• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Riset
  • Agama: Solusi atau Sumber Masalah Kesehatan Mental?

Agama: Solusi atau Sumber Masalah Kesehatan Mental?

  • Riset
  • 14 December 2024, 15.33
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Agama: Solusi atau Sumber Masalah Kesehatan Mental?

Anisa Eka Putri Kusmayani – 13 Desember 2024

Emang ya agama bisa jadi salah satu alasan orang jadi sehat mental, tapi ga jadi satu-satunya faktor orang itu yang sehat mental (Zuri, konselor Into the Light)

Banyak riset menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas, semakin rendah  tingkat  depresi (Heo dan Koeske, 2009; Koenig, McCullough, dan Larson, 2001; George, 2002). Hal ini sejalan dengan temuan ilmuwan lain (Campante dan Yanagizawa-Drott, 2013; Elliot dan Hayward, 2009) yang menunjukkan kaitan antara religiusitas dan kompetensi dalam  mekanisme koping ketika dalam situasi sulit, termasuk saat menderita penyakit yang tidak dapat ada obatnya (terminal illness). Namun, agama tak selalu menjadi pendorong sehat mental, malah kerap menjadi penyebab gejala masalah mental (Pargament dan Lomax, 2013).

Beranjak dari dilema tersebut, tim riset CRCS UGM mempelajari perspektif para tokoh agama dan praktisi kesehatan mental (mental health service providers) tentang penyebab dan penanganan masalah kesehatan mental di Indonesia. Hasil riset tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengeksplorasi pola-pola integrasi pendekatan keagamaan atau spiritualitas dan pendekatan praktisi kesehatan dalam penanganan masalah kesehatan mental.

Mencari Posisi Antara Agama dan Kesehatan Mental

Riset bertajuk “Agama dan Kesehatan Mental: Perspektif Tokoh Agama dan Praktisi” ini melakukan pengumpulan data melalui diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion) pada September 2024 yang melibatkan pemimpin agama dan penyedia layanan kesehatan mental. Untuk melengkapi data, tim juga melakukan wawancara kepada beberapa praktisi kesehatan mental dan tokoh agama. Gangguan mental yang menjadi limitasi dalam penelitian ini ialah gangguan kesehatan mental signifikan dengan gejala seperti depresi, kecemasan, dan pikiran untuk bunuh diri. Tokoh agama yang hadir mewakili perspektif Islam, Kristen Protestan, dan Buddha. Sementara itu, praktisi kesehatan mental yang hadir berasal dari Fakultas Psikologi UGM, Into The Light, Rifka Annisa, dan Nayacita. 

Masalah kesehatan mental rupanya belum menjadi perhatian khusus bagi tokoh agama yang hadir, hingga ada kejadian luar biasa yang terjadi di lembaga mereka seperti kasus bunuh diri. Kejadian tersebut membuat beberapa pemuka agama mulai menyadari urgensi masalah ini. Beberapa rumah ibadah dan sekolah berbasis agama pun mulai mengintegrasikan  pendidikan agama dan kesehatan mental melalui program-programnya. Seperti disampaikan oleh Pendeta Noel dari Gereja Kristen Jawi (GKJ) Gondokusuman, “Jemaat yang mengalami permasalahan kondisi mental akan didampingi oleh pendeta.”

Hal serupa juga dilakukan oleh Pendeta Nani dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). UKDW mengintegrasikan agama dan kesehatan mental dalam counseling day untuk mahasiswa mereka. Meskipun agama turut andil, agama masih ditempatkan kemudian setelah berkonsultasi dengan psikolog ataupun dokter untuk melihat faktor psikologis dan biologis.

Sementara itu, Galuh, perwakilan umat Buddha, mengaitkan kondisi kesehatan mental seseorang dengan ajaran keagamaan. “Keinginan (tanha) untuk tidak menjadi sukha menjadi penyebab orang bunuh diri. Dalam kosmologi buddhis, orang-orang demikian diyakini akan lahir di alam tanpa rupa atau fisik, sebagai petta atau mahluk gentayangan sesuai keinginannya.” 

Ketika berbicara tentang agama dan kesehatan mental, sebagian besar masyarakat menganggap agama dianggap sebagai obat mujarab bagi kesehatan mental. “Kayak misalnya kita ngalamin depresi, orang tua ngarahinnya ya itu ibadah. Nah, dan itu tidak terjadi di satu dua keluarga, tapi itu banyak terjadi di masyarakat. Ga di agamaku aja, Islam.” jelas Zuri, konselor Into The Light. Nyatanya, para pemuka agama sendiri banyak yang membutuhkan psikolog dan psikiater untuk masalah mereka. “Banyak kok orang yang dia itu ustadz tapi dia butuh psikolog, butuh psikiater, bahkan psikolog yang butuh psikiater pun ada,” tukasnya. Hal serupa juga ditemukan dari wawancara dengan berbagai praktisi kesehatan mental, seperti dengan Sekolah Rekonsiliasi dan Naya Cita

Agama dan Kesehatan Mental yang Berjarak

Di sisi lain agama rupanya seringkali dikesampingkan oleh para praktisi kesehatan ketika menangani masalah kesehatan mental. Salah satu alasannya, agamalah yang menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya masalah kesehatan mental. Saeroni, konselor Rifka Annisa, menyebutkan bahwa tekanan doktrin agama justru dapat membuat seseorang menjadi depresi. “Pengalaman traumatis dalam beragama menimbulkan (masalah) kesehatan mental,” jelasnya.  

Para praktisi kesehatan mental memilih untuk mengedepankan pendekatan saintifik daripada keagamaan. “Jadi kalau kita jelaskan ke anak ya kita jelaskan juga secara saintifik, sebenernya orang tua itu gimana, latar belakang yang mempengaruhinya gimana, cara kerja otak anak gimana. Gimana mereka keputusannya,” terang Maya dari Nayacita. 

Serupa, Sekolah Rekonsiliasi juga tidak memasukkan unsur agama dalam konseling mereka  atau pun support study. Selain dikarenakan banyak yang mengalami religious trauma, perbedaan agama sang fasilitator dan peserta juga menjadi alasan untuk tidak melibatkan agama. Pelibatan agama dilakukan dalam bentuk spiritualitas yang umum dan mengaitkan dengan kehendak diri juga kehendak Tuhan. Spiritualitas pun tidak dapat seketika dibicarakan, perlu tahapan panjang hingga siap untuk masuk pada ranah tersebut.

Hasil sementara riset ini menunjukkan bahwa ada jarak antara paradigma keagamaan dan praktik kesehatan mental. Bagi praktisi kesehatan mental, agama seringkali dipisahkan dalam konseling karena dianggap sebagai salah satu faktor pendorong masalah mental. Di sisi lain, para tokoh agama kerap membingkai isu kesehatan mental ini melalui terma atau pun dogma agama. 

______________________

Anisa Eka Putri Kusmayani adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Ninis lainnya di sini.

Foto tajuk di artikel: Ehimetalor Akhere Unuabona/unsplash

 

Tags: agama dan kesehatan mental Anisa Eka Putri Kusmayani kesehatan mental mental health

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY