• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Event report
  • Aku Terhubung, maka Aku Sejahtera: Relasionalitas Praktik Ngahuma Baduy

Aku Terhubung, maka Aku Sejahtera: Relasionalitas Praktik Ngahuma Baduy

  • Event report, Laporan Wednesday Forum, News
  • 5 May 2026, 14.55
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Di era industri mekanistik-kapitalistik saat ini, cara kita mengukur kesejahteraan (wellbeing) sering kali terjebak dalam  angka-angka statistik seperti GDP, tingkat konsumsi, atau pendapatan per kapita. Namun, ukuran-ukuran ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan keberlangsungan hidup atau sekadar optimalisasi sistem ekonomi kapitalis? 

Upaya memproblematisasi konsep kesejahteraan ini dibahas oleh Anisa Eka Putri Kusmayana dalam Wednesday Forum (4/3). Dalam presentasinya “The Entanglement of Wellbeing and Land in Baduy Indigenous People”, lulusan CRCS UGM ini menawarkan perspektif alternatif dari masyarakat adat Baduy di Banten yang melihat kesejahteraan bukan sebagai akumulasi materi, melainkan sebagai sebuah “keterhubungan” (entanglement) antara manusia, tanah, dan dimensi spiritual.

Tanah yang Bernapas

Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan sekadar aktivitas menanam padi dengan motif mengejar profit, melainkan praktik spiritual yang menjaga harmoni kosmos. Ada dua hal menarik yang menunjukan bagaimana keterhubungan terjalin di Baduy. Pertama, sistem ngahuma atau bertani ladang di Baduy sangat kontras dengan pertanian modern. Jika petani umumnya mengejar panen tiga hingga empat kali setahun, masyarakat Baduy hanya panen sekali dalam setahun. Mereka memberikan waktu bagi tanah untuk “beristirahat” agar kesuburannya pulih secara alami. Bagi masyarakat Baduy, tanah bukanlah komponen produksi dalam ekonomi.Tanah memiliki subjektivitas moral dan agensi selayaknya manusia sehingga manusia perlu hidup selaras dengannya alih-alih mengeksploitasinya. 

Kedua, ketaatan pada pikukuh (aturan adat) menjadi jangkar moral. Salah satu pikukuh tersebut ialah “gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak”. Mereka percaya bahwa melanggar aturan ini, seperti dengan menggunakan pestisida kimia atau menjual padi hasil ladang, akan mendatangkan bencana atau invalidasi terhadap nilai adat dan otoritas kepemimpinan adat. Seluruh siklus ngahuma—mulai dari narawas (membuka lahan), ngaseuk (menanam benih), hingga mipit (panen)—adalah rangkaian ritual yang menghormati agensi entitas lain yang berjejaring dan saling bertaut. Benih padi diperlakukan sebagai entitas suci yang terkait dengan sosok kosmologis Nyi Pohaci, sehingga perlakuannya harus penuh hormat. Maka, padi yang dihasilkan tidak untuk dijual, tetapi disimpan di lumbung (leuit) untuk kebutuhan komunal. 

Aku Terhubung, maka Aku Sejahtera

Dalam pandangan dunia yang demikian, kesejahteraan bagi masyarakat Baduy bukanlah hasil dari penguasaan manusia atas alam, melainkan sebuah fenomena relasional ketika manusia dan nonmanusia saling membentuk realitas. Menurut Anisa, indikator kesejahteraan kerap dilucuti oleh pandangan antroposentrisme laten. Manusia dianggap sebagai pusat alam semesta yang berhak mengontrol segalanya. Alam dianggap akan lebih optimal ketika manusia hadir dengan teknologi. Akibatnya, indikator kesejahteraan semacam ini sering tidak relevan bagi masyarakat adat dan justru memicu pengabaian terhadap hak-hak mereka.

Meminjam kacamata agential realism dari Karen Barad, dunia dalam pandangan masyarakat adat dipahami sebagai proses intra-aksi (intra-action), bukan relasi terpisah antara subjek dan objek. Dalam praktik ngahuma, tidak ada batas tegas antara manusia dan tanah. Keduanya saling terlibat. Alhasil, kesejahteraan pun lahir dari jejaring relasional ketika tanah, air, doa, dan nilai adat terjalin. Seperti yang diungkapkan oleh seorang tetua adat, Ambu Kolot Gajeboh: “Sejahtera mah lamun hirup nurut kana adat, sagala jadi cukup.” Kata “cukup” di sini mengacu pada tindakan moral, yaitu bersyukur—bukan melulu ukuran kepemilikan materi. Kesejahteraan muncul saat semua elemen, manusia dan nonmanusia, berinteraksi secara harmonis dalam sebuah “fenomena” kolektif. 

Keterhubungan yang Diujii

Mempertahankan tradisi Ngahuma dan cara pandang relasional adalah bentuk determinasi diri. Masyarakat Baduy menantang kita untuk melihat kembali definisi “kemajuan” yang selama ini didominasi oleh narasi ekstraktif terhadap alam. 

Kendati demikian, Baduy hari ini juga berhadapan dengan permasalahan tanah, sebagaimana ditanyakan oleh salah satu penanggap,“Bagaimana jika tanah yang dianggap sebagai sumber kekuatan kesejahteraan itu justru menjadi titik kerentanan (vulnerability) saat jumlah penduduk terus bertambah sementara luas tanah adat tetap terbatas?” Anisa menyadari hal tersebut menjadi titik singgung yang dilematis. Dalam situasi itu, sebagian warga Baduy Luar mulai mengakses lahan di luar wilayah adat, yang secara tidak langsung menegosiasikan batas antara prinsip pikukuh dan kebutuhan hidup. Namun, satu hal yang dicatat Anisa, ketegangan ini tidak serta-merta diselesaikan secara pragmatis, tetapi melalui musyawarah para tetua adat agar setiap langkah tetap pada jalan nilai yang luhur. Masyarakat Baduy secara kolektif kembali menyoal ulang apa itu “sejahtera” dengan merundingkan perubahan tanpa sepenuhnya melepaskan pijakan adatnya. Mereka dengan kapasitas dan kesadaran penuh menentukan alternatif nilai yang mereka rawat. 

Pada akhirnya, masyarakat Baduy menerjemahkan kesejahteraan menjadi keberanian untuk merasa cukup dan kemampuan untuk menjaga relasi yang etis dengan seluruh penghuni semesta. Jika kita terus memaksakan indikator kesejahteraan yang seragam tanpa mempertimbangkan jejaring relasional yang hidup dalam masyarakat, kita tidak hanya menghancurkan alam, tetapi tercerabut dan putus darinya. 

______________________

Arfi Hidayat adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Arfi lainnya di sini.

Foto tajuk artikel ini oleh @aaJago767703 (2023)

Tags: Agama dan Ekologi Arfi Hidayat Baduy masyarakat adat Ngahuma

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY