Di era industri mekanistik-kapitalistik saat ini, cara kita mengukur kesejahteraan sering kali terjebak dalam angka-angka statistik seperti GDP, tingkat konsumsi, atau pendapatan per kapita. Namun, ukuran-ukuran ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan keberlangsungan hidup atau sekadar optimalisasi sistem ekonomi kapitalis?
Arsip:
Laporan Wednesday Forum
Bagaimana orang-orang beragama dapat berkontribusi secara finansial terhadap keberlanjutan ekologis?
Dalam tradisi keilmuan yang sangat otoritatif, siapakah yang layak disebut sebagai filsuf? Lantas, apakah Indonesia memiliki filsufnya sendiri?
Menjadi bapak rumah tangga, bukan berarti berhenti menjadi imam dalam keluarga.
Masihkah Islam dan demokrasi kompatibel di Indonesia ketika ormas muslim justru melemah di hadapan pemerintah?
Jauh sebelum “religion” diperkenalkan kolonialis Eropa, masyarakat Nusantara telah memiliki pengertian “agama” dengan mengikuti konsep dīn.