• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Sejarah Al-Qur'an: Dari Masa Pewahyuan hingga Penerimaan

Sejarah Al-Qur'an: Dari Masa Pewahyuan hingga Penerimaan

  • Berita Wednesday Forum
  • 27 February 2012, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Ahmad Rafiq, M.A. sedang menguraikan Sejarah Al Qur’an dari Masa ke Masa di depan peserta Wednesday Forum

Sebagai kitab suci, Al-Quran menjadi salah satu bagian terpenting dalam kehidupan umat Islam. Bukan saja sebagai way of life, tetapi Al-Qur’an merupakan hidup muslim itu sendiri. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an telah terinternalisasi sedemikian rupa, meskipun kebanyakan dari umat Islam tidak menyadarinya.

 

Bahasan di atas disampaikan Ahmad Rafiq, M.A., pada diskusi mingguan “Wednesday Forum CRCS-ICRS”, Rabu 15 Februari 2012 di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM, bertajuk “The History of the Qur’an: from Revelation to Reception”.

 

Rafiq, yang sehari-hari mengajar di Fakultas Ushuludin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, mengatakan bahwa sejarah Al-Qur’an dimulai ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril. Disebabkan Nabi Muhammad mengemban amanah sebagai ‘agen sejarah’ dan Tuhan berada di balik sejarah manusia, maka terdapat kemungkinan sejarah Al-Qur’an telah dimulai jauh sebelum kehadiran Muhammad sebagai nabi.

 

Penyebaran dan pengajaran Al-Qur’an juga menyimpan kisah sendiri, semenjak diajarkan secara oral hingga masa kanonisasi dalam bentuk Mushaf Ustmani. Abad ke 2 Hijriah adalah puncak dari proses kanonisasi. Bahkan Al-Qur’an menjadi kitab yang paling banyak dibaca oleh masyarakat pada masa itu. Namun, seperti dinyatakan oleh seorang sarjana muslim bernama Ahmad Amin, sejarah Al-Qur’an belum menjadi subjek studi tersendiri (independen), hingga Abu Abdillah al-Zanjani menulis buku berjudul “Tarikh Al-Qur’an” (Sejarah Al Qur’an) pada tahun 1935, yang kemudian diikuti oleh Abdus Sabur Shahin di tahun 1966 dengan karya “Tarikh Al-Qur’an”, dan Muhammad Mustafa Azami yang menulis ‘The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation’ di awal abad ke 21.

 

Kandidat doktor Temple University ini menjelaskan lebih lanjut, sejarah Al-Qur’an juga mencakup dimensi praktis yang bisa dilacak hingga masa Nabi Muhammad. Sebagaimana kisah seorang sahabat nabi yang membaca surat Al-Fatihah (surat pertama Al Qur’an yang terdiri dari 7 ayat) sebanyak 7 kali untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit. Hal ini memang tidak dapat menjelaskan hubungan antara makna dari surat yang dimaksud dengan praktek penggunaannya. Namun menjadi dalil bahwa Al-Qur’an telah digunakan oleh umat Islam di ranah praktis.

 

Ketika salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan perihal praktek-praktek lainnya yang dilakukan kaum muslimin terkait Al-Qur’an, Ahmad Rafiq menunjukkan fenomena mutakhir, dimana Al-Qur’an diimplementasikan dalam berbagai bidang, semisal menjadikan sertifikat kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu berkas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau peraturan daerah tentang kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai persyaratan pernikahan.

 

Di akhir diskusi, Ahmad Rafiq berkesimpulan bahwa proses penerimaan Al-Qur’an melibatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat, baik yang terjadi di masa lalu maupun di masa sekarang. Sehingga, studi sejarah Al-Qur’an seharusnya tidak hanya terfokus pada Al-Qur’an sebagai kumpulan teks, melainkan juga pengkajian terhadap masyarakat yang membaca, menginterpretasi, mengamalkan, dan juga menggunakannya untuk berbagai keperluan. (NAM)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
S I M P A N G Ada saat ketika tradisi tidak saling S I M P A N G
Ada saat ketika tradisi tidak saling meniadakan, tetapi diam-diam bernegosiasi. Seperti tahlilan yang bersanding dengan cengbeng. Dua bahasa ritual berbeda yang bertemu dalam kebutuhan yang sama: merawat ingatan dan menghadirkan yang telah tiada. Di situ, batas antara agama dan budaya dilenturkan. Mungkin yang mengganggu bukan pertemuannya, melainkan kegelisahan kita sendiri tentang siapa yang berhak menentukan mana yang sah, mana yang menyimpang.

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 tentang cengbeng di makam dukun gula Bah De Pok hanya di situs web crcs
ENTANGLED WORLDS 🌏 Toward a Transdisciplinary Envi ENTANGLED WORLDS 🌏
Toward a Transdisciplinary Environmental Studies

Wednesday Forum Thematic series brings together three distinct topics, each grounded in different disciplinary and lived backgrounds.
Across these conversations, we move from grassroots environmental struggles in Indonesia, to the historical formation of extractive industries under colonial capitalism, and finally to everyday religious practices embedded in agricultural life. Each session offers a different lens—activism, historical analysis, and lived religion—yet all point to the same reality: our environmental worlds are never isolated, but shaped through complex entanglements of power, belief, and practice.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY