• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Alumni
  • Mengenal Agama dan Mendalami Bahasa

Mengenal Agama dan Mendalami Bahasa

  • Berita Alumni
  • 7 July 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

“Secara umum CRCS bagus, pertahankan excellency-nya kecemerlangannya. Kalau ada suara-suara sumbang, itu biasa, jadikan masukan.” Demikian ungkapan, Ismail Yahya, alumni CRCS angkatan 2001, ketika ditanyakan mengenai pendapatnya tentang CRCS. Ia yang kini menjabat sebagai Ketua Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta mengakui bahwa pengalaman kuliah di CRCS membantunya dalam menjalani pekerjaannya saat ini.

 

Selain menjadisalah satu pimpinan di STAIN Surakarta, Yahya juga menjabat sebagai ketua Indonesian Society for Religion and Civilization (ISRAC), pengurus Majelis Ulama Islam (MUI) Solo pada komisi Hukum dan Ekonomi Syariah, sebagai pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Surakarta (MESS). Kegiatan mengajar dan meneliti tidak luput pula dari berbagai jabatan tersebut.

 

Tentunya pengalaman berkuliah di CRCS telah membantunya dalam menjalankan berbagai jabatan dan kegiatan tersebut. “CRCS luar biasa, saya banyak berterimakasih”, tegasnya. Menurut Yahya, selama di CRCS ia mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbahasa Inggris. “Saya semakin familiar dengan bahasa Inggris, menulis artikel berbahasa Inggris, lebih pede dan terbiasa.”

 

Di CRCS ia menemukan keakraban. “Tidak ada jarak antara mahasiswa dan dosen, ini sulit untuk ditemukan di kampus lain”, jelas Yahya. Ia menambahkan, fasilitas yang mendukung di CRCS sangat mempengaruhi pola belajar, ditambah lagi ia pernah diajar oleh dosen-dosen yang ahli dibidangnya, seperti Mahmoud Ayoub, Christine Gudorf, Rebbeca, dan beberapa dosen lainnya. Mereka telah membantunya untuk berpikir lebih runtut, fokus dan well-planned.

 

Oleh karena pengetahuan dan keterampilan tersebut, Yahya sempat melakukan riset di Australian National University (ANU) berangkat dari tulisan-tulisan yang pernah ditulisnya. Kumpulan tulisan tersebut kini telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Generasi Baru Peneliti Muslim Indonesia: Mencari Ilmu di Australia.” Berbekal pengalaman-pengalaman itu pula Yahya kini berencana akan meneruskan studi S3 di UI untuk bidang Filologi.

 

Ia mengakui bahwa ia tidak lagi fokus pada studi agama dengan pekerjaannya saat ini. Namun paling tidak, ia bisa mengkombinasikan pengalaman belajarnya di CRCS dengan kuliah-kuliah yang diampunya, sebut saja salah satunya Metode Studi Islam. Selain itu, menurutnya kini ia mempunyai cara pandang yang berbeda tentang agama lain. “Semakin saya mengenal agama lain, semakin saya mengenal agama saya lebih baik.” Ungkapan Yahya ini seirama dengan pandangan Tom Michel.

 

Yahya menambahkan bahwa, “Kalau Allah ingin menciptakan satu umat, pasti gampang saja. Tetapi ada banyak, berlomba-berlomba untuk mencapai kebenaran. Sesama umat manusia mencari kebenaran itu. “Dengan masyarakat disekitarnya yang cenderung homogen, mayoritas Muslim, dan jarang terjadi konflik, Yahya berharap tidak muncul persoalan keagamaan, dan masyarakat tidak berpikiran sempit. (JMI)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY