Bayangkan seseorang yang rajin beribadah. Ia tidak pernah melewatkan doa, berusaha menghindari dosa sekecil apa pun, dan ingin selalu menjadi pribadi yang taat. Dari luar, hidupnya tampak ideal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada kegelisahan yang terus bekerja diam-diam: takut salah, takut ibadahnya tidak diterima, takut Tuhan murka kepadanya. Lantas, Apakah kehidupan religius selalu menghadirkan ketenangan?
agama dan kesehatan mental
Di samping mengandung unsur-unsur protektif yang dapat menurunkan gejala depresi, agama juga dekat dengan risiko-risiko tertentu yang berpotensi memperburuk kesehatan mental
Agama: Solusi atau Sumber Masalah Kesehatan Mental?
Anisa Eka Putri Kusmayani – 13 Desember 2024
Emang ya agama bisa jadi salah satu alasan orang jadi sehat mental, tapi ga jadi satu-satunya faktor orang itu yang sehat mental (Zuri, konselor Into the Light)
Banyak riset menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas, semakin rendah tingkat depresi (Heo dan Koeske, 2009; Koenig, McCullough, dan Larson, 2001; George, 2002). Hal ini sejalan dengan temuan ilmuwan lain (Campante dan Yanagizawa-Drott, 2013; Elliot dan Hayward, 2009) yang menunjukkan kaitan antara religiusitas dan kompetensi dalam mekanisme koping ketika dalam situasi sulit, termasuk saat menderita penyakit yang tidak dapat ada obatnya (terminal illness). Namun, agama tak selalu menjadi pendorong sehat mental, malah kerap menjadi penyebab gejala masalah mental (Pargament dan Lomax, 2013).