana perempuan dan budak turut berpartisipasi.

 

Para perempuan yang menemukan ruang ekspresi baru itu, lebih banyak menghabiskan waktu bersama komunitas gereja dan meninggalkan keluarga di rumah. Beberapa di antara mereka bahkan berhasil menaikkan status sebagai pendeta, fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan tercatat nama-nama pendeta perempuan seperti Nancy Towle dan Salome Lincoln yang mengelilingi Amerika Serikat sendirian untuk berkhotbah.

 

Perubahan ini terus mengalir pada revisi kebijakan jam kerja. Para buruh perempuan turut dalam aksi-aksi menuntut penghapusan kerja di hari minggu, yang merupakan hari khusus untuk beribadat bagi umat Kristiani. Tidak sekedar sebagai bentuk perjuangan kebebasan menjalankan agama, keterlibatkan para pekerja perempuan dalam protes ini telah menjadi sinyal pengakuan keterlibatan mereka dalam gerakan buruh.

 

“Bagaimana peran wanita borjuis pasca kebangkitan agama?” sebuah pertanyaan mengemuka dari seorang peserta diskusi. Murphy menjelaskan bahwa wanita borjuis tak terlalu aktif dalam gerakan dan lebih banyak berdiam diri di rumah. Mereka hanya terlibat dalam beberapa aksi seperti Gerakan Anti alkohol, Gerakan Sabbath atau Gerakan Anti Perbudakan, itupun masih dalam skala yang kecil.

 

Peserta diskusi yang lain menanyakan posisi pengkhotbah perempuan. Menurut Murphy, status pengkhotbah perempuan sampai saat ini masih saja kontroversial. Ada yang menerima, ada juga yang menolak. Ketika ditanya pandangannya tentang situasi kehidupan beragama di Indonesia, Murphy menyatakan ada perbedaan antara Amerika Serikat dengan Indonesia. Di Amerika Serikat, agama adalah masalah privat sementara di Indonesia tidak. [MoU]

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

What is well-being? Indonesia today: land taken, f What is well-being?
Indonesia today: land taken, forests cleared, plantations marching under the banner of food security. Officials call it progress, yet Indigenous ground tells another story. Baduy farmers keep ngahuma alive: rice, ritual, survival, all tied together. Wellbeing here isn’t profit. It’s balance when human and earth still holding on.

Join us for the next  #wednesdayforum discussion at the 3rd floor of the UGM Graduate School building. We're offering a free iftar, so please register. This event is free and open to the public.
yuk, pendaftaran sudah dibuka ... cek syarat-syara yuk, pendaftaran sudah dibuka ...
cek syarat-syaratnya ...
jika ada yang mau tanya-tanya,
langsung meluncur ke kolom komentar ya ...
K U D A A P I Kehidupan kadang hadir seperti kuda K U D A  A P I
Kehidupan kadang hadir seperti kuda, ia tak benar-benar bisa ditambatkan. Hidup terus bergerak bukan karena sebuah kepastian, melainkan untuk menolak padam meskipun tak tahu ke mana yang akan dituju. Ke mana pun tujuanmu di tahun ini,  semoga barakah selalu menyala dalam bara.

xin nian kuaile, gongxi facai
Why has democracy declined in Tunisia and Turkey, Why has democracy declined in Tunisia and Turkey, yet remained resilient in Indonesia?
Do Muslim mass organizations, elite consensus, and the negotiated relationship between religion and citizenship hold the key? Or are there deeper structural forces at play?
Join us and be part of the conversation. Let’s rethink what sustains (or undermines?) democracy in muslim-majority societies.

Come and join new round of  #wednesdayforum 2026 discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor.  We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY