• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Meraga dalam Telaga

Meraga dalam Telaga

  • Berita, News
  • 5 May 2025, 13.55
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Gugur Gunung Tandang Gawe merupakan ungkapan Jawa yang merujuk pada semangat gotong royong masyarakat untuk menggarap suatu pekerjaan tanpa pamrih. Kalimat tersebut terpampang pada selembar kain putih yang terbentang pada sebuah pohon jati. Di sebelahnya terdapat sebuah mural yang melukiskan seorang wanita petani dengan tulisan “Future is Today”. di atasnya. Beragam kalimat tersebut menggambarkan harapan masyarakat Dondong, Gunungkidul, di tengah surutnya air telaga.

Pada 26–27 April lalu, mahasiswa kelas “Interreligious Dialogue” dan “Indigenous Religion” CRCS UGM dan ICRS menyambangi Festival Telaga Gunungkidul di Dukuh Dondong, Desa Jetis, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Yang menjadi motor festival ini ialah Ikatan Pemuda Pemudi Dondong (IPPD).  Anak-anak muda Dondong tersebut berkolaborasi dengan beberapa komunitas pegiat lingkungan—beberapa di antaranya ialah komunitas Resan, Sekolah Banyu Bening, serta komunitas Tree of Heart. Bertajuk “Telaga Heritage Hidup dan Menghidupi”, festival ini merupakan sebuah bentuk upaya kolektif untuk mengembalikan fungsi telaga sebagai obyek vital bagi masyarakat sekitar yang selama beberapa bulan terakhir tengah mengering.  

Acara yang digelar selama dua hari satu malam ini juga membuka ruang bagi warga untuk menggerakkan roda ekonomi mereka. Kios-kios berdiri di sekitar lokasi perkemahan, menyediakan berbagai makanan tradisional serta minuman. Ada yang menjual nasi kucing, klepon, hingga sate ayam yang disajikan dalam pincuk daun pisang. Anek lapak tersebut tak sekadar menjadi sarana pemenuhan pangan kami selama dua hari satu malam, tetapi juga membuka ruang interaksi antara pengunjung dan warga. 

Pada malam hari, pelataran utama festival mulai dipadati oleh warga, dari anak-anak hingga orang tua. Sambil duduk lesehan di atas tikar, kami menonton sebuah film pendek berjudul Hamane Nangdi? karya Humatera. Film tersebut menampilkan perjalanan sekelompok anak mencari hama dengan cara bertanya pada setiap orang yang mereka jumpai, baik di jalanan, pasar hingga sebuah candi. Langkah mereka terhenti di atas puncak gunung yang penuh dengan asap serta suara bising dari berbagai alat berat. Tak jauh dari aktivitas industri tersebut, terdapat hamparan perkebunan kentang yang dimiliki oleh warga desa. Realita tersebut menunjukkan bagaimana petani kerap bergelut dengan berbagai “hama” yang mengganggu kegiatan sehari-hari.

Film tersebut membuka pertanyaan reflektif tentang cara manusia memandang alam sebagai objek yang perlu dimodernisasi. Dalam sesi diskusi, Mbah Harso yang menjadi Kaum (penjaga) Telaga Dondong, mengungkapkan bahwa telaga merupakan sebuah hasil dari sebuah fenomena alam yang menjadi dinding alami untuk menampung air hujan, baik yang turun langsung dari langit maupun yang disalurkan melalui akar pohon. Sayangnya, di dasar telaga kerap terdapat luweng maupun lubang yang membuat air telaga mengering. Dalam merespons hal tersebut, masyarakat Dondong memiliki sebuah kearifan lokal yang bernama edrek-edrek, atau memadatkan dasar telaga untuk menutup pori-pori tanah yang masih terbuka.

Pada mulanya, aktivitas edrek-edrek tersebut dilakukan secara alami oleh kerbau milik warga yang kerap berkubang di telaga ketika surut. Gerakan menggeliat kerbau di atas tanah sambil membuang kotoran mampu membuat dasar telaga menjadi rapat. Penjelasan Mbah Harso tersebut mendapat afirmasi dari Agus Prasetya, dosen Teknik Kimia UGM. Menurutnya, mikroba mampu mengeluarkan cairan yang dapat melekatkan tiap butir tanah. Karenanya, penggunaan semen justru dapat menghancurkan ekosistem yang telah terbangun melalui proses alamiah serta menghambat sirkulasi air tanah.

Pada hari berikutnya, warga mulai memadati pinggiran telaga untuk mengikuti Merti Telaga. Tampak ibu-ibu sedang membagikan seporsi nasi di atas daun pidang yang dibentuk layaknya piring kepada para pengunjung. Tak lama berselang, beberapa pemuda dengan berpakaian adat Jawa, lengkap dengan keris serta blangkon mulai memasuki arena festival. Dalam prosesi tersebut, mereka mengarak sebuah gunungan berisi aneka buah-buahan, umbi-umbian serta sayuran tersebut dilarungkan ke tepian Telaga Dondong. Gunungan itu kemudian diperebutkan oleh para warga yang sekaligus memulai praktik edrek-edrek.

Warga dengan antusias turun ke telaga untuk merebut hasil bumi dari sebuah gunungan serta berlomba-lomba untuk menangkap ikan. Ada yang membawa jaring ikan, alat penampi hingga ember sebagai wadah untuk hasil tangkapan mereka. Dengan menginjak-injak dasar telaga, tanah akan menjadi lebih padat sehingga air yang tertahan tak akan mudah surut.

Cara masyarakat Dondong menghidupi tradisi merefleksikan sebuah relasi yang erat antara manusia dan alam. Melalui pengetahuan lokal yang terwariskan secara temurun, semua entitas saling terhubung di dalam telaga dondong, mulai dari tanah, akar, air, manusia, hingga hewan. Masing-masing memiliki peran untuk saling bersinergi.  

Apa yang kerap kita pikirkan mengenai “modernisasi”, nyatanya tak melulu soal kemajuan zaman, teknologi, apalagi pengetahuan Barat. Pemikiran sempit macam ini justru akan berdampak pada eksploitasi lingkungan. Melalui pengetahuan lokalnya, manusia ikut berperan dalam sistem alam bekerja dan sistem tersebut perlu dikukuhkan melalui ritual (Hart, 2010: 7). Edrek-edrek tak sekadar seremoni, tetapi bentuk relasi antara manusia dan alam. Tiap langkah kaki manusia memiliki peran penting dalam menjaga agar daya resap tanah tetap kuat, sekalipun di tengah musim kemarau. Dengan begitu, telaga akan mampu untuk menampung air lebih lama-menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

______________________

Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Leo lainnya di sini.

Foto tajuk artikel: Afkar Aristoteles Mukhaer (2025)

Tags: Ekologi gunungkidul Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan 📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) 2026 – Angkatan VII

CRCS UGM bersama sejumlah lembaga mitra membuka kesempatan bagi 20–25 dosen untuk mengikuti program fellowship yang berfokus pada isu kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia.
Program ini ditujukan bagi dosen dari bidang hukum, syariah, teologi, filsafat, studi agama, serta ilmu sosial dan politik yang tertarik mengembangkan pengajaran, riset, dan diskusi akademik tentang KBB di perguruan tinggi.
Melalui fellowship ini, peserta akan mendapatkan ruang belajar, jejaring akademik, serta dukungan untuk memperkuat kajian dan pengajaran tentang kebebasan beragama di kampus.
To understand Iran, geopolitics alone is not enoug To understand Iran, geopolitics alone is not enough.
Behind every headline about war or sanctions lies a deeper landscape of history, memory, and moral imagination. In this conversation, Dicky Sofjan shows that contemporary conflicts involving Iran cannot be read only through the language of strategy and power. They must also be understood through the histories and symbols that continue to mobilize political and social meaning today.

Click the link in our bio to read the full interview.
Some changes in family life arrive quietly. In Yog Some changes in family life arrive quietly. In Yogyakarta and Ponorogo, more husbands cook, clean, and care for children, while still remaining the imam in the household. What shifts is not only labor but the meaning of leadership, belief, and marriage itself. A small domestic change opens a larger question about gender, religion, and the stories families tell about themselves.

Join the conversation at the #wednesdayforum with Alimatul Qibtiyah, March 11 at UGM or via livestream. We're offering a free iftar, so get there early! This event is free and open to the public.
What is well-being? Indonesia today: land taken, f What is well-being?
Indonesia today: land taken, forests cleared, plantations marching under the banner of food security. Officials call it progress, yet Indigenous ground tells another story. Baduy farmers keep ngahuma alive: rice, ritual, survival, all tied together. Wellbeing here isn’t profit. It’s balance when human and earth still holding on.

Join us for the next  #wednesdayforum discussion at the 3rd floor of the UGM Graduate School building. We're offering a free iftar, so please register. This event is free and open to the public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY