• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • “Keluarga Teroris” Bukanlah Fenomena Baru

“Keluarga Teroris” Bukanlah Fenomena Baru

  • Perspective
  • 15 May 2018, 16.08
  • Oleh: ardhy_setyo
  • 0

“Keluarga Teroris” Bukanlah Fenomena Baru

Suratno – 15 Mei 2018

Peristiwa pengeboman tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 benar-benar mengejutkan publik. Pelakunya ternyata satu keluarga, berjumlah enam orang, yang terdiri dari ayah, ibu, dua anak laki-laki (18 dan 16 tahun) serta dua anak perempuan (12 dan 9 tahun). Bagaimana ini bisa terjadi?

Dalam sejarah gerakan teroris, sebenarnya fenomena “keluarga teroris” bukanlah hal baru. Riset Donatella della Porta pada 1995 tentang organisasi kiri Italia, Brigade Merah (BM), misalnya, menunjukkan bahwa 298 dari 1.214 anggota BM memiliki hubungan darah/keluarga, dalam ikatan suami-istri atau hubungan saudara. Laporan Komisi 9/11 Amerika menunjukkan bahwa enam dari 19 pembajak pesawat dalam peristiwa 9/11 memiliki saudara di dalam kelompok ini. Pelaku bom Boston tahun 2013 adalah Tsarnaev bersaudara. Dalam peristiwa Charlie Hebdo di Prancis (Januari 2015) ada Kouachi bersaudara, dan di serangan Paris (November 2015) ada Abdeslam bersaudara. Abu Musab al-Zarqawi, pendiri organisasi  at-Tawhid wal-Jihad (yang menjadi embrio ISIS), juga memanfaatkan ayah-mertuanya Yassin Jarrad untuk membawa bom yang membunuh Muhammad Baqir al-Hakim, salah seorang pemimpin Syiah di Irak, pada 2003. Di Indonesia, kita masih ingat bahwa tiga pelaku Bom Bali I tahun 2002, yakni Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron, adalah kakak-adik.

Mengapa membentuk “keluarga teroris”?

Untuk membentuk jaringan, memanfaatkan ikatan keluarga dan pernikahan adalah metode yang mudah dilakukan. Anggota kelompok teroris berusaha mengajak sanak saudara mereka untuk bergabung. Selain itu, mereka berusaha menikahkan saudara atau anak perempuan mereka dengan teman sesama teroris.

Di antara contoh yang sudah terjadi: Abdullah Azzam, ideolog dan pendiri Al-Qaeda, menikahkan anak perempuannya dengan anak-didiknya, Abdullah Anas dari Aljazair. Abu Muzab al-Zarqawi juga menikah dengan saudara perempuan sahabat dekatnya, Khaled al-Aruri. Osama bin Laden disebut-sebut menikah dengan Amal al-Sadah, anak pembesar sebuah suku di Yaman, guna memudahkan perekrutan anggota Al-Qaeda di negara itu. Di Indonesia, Ali Ghufron menikah dengan Paridah Abas, saudara perempuan Nasir Abas sesama alumni Afghan. Baridin atau Baharuddin Latif juga menikahkan anak perempuannya, Arina Rahma, dengan Noordin M Top. Contoh lain masih banyak.

Persaudaraan dan pernikahan merupakan metode yang efektif dalam membentuk jaringan “keluarga dan kelompok teroris” karena ada pengaruh psikologis yang bisa mengikat dan saling menguatkan satu sama lain. Dengan metode itu, mereka bukan saja menjadi (sesama) anggota kelompok teroris, melainkan juga menjadi sekeluarga. Saling menguatkan di sini berlaku secara afektif dan kognitif. Afektif, karena mereka merasa dekat sebagai satu keluarga. Kognitif, karena kedekatan itu bisa dimanfaatkan untuk peer pressure dan jaminan loyalitas. Kombinasi hal-hal ini akan menjadi ikatan yang sangat kuat.

Dari sisi perekrutan, memanfaatkan saudara dan ikatan pernikahan juga membuat proses membangun kepercayaan (trust building) lebih mudah dilakukan, dibanding dengan orang asing atau orang yang belum akrab. Di tengah pengawasan ketat aparat yang membuat ruang gerak kelompok teroris sangat terbatas, teroris harus berhati-hati sekali dalam merekrut calon anggota. Pilihan yang tidak terlalu berrisiko adalah memanfaatkan hubungan keluarga dan/atau melalui pernikahan. Ini sangat penting untuk meminimalisasi perekrutan salah orang dan menjaga rahasia kelompok, yang merupakan sebuah keniscayaan bagi eksistensi, kerahasiaan, dan keberlanjutan gerakan kelompok teroris.

Implikasi dari hal ini adalah bahwa figur yang tidak punya rekam jejak teroris bisa tiba-tiba menjadi teroris karena direkrut saudaranya atau dinikahkan dengan anggota keluarga teroris. Dzhokhar Tsarnaev, pelaku Bom Boston, boleh dikata adalah seorang “teroris ikut-ikutan” karena diajak kakaknya Tamerlan Tzarnaev. Dalam kasus Indonesia, Ali Imron juga dalam taraf tertentu bisa disebut sebagai “teroris ikut-ikutan” karena pengaruh besar dari kakaknya, Ali Ghufron.

Bagaimana dengan pelibatan anak-anak?

Pelibatan anak-anak dalam gerakan terorisme juga bukan hal yang sama sekali baru. Otak serangan Paris 2015, Abdelhamid Abaaoud, misalnya, mengajak adiknya, Younes, yang berusia 12 tahun untuk ke Suriah bergabung dengan ISIS. Dia juga melibatkan sepupu perempuannya yang berusia belasan tahun Hasna Ait Boulahcen untuk menjaga apartemennya di Saint Denis Paris—Hasna tewas dalam penggerebekan polisi. Yang jamak diketahui adalah bahwa kurun 2013-2016 banyak sekali ekstrimis dari seluruh dunia (termasuk dari Indonesia) yang pergi ke Irak dan Suriah untuk bergabung ke ISIS dengan mengajak serta keluarga dan sanak saudaranya termasuk yang masih anak-anak dan remaja. Tentu saja anak-anak dan remaja itu bisa dikatakan menjadi ekstrimis “ikut-ikutan” saja karena ajakan orang tua mereka.

Lalu apa?

Di era media sosial kini, dengan makin besarnya potensi kemunculan  “lone fighters” (teroris yang tidak menduduki posisi struktural organisasi teroris dan bertindak atas inisiatif sendiri karena terinspirasi oleh seruan pemimpin gerakan teroris), kemungkinan munculnya “keluarga teroris” juga makin besar. Penanganan “deradikalisasi” dengan menelusurinya hingga level keluarga bukan pekerjaan mudah. Penggalian informasi akan terhalang hingga level tertentu oleh beban psikologis dari ikatan keluarga. Meski tak mudah, ini satu aspek yang tidak bisa dikesampingkan dalam upaya meredam gerakan terorisme.

_______

Gambar header: ratusan orang berkumpul di Tugu Yogyakarta, Minggu malam, 13 Mei 2018, dalam aksi solidaritas lintas agama melawan terorisme setelah terjadinya bom di Surabaya pagi harinya. Kredit: Greg Vanderbilt.

Tags: Terorisme

Instagram

Much has been said about faith and ecology—but one Much has been said about faith and ecology—but one question often slips through the cracks: who is actually paying for it?
Behind every conservation effort, there are financial choices, priorities, and actors shaping what is possible. This talk with dives  into the often-overlooked terrain of sustainable financing in the intersection of religion, ecology, and conservation in Indonesia. 
Come and join in a thought-provoking discussion with @sofjandicky at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Kuliah itu SCAM? Apa sih bedanya SCAM versi anak Kuliah itu SCAM?

Apa sih bedanya SCAM versi anak CRCS UGM?
 #skill #connection #attitude #mindset #fyp
B A T A S Ada momen ketika agama hadir sebagai ba B A T A S 
Ada momen ketika agama hadir sebagai bahasa terakhir untuk bertahan. Seperti perempuan-perempuan di Sudan yang mempertanyakan apakah bunuh diri bisa menjadi jalan pulang yang lebih manusiawi daripada hidup dalam kekerasan. Ini merupakan situasi ekstrem ketika dosa dan keselamatan tidak lagi nyata dalam keseharian sementara dunia memilih diam. Pada titik itu, mereka memilih untuk berbicara "langsung" kepada Tuhan melalui jalan yang kelam.

Simak refleksi @safinatul_aula tentang bunuh diri dan agensi "kesalehan" di situs web crcs
A N G K E R Makam menjadi ruang pisah antara yang A N G K E R
Makam menjadi ruang pisah antara yang hidup dan mati. Mereka yang masih bernyawa melanjutkan cerita, mereka yang mati bersemayam di makam. Pada titik ini, makam memisahkan antara yang sakral dan profan, yang adi kodrati dan yang sehari-hari. Namun, makam juga menjadi ruang jumpa antarkeduanya. Yang hidup menceritakan ulang kisah yang meninggal sehingga mendiang terus mengada. Selama kisah diceritakan dan nama terus diumbulkan ke langit, selama itu pula mereka mengabadi. Karenanya, makam itu angker, sebuah jangkar yang menakutkan dan menautkan sekaligus. 

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 terkait makam di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY