• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Perlindungan Kebebasan Beragama untuk Difabel

Perlindungan Kebebasan Beragama untuk Difabel

  • Berita Wednesday Forum
  • 17 February 2016, 07.34
  • Oleh:
  • 0

WED-FORUM-02-10-REPORT
Wednesday forum sebagai acara rutin CRCS/ICRS di awal tahun 2016 mengundang Risnawati Utami, seorang aktifis hak asasi untuk masyarakat difable. Bersama dengan organisasinya, OHANA (Organisasi Harapan Nusantara) dia memberikan advokasi untuk masyarakat dengan kebutuhan khusus. Advokasi ini untuk mengawal para difable agar diperlakukan setara dengan masyarakat Indonesia yang lain.
Dalam presentasinya, Risnawati mengatakan bahwa “ masyarakat difabel itu sekitar 15% dari populasi dunia, yang artinya mereka adalah minoritas dengan jumlah terbesar di negara berkembang. Kenapa seorang dengan kebutuhan khusus perlu mendapatkan perhatian, ini karena mereka masih terdiskriminasi”.  Dalam model keagamaan- religious model misalnya, Utami memberikan contoh tentang bagaimana orang dengan kebutuhan khusus di Bali. Adat budaya Bali memahami orang dengan kebutuhan khusus adalah akibat karma atau sebagai balasan perbuatan jahat yang dilakukan orang tua mereka. Ketika mereka punya anak dengan kebutuhan khusus, mereka akan menaruh anak itu di tempat lain, tidak di rumah utama. Ini tidak hanya terjadi di Bali, tapi juga di banyak tempat.
Dalam charity model, Utami mengatakan bahwa mereka masih menjadi object amal, sebagai orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuan. Utami menceritakan bagaimana organisasi-organisasi untuk orang dengan kebutuhan khusus mendapatkan banyak sekali bantuan rehabilitasi dan bantuan ekonomi, “ tidak bisakah kita melihat orang dengan kebutuhan khusus sebagai orang normal” kata Utami. Dalam medical model, utami menceritakan keadaanya sendiri. Ketika dia berusia 4 tahun, dia terkena polio dan tidak bisa berjalan. Orang tuanya mengupayakan agar dia bisa normal seperti sedia kala. Utami tidak setuju dengan model ini, karena melihat kebutuhan khusus sebagai ketidak normalan.
Penggunaan istilah difable pun masih menjadi masalah. Di Indonesia masih banyak yang mengunakan istilah “penyandang cacat” yang merujuk pada “kebutuhan khusus”. Itu artinya, kita masih melabeli mereka sebagaia “cacat”. Dalam advokasi, kita mengunakan istilah “orang” bukan “penyandang cacat”, karena kita menghargai hak-hak asasi mereka sebagaimana manuisa yang lain. Menurut CRPD (Convention on the Rights of Person with Disabilities), orang-orang dengan kebutuhan khusus menginginkan kesetaraan dengan yang lain, termasuk dalam kebebasan beragama.
Pasal ketiga dari CRPD menuntut untuk pengakuan hak asasi dan perbedaan. Menurut Utami, Indonesia belum memenuhi poin ini, hal ini bisa dilihat bagaimana LGBT (Lesbian Gay Bisexual and Transgender) di Indonesia tidak bisa menjadi pemimpin agama. seorang gay, memiliki ‘cacat’ dan tidak bisa menjadi imam bagi laki-laki lain dalam beribadah. Salah satu contoh lain ada dalam hukum pernikahan, dimana seorang laki-laki bisa menceraikan istrinya atau menikah dengan wanita lain ketika istrinya menyandang ‘cacat’. Ini adalah diskriminasi terhadap penyandang cacat, tegas Utami.
Utami menceritakan kisahnya ketika masih anak-anak. Ketika pengasuhnya membawanya ke Mushola dan banyak yang menanyakan kenapa dia digendong. Di Indoenesia, gedung public tidak didesain untuk orang dengan kebutuhan khusus. Cerita sebaliknya, adalah temanya yang di Inggris, dia buta dan kemana-mana dengan bantuan mata anjingnya, termasuk ke masjid. Situasi seperti ini tidak mungkin terjadi di Indonesia. Ini adalah PR besar untuk pemimpin agama kita; bisakah mereka mengijinkan orang buta yang datang ke masjid untuk solat dengan bantuan anjingnya. Di Amerika, Utami sering diundang ke gereja yang bangunanya bisa diakses melalui kursi roda. Dia merasa kehidupanya sangat berarti di Amerika.
Utami menjelaskan tentang bagaimana bangunan, termasuk bangunan untuk ibadah, seharusnya di desain universal, sehingga mereka yang berkebutuhan khusus memiliki akses teerhadap bangunan yang ada, hal ini untuk mengurangi beban fisik mereka. Terkait kebebasan beragama, tempat-tempat ibadah, bisa menjadi wadah untuk sosialisasi tentang bagaimana rumah ibadah juga mengakomodasi kebutuhan orang-orang berkebutuhan khusus.
Ali Jafar | CRCS | Wednesday Forum Report 
Editor: Greg Vanderbilt

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
S I M P A N G Ada saat ketika tradisi tidak saling S I M P A N G
Ada saat ketika tradisi tidak saling meniadakan, tetapi diam-diam bernegosiasi. Seperti tahlilan yang bersanding dengan cengbeng. Dua bahasa ritual berbeda yang bertemu dalam kebutuhan yang sama: merawat ingatan dan menghadirkan yang telah tiada. Di situ, batas antara agama dan budaya dilenturkan. Mungkin yang mengganggu bukan pertemuannya, melainkan kegelisahan kita sendiri tentang siapa yang berhak menentukan mana yang sah, mana yang menyimpang.

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 tentang cengbeng di makam dukun gula Bah De Pok hanya di situs web crcs
ENTANGLED WORLDS 🌏 Toward a Transdisciplinary Envi ENTANGLED WORLDS 🌏
Toward a Transdisciplinary Environmental Studies

Wednesday Forum Thematic series brings together three distinct topics, each grounded in different disciplinary and lived backgrounds.
Across these conversations, we move from grassroots environmental struggles in Indonesia, to the historical formation of extractive industries under colonial capitalism, and finally to everyday religious practices embedded in agricultural life. Each session offers a different lens—activism, historical analysis, and lived religion—yet all point to the same reality: our environmental worlds are never isolated, but shaped through complex entanglements of power, belief, and practice.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY