Di era industri mekanistik-kapitalistik saat ini, cara kita mengukur kesejahteraan (wellbeing) sering kali terjebak dalam angka-angka statistik seperti GDP, tingkat konsumsi, atau pendapatan per kapita. Namun, ukuran-ukuran ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan keberlangsungan hidup atau sekadar optimalisasi sistem ekonomi kapitalis?
Upaya memproblematisasi konsep kesejahteraan ini dibahas oleh Anisa Eka Putri Kusmayana dalam Wednesday Forum (4/3). Dalam presentasinya “The Entanglement of Wellbeing and Land in Baduy Indigenous People”, lulusan CRCS UGM ini menawarkan perspektif alternatif dari masyarakat adat Baduy di Banten yang melihat kesejahteraan bukan sebagai akumulasi materi, melainkan sebagai sebuah “keterhubungan” (entanglement) antara manusia, tanah, dan dimensi spiritual.
Tanah yang Bernapas
Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan sekadar aktivitas menanam padi dengan motif mengejar profit, melainkan praktik spiritual yang menjaga harmoni kosmos. Ada dua hal menarik yang menunjukan bagaimana keterhubungan terjalin di Baduy. Pertama, sistem ngahuma atau bertani ladang di Baduy sangat kontras dengan pertanian modern. Jika petani umumnya mengejar panen tiga hingga empat kali setahun, masyarakat Baduy hanya panen sekali dalam setahun. Mereka memberikan waktu bagi tanah untuk “beristirahat” agar kesuburannya pulih secara alami. Bagi masyarakat Baduy, tanah bukanlah komponen produksi dalam ekonomi.Tanah memiliki subjektivitas moral dan agensi selayaknya manusia sehingga manusia perlu hidup selaras dengannya alih-alih mengeksploitasinya.
Kedua, ketaatan pada pikukuh (aturan adat) menjadi jangkar moral. Salah satu pikukuh tersebut ialah “gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak”. Mereka percaya bahwa melanggar aturan ini, seperti dengan menggunakan pestisida kimia atau menjual padi hasil ladang, akan mendatangkan bencana atau invalidasi terhadap nilai adat dan otoritas kepemimpinan adat. Seluruh siklus ngahuma—mulai dari narawas (membuka lahan), ngaseuk (menanam benih), hingga mipit (panen)—adalah rangkaian ritual yang menghormati agensi entitas lain yang berjejaring dan saling bertaut. Benih padi diperlakukan sebagai entitas suci yang terkait dengan sosok kosmologis Nyi Pohaci, sehingga perlakuannya harus penuh hormat. Maka, padi yang dihasilkan tidak untuk dijual, tetapi disimpan di lumbung (leuit) untuk kebutuhan komunal.
Aku Terhubung, maka Aku Sejahtera
Dalam pandangan dunia yang demikian, kesejahteraan bagi masyarakat Baduy bukanlah hasil dari penguasaan manusia atas alam, melainkan sebuah fenomena relasional ketika manusia dan nonmanusia saling membentuk realitas. Menurut Anisa, indikator kesejahteraan kerap dilucuti oleh pandangan antroposentrisme laten. Manusia dianggap sebagai pusat alam semesta yang berhak mengontrol segalanya. Alam dianggap akan lebih optimal ketika manusia hadir dengan teknologi. Akibatnya, indikator kesejahteraan semacam ini sering tidak relevan bagi masyarakat adat dan justru memicu pengabaian terhadap hak-hak mereka.
Meminjam kacamata agential realism dari Karen Barad, dunia dalam pandangan masyarakat adat dipahami sebagai proses intra-aksi (intra-action), bukan relasi terpisah antara subjek dan objek. Dalam praktik ngahuma, tidak ada batas tegas antara manusia dan tanah. Keduanya saling terlibat. Alhasil, kesejahteraan pun lahir dari jejaring relasional ketika tanah, air, doa, dan nilai adat terjalin. Seperti yang diungkapkan oleh seorang tetua adat, Ambu Kolot Gajeboh: “Sejahtera mah lamun hirup nurut kana adat, sagala jadi cukup.” Kata “cukup” di sini mengacu pada tindakan moral, yaitu bersyukur—bukan melulu ukuran kepemilikan materi. Kesejahteraan muncul saat semua elemen, manusia dan nonmanusia, berinteraksi secara harmonis dalam sebuah “fenomena” kolektif.
Keterhubungan yang Diujii
Mempertahankan tradisi Ngahuma dan cara pandang relasional adalah bentuk determinasi diri. Masyarakat Baduy menantang kita untuk melihat kembali definisi “kemajuan” yang selama ini didominasi oleh narasi ekstraktif terhadap alam.
Kendati demikian, Baduy hari ini juga berhadapan dengan permasalahan tanah, sebagaimana ditanyakan oleh salah satu penanggap,“Bagaimana jika tanah yang dianggap sebagai sumber kekuatan kesejahteraan itu justru menjadi titik kerentanan (vulnerability) saat jumlah penduduk terus bertambah sementara luas tanah adat tetap terbatas?” Anisa menyadari hal tersebut menjadi titik singgung yang dilematis. Dalam situasi itu, sebagian warga Baduy Luar mulai mengakses lahan di luar wilayah adat, yang secara tidak langsung menegosiasikan batas antara prinsip pikukuh dan kebutuhan hidup. Namun, satu hal yang dicatat Anisa, ketegangan ini tidak serta-merta diselesaikan secara pragmatis, tetapi melalui musyawarah para tetua adat agar setiap langkah tetap pada jalan nilai yang luhur. Masyarakat Baduy secara kolektif kembali menyoal ulang apa itu “sejahtera” dengan merundingkan perubahan tanpa sepenuhnya melepaskan pijakan adatnya. Mereka dengan kapasitas dan kesadaran penuh menentukan alternatif nilai yang mereka rawat.
Pada akhirnya, masyarakat Baduy menerjemahkan kesejahteraan menjadi keberanian untuk merasa cukup dan kemampuan untuk menjaga relasi yang etis dengan seluruh penghuni semesta. Jika kita terus memaksakan indikator kesejahteraan yang seragam tanpa mempertimbangkan jejaring relasional yang hidup dalam masyarakat, kita tidak hanya menghancurkan alam, tetapi tercerabut dan putus darinya.
______________________
Arfi Hidayat adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Arfi lainnya di sini.
Foto tajuk artikel ini oleh @aaJago767703 (2023)