• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Meninjau Kembali Inferioritas Mitos terhadap Sains

Meninjau Kembali Inferioritas Mitos terhadap Sains

  • Perspective
  • 13 January 2022, 17.44
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Meninjau Kembali Inferioritas Mitos terhadap Sains

Krisharyanto Umbu Deta – 13 Januari 2022

Perdebatan mengenai mitos kerap terjebak pada pertanyaan apakah ia mengandung kebenaran atau kerancuan. Mitos kerap dianggap sebagai cerita masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun dan berperan penting dalam kehidupan masyarakat tetapi senantiasa dicurigai validitasnya. Pandangan semacam ini dilanggengkan dengan berbagai definisi-mitos yang cenderung reduksionis. Oxford Universal Dictionary misalnya mendefinisikan mitos sebagai, “sebuah naratif yang murni fiksional, biasanya melibatkan sosok, tindakan, atau peristiwa supranatural, dan merepresentasikan ide populer mengenai fenomena alam dan sejarah.” Sementara American Heritage Dictionary dengan cara serupa mendefinisikan mitos sebagai, “sebuah cerita tradisional yang berasal dari masyarakat praliterasi, yang berkenaan dengan sosok supranatural, leluhur, atau tokoh kepahlawanan yang merupakan bentuk-bentuk purbakala dari sebuah pandangan primitif mengenai dunia.” Kedua pengertian tersebut menempatkan mitos dalam posisi inferior terhadap sains yang seringkali dianggap lebih historis, faktual dan objektif.

Akan tetapi, beberapa sarjana seperti Levi-strauss, Karen Armstrong, James Cox, dan Morton Klass menolak pandangan reduksionis semacam itu. Melalui karya-karyanya, mereka bersepakat bahwa mitos kerap diinterpretasikan secara problematis. Ia direduksi semata-mata sebagai sebuah spekulasi filosofis yang mentah, bersifat fiksional, atau tidak benar. Meminjam kritik Levi-strauss dan Armstrong, dua inisiator paling berpengaruh dalam kajian tersebut, tulisan ini merespons pandangan-pandangan reduksionis yang telah membentuk inferioritas mitos tersebut baik dalam diskursus publik maupun akademik. Levi-strauss, dengan pendekatan antropologi strukturalnya, menunjukan bagaimana mitos bekerja dalam masyarakat dengan struktur sistem terorganisasi yang tidak kalah dengan sains. Sementara Armstrong dengan pendekatan historis menunjukan bagaimana mitos dalam sejarahnya diposisikan dan disikapi terutama dalam hubungannya dengan sains.

Mitos dan Historisitas

Mitos seringkali diperhadapkan dengan saudara kembarnya, sejarah. Keduanya sama-sama menarasikan sekaligus merepresentasikan sebuah kejadian di masa lampau. Bedanya, mitos seringkali dianggap ahistoris karena kejadian yang dinarasikan dalam mitos seringkali tidak dapat dicek bukti-bukti historisnya. Akan tetapi, Karen Armstrong dalam A Short History of Myth (2004) menggambarkan bagaimana mitos bekerja secara historis sekaligus ahistoris. Yang menarik, Armstrong menggunakan kisah Yesus sebagai contoh. Yesus tidak sekadar figur historis yang hidup sekitar dua milenium silam, tetapi juga sebuah inspirasi dan realitas keagamaan bagi umat kristiani hingga saat ini. Faktualitas sosok Yesus dipahami bukan dari bukti-bukti historis, melainkan dari transformasi dan cara hidup umat yang berusaha menghadirkan sosoknya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, berbagai peristiwa keagamaan penting dalam hidup Yesus—seperti kelahiran, kematian, maupun kebangkitannya—telah tecerabut dari rentang waktu sejarah dan berubah menjadi sebuah mitos agar terus hidup. Dengan kata lain, mitos dapat bersifat historis dan ahistoris secara serempak.

Keserempakan inilah yang membentuk sifat historisitas mitos. Menurut Levi-Strauss dalam “The Structural Study of Myth” (1958), walaupun sering merujuk pada peristiwa tertentu jauh di masa lalu, mitos juga menghadirkan penjelasan tentang masa kini dan masa depan. Levi-Strauss menyebut karakter mitos ini sebagai timeless pattern ‘pola tak-terbatas-waktu’ atau nirwaktu. Ia mengambil Revolusi Perancis sebagai contoh. Bagi sejarawan, peristiwa tersebut merupakan sebuah urut-urutan kejadian di masa lalu yang tidak dapat diulang walaupun dampaknya masih bisa dirasakan hingga kini. Namun, menurut politisi, revolusi tersebut juga merupakan sebuah pola yang dapat ditemukan dalam struktur sosial masyarakat Perancis kontemporer dan memberi petunjuk tentang perkembangan di masa depan. Karenanya, Revolusi Perancis merupakan sebuah peristiwa sejarah sekaligus menjadi sebuah mitos. Dalam konteks ini, Levi-strauss menyandingkan mitos dengan politik yang menurutnya adalah pengganti mitos di masyarakat modern.

Persoalan lain yang kerap diproblematisasi dalam memahami mitos adalah keberadaan berbagai versi dari sebuah mitos. Tak jarang, varian mitos tersebut saling berkontradiksi yang mendorong pada pencarian versi manakah yang asli atau yang paling valid. Merespons ini, Levi-strauss mengatakan keanekaragaman varian dalam mitos tersebut bukanlah sebuah masalah—bahkan ketika kita hanya memiliki varian dari narasi mitos yang kita ketahui karena hampir mustahil menemukan semua varian mitos dalam masyarakat. Semakin banyak varian yang didapatkan, akan semakin terlihat pola tak-terbatas-waktu dari mitos tersebut. Dengan kata lain, sebuah mitos akan tetap “sama” sejauh polanya dapat ditangkap.

Keberadaan berbagai versi dari sebuah mitos tak lepas dari cara kerja mitos, terutama yang berakar pada tradisi lisan, yang memang cenderung diduplikasi bahkan ditriplikasi, dan seterusnya. Repetisi tersebut berfungsi untuk menampilkan struktur dari mitos tersebut. Sebagaimana disinggung oleh W. J. Ong dalam Orality and Literacy (1982), kelisanan cenderung bersifat partisipatoris dan situasional. Artinya, kelisanan secara terus-menerus membentuk makna dan strukturnya dari pengalaman kehidupan sosial sehingga selalu kontekstual dan relevan. Pada mitos yang berbentuk tulisan, usaha untuk menangkap pola tak-terikat-waktu ini terbungkus dalam rangakian kata pada tulisan tersebut—yang tentu saja tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu ia dituliskan. Singkatnya, baik mitos lisan maupun tulisan sama-sama memiliki pola tak-terikat-waktu yang terbentuk melalui proses transmisi dan kontekstualisasi terus menerus.

Mitos dan Sains

Selanjutnya, mitos kerap diperhadapkan juga dengan sains, simbol dari modernitas yang dianggap superior. Melalui pendekatan strukturalismenya, Levi-strauss menyimpulkan bahwa pembedaan antara mitos dan sains sebenarnya tidak merujuk pada perbedaan kualitas. Baik sains maupun mitos memiliki proses berpikir dan alur logika yang sama baiknya. Perubahan dari mitos ke sains juga bukan perkembangan cara berpikir dari yang buruk ke yang baik. Bagi Levi-strauss, mitos dan sains adalah dua entitas berbeda yang memiliki fungsinya masing-masing.

Senada dengan itu, Armstrong menyebutkan bahwa anggapan mengenai inferioritas mitos yang didasarkan pada persoalan faktualitasnya adalah kekeliruan. Pada dasarnya mitos tidak mengklaim fakta objektif, tetapi memberi bayangan mengenai kemungkinan-kemungkinan baru. Karenanya, sebuah mitos dianggap bisa diterima bukan karena ia faktual, melainkan karena ia memberi wawasan, makna hidup, dan harapan baru bagi manusia. Dalam konteks semacam ini, bagi Armstrong, keterputusan manusia dengan mitos telah menimbulkan kekosongan spiritual. Lebih lanjut, kekosongan ini rupanya juga berdampak secara ekologis. Setelah mitos dilepaskan, alam kehilangan makna spiritualnya dan sekadar menjadi objek kajian sains.

Pemisahan yang tegas antara sains dan mitos terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 yang dikenal juga sebagai Abad Penalaran (Age of Reason). Pada masa ini muncul filsuf dan akademisi seperti Rene Descartes, Frans Bacon, dan Isaac Newton yang melucuti segala ilmu pengetahuan dari segala mitos—agama termasuk di dalamnya. Pada masa ini, penalaran merupakan alat utama untuk memahami dunia. Dunia yang dapat dilihat, dicium, dikecap, dan dipersepsi oleh indra hanyalah delusi. Dunia yang nyata adalah dunia dengan perangkat matematisnya yang hanya bisa dipahami melalui nalar para intelektual.

Namun, seperti yang ditunjukkan Levi-strauss dalam Myth and Meaning (1978), pemisahan sains dan mitos tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Sains dengan cara kerjanya memiliki banyak keterbatasan. Menurut Levi-strauss, sains sebenarnya hanya memiliki dua cara kerja yaitu reduksionis dan strukturalis. Sains menjadi reduksionis ketika ia bisa mereduksi sebuah fenomena yang sangat kompleks menjadi lebih sederhana. Ketika sains tidak dapat mereduksi fenomena yang terlalu kompleks, sains menjadi strukturalis karena hanya mampu mendekati kompleksitas tersebut dengan berusaha memahami hubungan-hubungan di antaranya. Dengan demikian, sains tidak mungkin mampu menjawab semua persoalan karena akan selalu ada jurang antara jawaban yang diberikan sains dan pertanyaan baru yang muncul dari jawaban tersebut.

Karenanya, Levi-staruss menggarisbawahi bahwa mitos dan sains bekerja dengan cara yang berbeda. Baik mitos maupun sains digerakkan oleh dorongan untuk memahami dunia sekitar, alam, dan masyarakat mereka. Bedanya, jika pola pikir mitos bertendensi untuk mencapai pemahaman total mengenai dunia, maka pola pikir sains menekankan pada penjelasan sebuah fenomena secara spesifik dan terbatas melalui tahapan-tahapan metodologis. Perbedaan ini pada akhirnya membentuk karakteristik masyarakat. Menurut Levi-strauss, masyarakat yang berorientasi pada tradisi oral (berbasis mitos), cenderung memiliki pengetahuan yang sangat teliti mengenai lingkungan dan sumber daya mereka. Mereka memiliki perangkat-perangkat intelektual, persis seperti filsuf bahkan pada tingkatan tertentu seperti saintis, walaupun tidak sepenuhnya sama. Masyarakat Marapu di Sumba misalnya. Mereka memiliki pengetahuan agrikultur tentang tahapan perkembangan jagung dari bulan ke bulan tanpa harus menuliskan atau membaca panduan khusus sebagaimana dilakukan dalam sains. Pengetahuan ini terkait erat dengan ritual keagamaan yang mereka lakukan.

Namun, perbedaan pola pikir antara sains dan mitos ini tidak berarti perceraian antara keduanya. Dalam banyak kasus, sains justru membantu manusia “modern” untuk memahami apa yang ada di dalam mitos. Misalnya, pengetahuan agrikultur Marapu ternyata divalidasi juga oleh ilmu pertanian terkini. Akan tetapi, ini bukan berarti mitos membutuhkan afirmasi, konfirmasi, ataupun validasi dari sains. Orang Marapu sudah hidup dengan pengetahuan adat tersebut via mitos sejak dulu. Pengetahuan adat yang lahir tanpa metode ilmiah tersebut adalah bentuk pemahaman mereka yang terbangun dari pengalaman panjang. Dalam hal ini, validasi ilmu pertanian justru digunakan untuk menunjukan kepada orang “modern” itu sendiri bahwa orang Marapu bisa mencapai tingkat pengetahuan yang sama validnya dengan apa yang dihasilkan kerja-kerja saintifik.

Karenanya, anggapan bahwa masyarakat berbasis tradisi oral dan mitos sekadar hidup untuk menghindari kelaparan adalah keliru. Bagi Levi-strauss, mereka justru mampu berpikir jernih. Dengan potensi mereka, masyarakat ini sebenarnya bisa saja mengubah cara berpikir mereka seturut perkembangan sains. Namun, hal semacam itu tidak mereka butuhkan mengingat cara hidup dan relasi mereka dengan alam (sebagai contoh, lihat “Resistensi Adat Marapu melawan kuasa korporasi dan sekularisasi tanah”). Keberagaman pola pikir dan cara hidup ini bukanlah sesuatu yang direncanakan atau disengaja. Sangatlah alamiah ketika suatu masyarakat mengembangkan karakteristik mereka yang unik sesuai dengan kondisi dan pengalaman yang panjang. Oleh karena itu, alih-alih mengatasi perbedaan ini, yang perlu diatasi adalah tendensi untuk melakukan sentralisasi pengetahuan.

Dengan demikian, cara pandang terhadap mitos yang peyoratif maupun anggapan superioritas sains atas mitos tidak dapat diterima begitu saja. Apalagi ketika hal tersebut digunakan untuk menstigma dan mendehumanisasi subjek yang memegangnya, di antaranya masyarakat adat dan penganut agama leluhur. Lantas, bagaimana seyogianya mitos itu dipahami dalam konteks masyarakat pengampunya maupun konteks perkembangan sains dan teknologi hari ini? Mengapa ia masih ada dan perlukah ia terus ada?

Baca Mitos dan Sains (bagian 2): Menuju Pemahaman Baru soal Mitos

______________________

Krisharyanto Umbu Deta adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2020. Baca tulisan Umbu lainnya di sini.

ilustrasi tajuk artikel ini merupakan potongan dari lukisan “The Creation of Adam” (1511)  oleh Michelangelo 

Tags: krisharyanto umbu deta Mitos sains

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY