• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Teologi Kontekstual Kristen Menentang Penjajahan di Jawa

Teologi Kontekstual Kristen Menentang Penjajahan di Jawa

  • Perspective
  • 27 June 2020, 17.41
  • Oleh: CRCS UGM
  • 0

Teologi Kontekstual Kristen Menentang Penjajahan di Jawa

Ronald Adam – 27 Juni 2020

Kristenisasi di Nusantara mula-mula datang bersama dengan kaum kolonial Eropa dan membawa serta corak Kekristenan yang kental dengan budaya Eropa. Kristenisasi di era kolonialisme ini, dalam catatan sejarah, juga melancarkan depaganisasi dan dekulturasi. Depaganisasi berarti pembasmian praktik-praktik yang mereka pandang sebagai bentuk penyembahan berhala. Dekulturasi berarti pencerabutan suatu komunitas dari suatu kebudayaan untuk masuk ke kebudayaan baru—dalam hal ini, budaya yang kental bernuansa keeropaan.

Akan tetapi, apakah proses ini berlangsung tanpa hadangan sama sekali dari penduduk lokal Nusantara? Sama seperti di sejumlah belahan dunia lain yang mengalami penjajahan, perlawanan muncul, dan sebagian perlawanan itu mengambil inspirasi dari teologi Kristiani. Ajaran Kristen diserap tetapi tidak dengan budaya Barat yang menyertainya. Para teolog kerap menyebutnya dengan “teologi kontekstual”.

Terdapat perdebatan apakah sejumlah praktik dalam teologi kontekstual dapat disebut teologi Kristiani yang otentik. Terlepas dari perdebatan itu, yang jelas teologi kontekstual merupakan salah satu bentuk praktik “dekolonialitas” (decoloniality), yakni upaya pemutusan diri dari kekuasaan kolonial dan dari corak teologi yang eurosentrik dengan bersumber pada pengalaman lokal tempat teologi tersebut dikembangkan.

Bila di Amerika Latin ada “teologi pembebasan”, di Afrika ada “black theology”, dan di sejumlah kalangan juga ada “feminist theology”, teologi kontekstual di Jawa mengejawantah antara lain dalam figur Kiai Sadrach Surapranata (1835-1924) yang mendirikan komunitas Kristen Kang Mardika (Kriten yang Merdeka). “Kemerdekaan” yang diupayakan Sadrach menyasar dua aspek: kemerdekaan mengekspresikan Kekristenan berdasarkan pengalaman lokal orang Jawa dan kemerdekaan dari subordinasi oleh kaum kolonial baik secara budaya, ekonomi, maupun politik.

Dua Teologi

Di Jawa era kolonial, dua teologi berkembang. Pertama, teologi yang kental bernuansa keeropaan—kita sebut saja dengan teologi Eropa. Kedua, merespons yang pertama, muncul teologi lokal.

Teologi Eropa disebarkan oleh para teolog dan penginjil dari Barat, umumnya dari gereja Protestan Belanda, dengan pengecualian sejumlah figur yang simpatik pada teologi lokal tetapi jumlahnya tak banyak. Bagi para penginjil ini, sistem gereja mesti menyesuaikan dengan tata gereja di Barat, baik dari segi arsitektur, struktur organisasi, tata ibadah, liturgi, alat musik, hingga nama baptis. Bagi mereka, “menjadi Kristen” tampak tak terpisah dari “menjadi Barat”. Intrusi unsur-unsur budaya Jawa ke dalam tata gereja akan dianggap sinkretisme. Bahkan, hanya penginjil kulit putih saja yang bebas mengabarkan Injil di luar wilayahnya, sementara penginjil pribumi dibatasi di wilayah tertentu.

Teologi Eropa inilah yang melancarkan depaganisasi dan dekulturasi yang disebut di muka. Paganisme ditentang bukan saja karena dipandang berlawanan dengan doktrin Kristiani, melainkan juga karena ia dulu diidentikkan dengan praktik kaum Muslim. Banyak dari para pemeluk Kristen baru pada saat itu sebelumnya adalah Muslim. Pengetahuan kaum kolonial mula-mula mengenai Muslim sangat stereotipikal, yang mengendap lama sejak era Perang Salib. Dulu Islam bahkan disebut dengan “Muhammadanisme”. (Baca bagaimana Eropa abad pertengahan hingga era kolonial menggambarkan agama di luar tradisi Yudeo-Kristiani: Agama dalam Narasi: Jawa sebagai Objek.)

Teologi lokal dipegang dan diajarkan oleh para teolog dan penginjil lokal seperti Kiai Tunggul Wulung dan muridnya, Kiai Sadrach. Mereka berangkat dari kondisi sosial yang berbeda dari para teolog dan penginjil Eropa, dan karena itu melahirkan penafsiran yang berbeda pula dari ajaran Kristiani yang disebarkan kaum kolonial. Pengalaman yang berbeda ini melahirkan corak teologi yang, meski tidak bisa dikatakan sepenuhnya keluar dari tradisi gereja Eropa, berusaha menjawab problem keterjajahan penduduk lokal. Di sinilah teologi lokal di Jawa memiliki kemiripan dengan jenis-jenis teologi kontekstual di belahan dunia lain.

Kejawaan Gereja Sadrach

Sadrach tidak meninggalkan karya tulis, tetapi riwayat hidup dan ajaran-ajarannya banyak dicatat oleh para etnografer Belanda, yang juga merekam bagaimana Kekristenan diekspresikan jemaat Sadrach zaman itu. Catatan-catatan etnografi ini menyebutkan bagaimana elemen kejawaan mewarnai gereja dan jemaat Sadrach.

Gereja-gereja yang dibangun kaum kolonial di Jawa biasanya megah dan mengikuti model gereja di Belanda. Di desa Karangjasa, tempat Sadrach dan jemaatnya tinggal, bangunan gereja pada mulanya amat sederhana: atap dari jerami, dinding dari bilik bambu, dan lantainya hanya tanah. Secara keseluruhan, arsitektur bangunan lebih menyerupai masjid ketimbang gereja. Simbol gereja yang dipakai pun bukan salib, melainkan senjata ‘cakra’ yang ditempatkan di pucuk atap gereja.

Gereja Sadrach juga tak memakai lonceng, tetapi kentongan bambu untuk panggilan kebaktian. Pemimpin gereja tak disebut pendeta, tetapi ‘imam’. Busana saat kebaktian bukanlah jas, dasi, dan celana sebagaimana orang Eropa, melainkan sarung, batik, surjan, dan blangkon. Tembang-tembang Jawa juga kerap dinyanyikan di gereja, termasuk dalam prosesi kebaktian. Pembacaan pengakuan Iman dan Doa Bapa Kami diselenggarakan dalam tradisi persekutuan Kamis malam—sementara kaum Muslim biasanya membaca barzanji pada malam Jumat.

Praktik sunatan tidak dilarang di gereja Sadrach, padahal tradisi ini ditentang para penginjil Eropa. Tradisi slametan juga dipraktikkan, seperti slametan saat seorang ibu mengandung atau slametan mendoakan seseorang yang belum lama meninggal. Hanya slametan yang kental dengan tradisi Islam, seperti saat sura, mulud, dan ruwah, yang ditentang.

Dalam perlawanan terhadap teologi Eropa, Sadrach mengalami kendala sebab prosesi sakramen harus melibatkan otoritas dari gereja-gereja kolonial, sementara gereja-gereja kolonial ini menentang praktik-praktik gereja Sadrach yang mereka pandang sinkretik. Beberapa kali Sadrach meminta agar sakramen jemaatnya dilayani, tetapi gagal terus. Puncaknya, pada 1893, jemaat Sadrach dipaksa memilih: ikut Sadrach atau gereja kolonial. Dari 6.374 anggota gerejanya, hanya sekitar 150 orang saja yang memilih berpihak pada para penginjil Eropa.

Dekolonialitas Religius

Perlawanan Sadrach dan jemaat Kristen Kang Mardika lebih merupakan perlawanan simbolik ketimbang fisik—tidak sampai memimpin perang besar seperti Pangeran Diponegoro, misalnya. Kendati demikian, ia berdampak luas pada penanaman kesadaran pribumi untuk menentang kaum kolonial.

Perjuangan Sadrach berhasil memisahkan gerejanya dari Gereja Hindia (Indische Kerk). Jemaat Kristen Kang Mardika juga tak mau mengakui pendeta-pendeta dari Gereja Hindia dengan alasan mereka digaji oleh pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial tentu ingin jemaat gereja Sadrach bisa melebur bersama gereja Protestan lainnya. Karena melawan aturan pemerintah, dengan dakwaan mengancam stabilitas dan ketertiban umum, Sadrach sempat dipenjara selama 3 pekan dan menjadi tahanan rumah 3 bulan, lalu dibebaskan karena kurangnya bukti.

Salah satu momen penting dekolonialitas Sadrach terjadi pada 1885 ketika ia, oleh penginjil Eropa yang bersahabat dengannya, J. Wilhelm, dipersilakan duduk di atas kursi. Momen ini diabadikan dalam foto dan dirilis oleh majalah Zending Heidenboe. Para penginjil Eropa heboh: Wilhelm yang kulit putih mempersilakan Sadrach, yang bukan sekadar pribumi melainkan juga bukan aristrokat, duduk di kursi sebelahnya sama tinggi. Jangankan orang Eropa, aristrokat Jawa pun saat itu tidak mau mempersilakan orang kecil duduk di kursi yang setara. Penentangan para misionaris terhadap peristiwa “duduk di kursi” ini memperkuat kesadaran perlawanan Sadrach.

Dalam menafsirkan ajaran Kristen, Sadrach mengibaratkan Yesus Kristus seperti Ratu Adil. Ditinjau dari perspektif sejarah yang lebih luas, gerakan-gerakan yang membawa konsep tentang Ratu Adil banyak muncul di Jawa pada masa-masa kritis karena kebijakan tanam paksa oleh pemerintah kolonial. Ratu Adil dipercaya akan membawa umat keluar dari belenggu penindasan dan kondisi sosial ekonomi yang carut-marut. Beberapa sarjana kerap menganggap gerakan-gerakan Ratu Adil ini sebagai gerakan milenarianisme atau messianisme. Para penginjil Eropa sendiri menyebut gerakan Ratu Adil ini sebagai “Jawa-isme”. Terlepas benar atau salah gagasan ini, imajinasi tentang Ratu Adil turut berandil dalam mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Teologi yang dikembangkan Sadrach dalam hal ini ikut menyokongnya.

Dilihat melalui gambaran yang lebih luas lagi, perjuangan Kiai Sadrach merupakan satu dari sekian bentuk dekolonialitas di Nusantara. Ada ragam jenis dekolonialitas di banyak belahan dunia lain pada abad 19 hingga awal abad 20. Di Nusantara, praktik dekolonialitas ini berbentuk perjuangan keagamaan baik dari agama dunia maupun agama lokal, seperti perang Diponegoro, gerakan Samin Surosentiko, Boedi Oetomo, Sarekat (Dagang) Islam, juga termasuk organisasi besar yang masih eksis hingga kini, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dari komunitas Kristen di Jawa, gerakan Sadrach termasuk yang menonjol. Nilai-nilai religius yang melatari perjuangan gerakan-gerakan ini bertitik temu pada upaya melawan penjajahan.

Secara teoretis, praktik dekolonialitas ini tidak bisa seratus persen lepas dari matriks kekuasaan kolonial. Dalam tataran ide, nasionalisme sendiri bisa dianggap sebagai bagian dari gagasan kolonial, sebab ia bias pengalaman Eropa. Nasionalisme selalu mengandaikan konsep tentang negara-bangsa modern. Namun, terlepas dari perdebatan itu, praktik-praktik dekolonialitas di Indonesia pada esensinya bertumpu pada kehendak untuk melawan penjajahan—atau bahkan imperialisme, yang di tingkat internasional mengejawantah dalam konferensi Asia-Afrika dan gerakan non-blok. Praktik-praktik ini cukup membedakan pengalaman Indonesia jika dibandingkan, misalnya, dengan pengalaman negeri jiran Malaysia.

Sadrach dengan komunitas Kristen Kang Mardika termasuk di antara gerakan-gerakan awal dekolonialitas di Nusantara. Meski Sadrach tidak pernah secara langsung menyebut perjuangannya sebagai perjuangan nasionalis, setidaknya ia dan komunitasnya merupakan salah satu contoh perlawanan terhadap penjajahan dengan motif religius yang kuat, berbasis pada satu bentuk teologi kontekstual. Semangat ini sudah muncul sebelum gagasan tentang nasionalisme menjamur di kalangan penggerak kemerdekaan awal abad 20 di Nusantara.

_______________

Ronald Adam adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2019. Baca tulisan Adam lainnya di sini.

Tags: ronald adam

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY