• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Serba-Serbi Kehidupan Beragama di China

Serba-Serbi Kehidupan Beragama di China

  • Berita Wednesday Forum
  • 24 November 2011, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Tiga dasawarsa terakhir, China bergerak menerobos isolasi, pangasingan dan melibatkan diri dalam persaingan global secara lebih dinamis. Negara berhaluan komunis ini mereformasi berbagai kebijakan terdahulu baik di bidang politik, kebudayaan dan ekonomi yang turut mempengaruhi kehidupan beragama. Ada gelombang baru dirasakan rakyat China selepas masa Revolusi Kebudayaan yang didominasi oleh sikap penolakan segala hal berunsur Barat.

 

Meskipun tetap memegang teguh ideologi Komunis, persoalan agama di China ternyata memiliki kompleksitas tersendiri. Tema inilah yang diangkat Glenn Shive Ph. D. pada Wednesday Forum CRCS-ICRS tanggal 12 Oktober 2011 lalu. Shive yang juga direktur Hong Kong – America Center (HKAC) di Chinese University of Hong Kong memaparkan buku baru berjudul Chinese Religious Life (2011), yang ia edit bersama David A. Palmer dan Philip L. Wickeri. Buku ini memuat beberapa bab tentang kehidupan beragama di China dengan sudut pandang berbeda dan ditulis oleh para sarjana dari berbagai negara.

 

Shive menjelaskan, pasca Revolusi Kebudayaan (1966 – 1975) di China terjadi semacam kevakuman spiritual. Masyarakat urban di perkotaan mencoba mengelola lembaga-lembaga agama sementara masyarakat pedesaan lebih memperhatikan aspek-aspek spiritual. Di sisi lain, pemerintah menghadapi masalah terkait isu kelompok suku agama minoritas. Di dalam negeri pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap lembaga-lembaga berbasis agama, namun di luar negeri pemerintah memberikan dukungan bagi pendirian pusat-pusat studi Konfusianisme di berbagai negara.

 

Seorang peserta diskusi menanyakan keberadaan Islam di China dan apakah benar hipotesis yang menyatakan Islam pertama kali disebarkan di Indonesia oleh pendakwah dari tanah Tiongkok. Shive yang meraih gelar doktoralnya di Temple University Philadelphia menjawab bahwa pendapat itu bisa dirujuk pada keberadaan salah satu etnis muslim di China yakni bangsa Hui. Mereka dikenal sebagai pedagang yang berniaga ke berbagai negara. Sampai saat ini muslim etnis Hui masih tetap eksis meskipun berada di bawah tekanan pemerintahan.

 

Menjawab pertanyaan tentang perkembangan agama Kristen di China, Shive menjelaskan bahwa agama Kristen berhasil menarik perhatian beberapa kalangan masyarakat lewat kiprah lembaga-lembaga kependetaan yang memberikan perhatian besar terhadap masalah-masalah moral dan sosial. Secara umum, masyarakat China kagum dengan konsep dan ajaran kemanusiaan yang dibawa oleh agama Kristen meskipun untuk persoalan teologis ada perbedaan mendasar dengan tradisi Konfusianis mereka. [MoU]

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan 📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) 2026 – Angkatan VII

CRCS UGM bersama sejumlah lembaga mitra membuka kesempatan bagi 20–25 dosen untuk mengikuti program fellowship yang berfokus pada isu kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia.
Program ini ditujukan bagi dosen dari bidang hukum, syariah, teologi, filsafat, studi agama, serta ilmu sosial dan politik yang tertarik mengembangkan pengajaran, riset, dan diskusi akademik tentang KBB di perguruan tinggi.
Melalui fellowship ini, peserta akan mendapatkan ruang belajar, jejaring akademik, serta dukungan untuk memperkuat kajian dan pengajaran tentang kebebasan beragama di kampus.
To understand Iran, geopolitics alone is not enoug To understand Iran, geopolitics alone is not enough.
Behind every headline about war or sanctions lies a deeper landscape of history, memory, and moral imagination. In this conversation, Dicky Sofjan shows that contemporary conflicts involving Iran cannot be read only through the language of strategy and power. They must also be understood through the histories and symbols that continue to mobilize political and social meaning today.

Click the link in our bio to read the full interview.
Some changes in family life arrive quietly. In Yog Some changes in family life arrive quietly. In Yogyakarta and Ponorogo, more husbands cook, clean, and care for children, while still remaining the imam in the household. What shifts is not only labor but the meaning of leadership, belief, and marriage itself. A small domestic change opens a larger question about gender, religion, and the stories families tell about themselves.

Join the conversation at the #wednesdayforum with Alimatul Qibtiyah, March 11 at UGM or via livestream. We're offering a free iftar, so get there early! This event is free and open to the public.
What is well-being? Indonesia today: land taken, f What is well-being?
Indonesia today: land taken, forests cleared, plantations marching under the banner of food security. Officials call it progress, yet Indigenous ground tells another story. Baduy farmers keep ngahuma alive: rice, ritual, survival, all tied together. Wellbeing here isn’t profit. It’s balance when human and earth still holding on.

Join us for the next  #wednesdayforum discussion at the 3rd floor of the UGM Graduate School building. We're offering a free iftar, so please register. This event is free and open to the public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY