• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Peziarahan atau Paganisme?

Peziarahan atau Paganisme?

  • Berita Wednesday Forum
  • 22 May 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Agus Tridiatno Yoachim, mahasiswa ICRS-Yogyakarta, pada Wednesday Forum 29 April 2009 lalu menerangkan bahwa peziarahan Katolik di biara Hati Kudus Yesus, Ganjuran, Bantul, menganggap air yang berasal dari tempat ziarah itu sebagai berkat dari Tuhan. Air itu dianggap berkaitan dengan iman mereka kepada Yesus Kristus. Melalui air tersebut harapan atau permintaan peziarah sebagian besar dikabulkan, termasuk disembuhkannya berbagai penyakit yang mereka alami.

Keberadaan tempat peziarahan ini secara historis diawali dengan usaha keluarga Schmutzer dalam membangun daerah Ganjuran. Usaha mereka dimulai dari pengembangan industri gula dengan membeli perkebunan tebu dan sebuah pabrik gula bernama Gondang Lipoero. Mereka kemudian mendirikan sebuah gereja Katolik bergaya Hindu pada tahun 1924, dan diteruskan dengan pendirian biara Hati Kudus sebagai sebuah monumen untuk menyembah Yesus pada tahun 1927-1930.

Mulai dari pendirian biara ini, pada tahun-tahun berikutnya, terutama pada 1988 ketika Romo Gregorius Utomo menjadi imam di Ganjuran, dilakukan penginterpretasian dan pembaharuan kembali terhadap biara hati Kudus. Biara tersebut dianggap sebagai simbol dari kasih Tuhan dan memiliki berkahNya (berkah dalem).

Pada tahun 1997 biara itu mulai dikunjungi para peziarah. Pada tahun 1998 Bapak Y. Suparno menemukan sebuah mata air di lingkungan biara ini. Mata air itu kemudian diberi nama ?Tirta Perwitasari?, yang diambil dari nama Bapak Perwita, orang yang pertama kali disembuhkan dengan air di tempat itu. Sejak saat itu pula, air menjadi elemen penting dalam peziarahan di tempat ini.

Menurut Agus, air di tempat ziarah Hati Kudus Yesus ini memiliki kekuatan untuk penyembuhan dan pemenuhan permintaan para peziarah. Agus sendiri pernah memiliki pengalaman mendapatkan berkah setelah berziarah dan menggunakan air di sana. Kekuatan air itu selalu terkait dengan kekuatan dari Yesus Kristus. Oleh karena itu, setiap peziarah yang ingin mendapatkan berkah melalui air tersebut selalu berdoa kepada Yesus Kristus. Pribadi Yesus Kristus di peziarahan ini digambarkan melalui sebuah patung, di mana doa para peziarah tadi dilakukan di hadapan patung ini.

Sepintas tradisi peziarahan tersebut terlihat sebagai bentuk lain dari Paganisme yang sebenarnya dilarang oleh Kekristenan. Namun ketika ditanyakan kepada Agus, ia mengakui bahwa sempat ada perdebatan mengenai hal itu oleh para tokoh Katolik, dimana sebagian menganggap tradisi tersebut sebagai paganisme sedangkan sebagian yang lain menganggapnya sah-sah saja untuk dilakukan.

Tradisi ini tidak menjadi paganisme sejauh Yesus Kristus menjadi sentral penyembahan di tempat ini, dan air yang ada di sana dianggap sebagai media berkah dariNya setelah berdoa kepadaNya. Agus menambahkan, apapun medianya, termasuk patung Yesus dan air tadi, yang terpenting adalah bagaimana media tersebut dapat membuat mereka dekat dengan Tuhan.

Agus mengakui belum mengetahui dengan pasti apa yang membuat air itu menjadi unik bagi para peziarah, apakah karena di tempat itu dan mengandung zat yang menyembuhkan atau karena diberkati oleh Tuhan. Jika memang karena diberkati Tuhan, apakah air yang dibawa dari luar peziarahan dapat menyembuhkan? Bagaimana dengan orang yang diwakili doa-doanya dengan orang lain dan kemudian mendapatkan air dari peziarahan itu? Kedua pertanyaan ini, menurut Agus, akan diteliti lebih lanjut olehnya.

Tentunya dengan meneliti tradisi-tradisi Jawa dan Hindu yang tampak dalam peziarahan ini akan memberikan gambaran lebih menyeluruh akan fenomena peziarahan di Hati Kudus Yesus tersebut. Tradisi Jawa dan Hindu dalam memaknai air dan menggunakan media patung dalam peribadahan mereka tampak mempengaruhi tradisi ini. Faktanya, kita belum tahu apakah tradisi ini akan dilakukan oleh umat Katolik di daerah-daerah di luar Jawa yang tidak memiliki kebudayaan Jawa dan Hindu.

(JMI)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

What is well-being? Indonesia today: land taken, f What is well-being?
Indonesia today: land taken, forests cleared, plantations marching under the banner of food security. Officials call it progress, yet Indigenous ground tells another story. Baduy farmers keep ngahuma alive: rice, ritual, survival, all tied together. Wellbeing here isn’t profit. It’s balance when human and earth still holding on.

Join us for the next  #wednesdayforum discussion at the 3rd floor of the UGM Graduate School building. We're offering a free iftar, so please register. This event is free and open to the public.
yuk, pendaftaran sudah dibuka ... cek syarat-syara yuk, pendaftaran sudah dibuka ...
cek syarat-syaratnya ...
jika ada yang mau tanya-tanya,
langsung meluncur ke kolom komentar ya ...
K U D A A P I Kehidupan kadang hadir seperti kuda K U D A  A P I
Kehidupan kadang hadir seperti kuda, ia tak benar-benar bisa ditambatkan. Hidup terus bergerak bukan karena sebuah kepastian, melainkan untuk menolak padam meskipun tak tahu ke mana yang akan dituju. Ke mana pun tujuanmu di tahun ini,  semoga barakah selalu menyala dalam bara.

xin nian kuaile, gongxi facai
Why has democracy declined in Tunisia and Turkey, Why has democracy declined in Tunisia and Turkey, yet remained resilient in Indonesia?
Do Muslim mass organizations, elite consensus, and the negotiated relationship between religion and citizenship hold the key? Or are there deeper structural forces at play?
Join us and be part of the conversation. Let’s rethink what sustains (or undermines?) democracy in muslim-majority societies.

Come and join new round of  #wednesdayforum 2026 discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor.  We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY