• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Membangkitkan Kembali Institusi Sosial dan Budaya Bangsa

Membangkitkan Kembali Institusi Sosial dan Budaya Bangsa

  • Berita Wednesday Forum
  • 6 June 2007, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Edisi Resonansi ke 31 yang akan disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 7 Juni 2007 akan mendiskusikan ?Membangkitkan Kembali Institusi Sosial dan Budaya Bangsa?. Selain di RRI, Resonansi talkshow dapat disaksikan di TVRY-Jogja pada hari Jum?at dan Senin (8 dan 11 Juni 2007) pada jam 18.00-17.00 atau dapat dibaca di koran Radar Jogja pada tanggal 11 Juni 2007.

Krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian melebar, serta ancaman kelaparan dan sebagainya merupakan problem serius yang saling terkait satu sama lain di era millennium ketiga sekarang ini. Problem, kehidupan pada era informasi ini juga merambah kehidupan domestik dan personal. Maraknya kasus perceraian, penggunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia, dan bunuh diri yang disebut oleh Fritjof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban” telah menjadi bagian keseharian kehidupan modern. Perkembangan sains dan teknologi yang menjadi ikon modernitas ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteran manusia karena harus dibayar mahal dengan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Institusi-insitusi sosial dan budaya yang memuat nilai-nilai luhur yang mampu menyelaraskan manusia dengan Tuhan, alam dan lingkungan sosialnya perlahan-lahan terbang jauh ditelan zaman yang lebih mementingkan rasionalitas dan keuntungan ekonomi dibanding hati nurani.

Institusi sosial seperti adat-istiadat, norma, aturan, pandangan hidup tradisional atau kearifan-kearifan lokal, dan sebagainya yang dulu menjadi panduan menjalani kehidupan baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun sebagai hamba Tuhan; memberi makna; dan juga perekat antar keluarga maupun masyarakat semakin lama semakin melemah karena dianggap tak sejalan dengan logika modernitas, alias tidak praktis dan ekonomis sehingga semakin ditinggalkan.

Keterasingan akibat ketercerabutan dari akar budaya karena mengikuti perubahan yang tak dipahami betul mengapa dan untuk apa membuat manusia modern umumnya dan Indonesia khususnya mencoba mencari kohesi-kohesi untuk mengisi keintiman yang tak lagi ditemukan dalam keluarga ataupun lingkungan sosialnya dengan membentuk club-club society. Baik club society yang didasarkan pada persamaan hobi, gaya hidup, cara pandang, kepemilikan, kebutuhan maupun idiologi dengan password-nya sendiri-sendiri. Intimacy semacam ini menurut Prof. Irwan Abdullah berpotensi menimbulkan clash karena tidak adanya collective password yang bisa mempertemukan mereka. Sehingga dimasa mendatang potensi konflik bukan lagi di persoalan SARA akan tetapi konflik pemakaian ruang cultural dengan adanya klub-klub ini.

Konflik-konflik ini bisa diantisipasi dengan merevitalisasi ataupun mereproduksi institusi-institusi sosial dan kebudayaan yang bisa menjadi ruang komunikasi dan sosialisasi nilai-nilai bersama yang bisa mendekatkan kembali masyarakat baik dengan dirinya sendiri, keluarga maupun lingkungan sosialnya. Atas dasar inilah RESONANSI merasa perlu untuk mengajak masyarkat untuk menghidupkan kembali institusi-insitusi sosial yang sarat dengan nilai-nilai luhur ini. Untuk itu beberapa hal yang akan didiskusikan dalam talkshow ini meliputi:

Untuk mengantisipasi konflik dengan merevitalisasi sosial institusi dan budaya bangsa yang bisa mengkomunikasikan nilai-nilai bersama yang bisa mendekatkan masyarakat dengan diri mereka, keluarga maupun lingkungan sosialnya. Resonansi edisi 31 ini akan berbicara tentang membangkitkan kembali institusi sosial dan budaya bangsa. Beberapa isu yang akan dibicarakan dalam talkshow ini adalah: Bagaimana institusi sosial dan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur dapat terkikis oleh nilai-nilai modernitas? Bagaimana modenitas berpengaruh terhadap individu, keluarga dan masyarakat? Bagaimana kekuatan lokal dapat menandingi modernitas? Bagaimana peran pemimpin agama dalam merevitalisasi institusi sosial dan budaya? Dan lain-lain.

Untuk mempelajari permasalahan tersebut lebih komprehensif, Resonansi akan mengundang 2 orang pakar. Mereka adalah:

  1. Dr. Pande Made Kutanegara. (Dosen anthropologi UGM serta peneliti pada Pusat Studi Kependudukan, UGM) Sebagai antropolog dan peneliti sosial budaya, pembicara diharapkan dapat memaparkan proses terjadinya pengikisan sosial dan budaya bangsa oleh modernitas dan juga contoh-contoh kekuatan-kekuatan lokal di nusantara yang penting untuk direvitalisasi ataupun dipertahankan.
  2. HM. Nasrudin Anshory, CH. (Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Ilmu Giri). Selaku pelaku budaya dan pemimpin institusi budaya yang telah melakukan reproduksi tradisi diharapkan dapat memaparkan andil komunitas keagamaan dalam menghidupkan kembali institusi sosial, serta kekuatan-kekuatan lokal yang bisa dihidupkan dan dikembangkan kembali, bagaimana itu bisa dilakukan serta kendala- kendala apa yang muncul.

Acara ini seperti biasa akan dipandu oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah dari CRCS UGM dan akan dihadiri oleh Anand Ashram Yogyakarta.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY