• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • UGM Meneguhkan Kembali Pancasila

UGM Meneguhkan Kembali Pancasila

  • Berita, Headline, News
  • 22 May 2017, 23.03
  • Oleh:
  • 0

Redaksi Web | CRCS | Berita

Pembacaan deklarasi di halaman Balairung UGM. Foto: Najiyah Martiam.

Pada hari Senin, 22 Mei 2017, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengumandangkan deklarasi meneguhkan kembali Pancasila. Sebagaimana disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Wening Udasmoro, inisiatif ini berdasar pada kesadaran akan makin meningkatnya tekanan dan persaingan sosial-politik, seperti yang muncul dalam pilkada langsung, dan masih lebarnya jurang antarkelompok sosial-ekonomi. Di tengah adanya ancaman yang main kuat terhadap integrasi sosial, pertanyaan penting mengemuka tentang bagaimana Indonesia sebagai sebuah bangsa dapat bertahan.
Pancasila, yang diharapkan menjadi dasar kebangsaan utama, dipertanyakan sebagian orang karena sejarah Orde Baru yang membekukannya menjadi dogma. Namun ketika ancaman integrasi sosial muncul, Pancasila pula yang diharapkan menjadi jawaban. Dalam situasi seperti ini, perumusan ulang narasi ke-Indonesia-an perlu dilakukan dengan melihat kembali apa yang akan dibangun ulang dari konsep Pancasila yang selama lebih dari satu dekade ini tidak dirawat.
Termasuk rangkaian dari kegiatan ini adalah acara sarasehan (22 Mei) yang menghadirkan KH Zawawi Imron, Dr. Pudjo Semedi (Antropologi UGM) dan budayawan Emha Ainun Nadjib. Sarasehan ini dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) guna mempertajam upaya memaknai kembali Pancasila di alam demokrasi. 
Tiga rangkaian sarasehan dan FGD direncanakan akan diselenggarakan. Tema sarasehan dan FGD kedua adalah “Keragaman Identitas dan Keadilan untuk Semua”, sedangkan yang ketiga akan fokus pada upaya revitalisasi Pendidikan Pancasila. Sarasehan dan FGD lanjutan ini akan diselenggarakan dalam beberapa pekan mendatang.
Setelah saresehan pertama pada Senin, 22 Mei 2017, dibacakan Deklarasi Peneguhan Pancasila di halaman Balairung oleh Rektor UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Ketua Dewan Guru Besar Prof. Putu Sudira, Ketua Senat Akademik Prof. Hardyanto Soebono, perwakilan dosen UGM I Made Andi Arsana, perwakilan tenaga kependidikan Erry Istianto, dan perwakilan dari mahasiswa Desi Cahya Widyaningrum. 
Berikut ini teks lengkap deklarasi tersebut:

Deklarasi Peneguhan Pancasila
Universitas Gadjah Mada
22 Mei 2017

  • Perjalanan Universitas Gadjah Mada sejak berdiri pada tahun 1949 dimulai dari keputusan menjadi universitas yang nasionalis dan patriotis. Nasionalis berarti menghormati dan menerima tanah air, bahasa, dan budaya Indonesia sebagai masyarakat majemuk. Patriotis berarti mendukung norma dan nilai konstitusi Republik Indonesia yang demokratis berdasarkan Pancasila. Sivitas Akademika Universitas Gadjah Mada, sejak dulu hingga kini, setia dan bangga kepada keputusan tersebut.
     
  • Universitas Gadjah Mada menjalankan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 45, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kegiatan utama yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada adalah belajar. Belajar berarti membantu mahasiswa mengembangkan dan menumbuhkan potensi diri mereka, dengan standar yang tinggi. Tujuannya adalah agar mereka dapat mengembangkan cara berpikir kritis, toleran, dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.
     
  • Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen memelihara suasana damai dan kerja sama sosial di kalangan sivitas akademika. Selaras dengan ini, Universitas Gadjah Mada mendorong partisipasi sivitas akademika yang inklusif dalam berbagai kegiatan baik di kelas, kampus, mapun masyarakat. Jika ada kelompok atau perseorangan yang secara sengaja dan tidak adil mengganggu hak-hak sivitas akademika, maka Universitas Gadjah Mada akan mengambil tindakan tegas terhadap gangguan tersebut.
     
  • Universitas Gadjah Mada mendorong penyelesaian konflik dan masalah dengan cara nirkekerasan dan menentang segala bentuk tindakan dehumanisasi terhadap warga negara Indonesia manapun. Masalah, konflik, dan ketidakselarasan dihadapi dengan pendekatan budaya damai, toleransi, dan dialog lintas budaya dan agama. Radikalisme, kampanye kebencian atas dasar sentimen SARA, dan mobilisasi kekerasan adalah ancaman terhadap integrasi nasional. Praktik dehumanisasi, termasuk yang menggunakan idiom agama seperti mengkafirkan dan memurtadkan, bertentangan dengan budaya damai dan inklusif Universitas Gadjah Mada.
     
  • Universitas Gadjah Mada akan terus memberikan sumbangan dan respons akademis terhadap gangguan dan tantangan integrasi nasional melalui penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Meningkatkan keadilan sosial, melestarikan lingkungan hidup, dan meningkatkan kualitas deliberasi publik adalah sebagian dari tantangan tersebut. Tantangan lainnya adalah ujaran, tindakan, dan rekayasa kebencian yang merusak kebhinekaan Indonesia.
     
  • Universitas Gadjah Mada akan terus melakukan penelitian dan pengembangan Pancasila sebagai ideologi yang terbuka. Hasilnya akan digunakan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan Pancasila dan pendidikan kewargaan di berbagai tingkat pendidikan. Penelitian dan pengembangan Pancasila ini adalah sumbangan penting Universitas Gadjah Mada terhadap gerakan nasional meneguhkan dan mengambil kembali Pancasila sebagai titik temu seluruh bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

 

Tags: deklarasi pancasila emha ainun nadjib Identitas nasionalisme pendidikan pancasila

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY