• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Analisis Wacana Kritis: Ilmu Sosial Kuantum?

Analisis Wacana Kritis: Ilmu Sosial Kuantum?

  • Perspective
  • 21 August 2023, 14.17
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Analisis Wacana Kritis: Ilmu Sosial Kuantum?

Rezza Prasetyo Setiawan – 21 Agustus 2023

“Saya itu tidak ada—yang ada hanya wacana.”

Ujaran itu diulang hampir setiap minggu oleh Prof. Frans Wijsen, dosen pengampu mata kuliah Discursive Study of Religion (Studi Diskursif tentang Agama). Namun, yang justru kerap terlintas dalam pikiran saya malah Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, salah satu prinsip yang populer dan berpengaruh dalam diskursus fisika kuantum. 

Kesannya memang tidak nyambung. Akan tetapi, tidak sedikit akademisi yang sudah membangun jembatan pengetahuan antara fisika kuantum dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Karen Barad dalam bukunya, Meeting the Universe Halfway: Quantum Physics and the Entanglement of Matter and Meaning (2007), menggunakan prinsip-prinsip fisika kuantum seperti difraksi dan keterikatan kuantum (quantum entanglement) untuk melawan esensialisme dalam pola pikir modern. Dalam artikel lain, Ben Klemens (2020) menyoroti keterbatasan ilmu sosial dalam mengukur aspek-aspek yang harus diperhatikan sehingga model-model penelitian tidak akan pernah sepenuhnya tepat. Dari sini, senyampang prinsip ketidakpastian dalam fisika kuantum menemukan kesejajarannya dengan ranah keilmuan sosial.

Dalam semangat yang sama, tulisan ini akan menyandingkan teori fisika kuantum dengan salah satu pendekatan interdisipliner dalam ilmu sosial, yaitu analisis wacana kritis. Metode analisis wacana kritis ini ternyata juga memperlihatkan ketertautan keilmuan seperti yang digali oleh Karen Barad, tetapi dengan pendekatan yang lebih konkret. Untuk itu, tulisan ini mula-mula akan menjelaskan sekelumit tentang fisika kuantum dan prinsip ketidakpastian Heisenberg, lalu bergeser pada penjelasan singkat tentang metode analisis wacana kritis Fairclough. Pemikiran Barad akan menjadi simpul yang merajut keduanya.

Dari Heisenberg …

Fisika kuantum jauh berbeda dengan fisika klasik, ilmu fisika yang biasa kita pelajari di bangku SMP dan SMA. Fisika klasik mengamati objek-objek yang perilakunya mematuhi hukum-hukum yang dapat dipahami melalui pengamatan biasa. Hukum-hukum dalam fisika klasik cenderung teratur dan pasti. Misalnya, tekanan udara makin ke atas makin berkurang atau seperti salah satu hukum Newton, setiap ada gaya aksi selalu ada gaya reaksi yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan. Secara umum, fisika klasik membagi benda-benda yang ada di alam semesta dalam dua kategori terpisah, yaitu partikel dan gelombang elektromagnetik. 

Sebaliknya, ilmu fisika kuantum mengamati hal-hal dalam ukuran sangat kecil (skala atom dan subatom) yang susah diamati. Dalam dunia fisika kuantum, hukum-hukum fisika klasik tidak lagi berlaku. Salah satunya, seperti temuan Max Planck, partikel dalam fisika kuantum juga berperilaku sekaligus sebagai gelombang (Phillips, 2003: 13). Partikel-partikel ini bisa muncul dari ketiadaan dan menghilang begitu saja (Lamb dan Retherford, 1947). Ia bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam sekejap, bahkan berada dalam waktu yang bergerak mundur (Feynman, 1949). Keteraturan dan kepastian dalam jagat fisika klasik dibantah dan berubah menjadi sebuah papan dadu kosmik.

Dalam fisika kuantum, semua objek material dibentuk dari paket-paket energi yang disebut ‘kuanta’ atau quanta (Phillips, 2003: 1). Seperti yang telah disebut sebelumnya oleh Planck, paket-paket energi ini berbentuk sebagai gelombang-gelombang energi yang berlalu-lalang, berinteraksi, dan berinterferensi pada berbagai medan kuantum di seluruh jagat raya (Maggiore, 2005). Hasil interferensi inilah yang kemudian menyusun seluruh partikel dan gaya (force) di alam semesta. Karena pembentuk dasar alam semesta adalah gelombang-gelombang energi, maka semuanya selalu dinamis dan bergerak. Di sinilah Heisenberg menyadari bahwa momentum sebuah partikel tidak dapat secara pasti diketahui bersamaan dengan posisi dari partikel itu (Walker, dkk., 2014). Untuk mengetahui posisi yang pasti dari sebuah partikel, setiap paket gelombang energi harus diketahui interaksinya dengan satu sama lain. Padahal, setiap gelombang memiliki momentumnya masing-masing. Pada akhirnya, Heisenberg menyimpulkan bahwa semakin jelas momentum sebuah partikel, semakin posisi partikel itu tidak dapat diketahui secara jelas  karena setiap partikel adalah gabungan dari yang berbagai paket energi dengan momentum yang berbeda-beda. Inilah yang disebut dengan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Penjelasan ini tentu saja tidak akan memadai untuk merangkum seluruh kerumitan fisika kuantum. Akan tetapi, secuil konsep ini cukup untuk mengantar kita kepada pemikiran Fairclough dan metode analisis wacana kritisnya.

… Hingga Fairclough

Laiknya prinsip fisika kuantum, Norman Fairclough berpendapat bahwa pemikiran setiap individu terbentuk dari gabungan dari berbagai proses produksi dan reproduksi wacana yang ia saksikan atau alami di masa lalu (Fairclough, 1992). Dengan kata lain, seperti gelombang energi, ia terus bergerak dan dinamis. Pada titik ini perlu disadari juga bahwa manusia terpapar tidak hanya oleh satu wacana, tetapi oleh banyak wacana yang jumlahnya tidak terhitung sepanjang hidupnya (Fairclough, 1992, Bab 4)—dari wacana besar dan umum seperti keagamaan, ekonomi, dan politik, hingga yang lebih sempit dan khusus seperti denominasi agama, usaha ekonomi mikro, dan pemilu. Kesemuanya memengaruhi wacana yang kita produksi sebagai individu. Fairclough menyebut ketersalingkaitan tersebut sebagai intertekstualitas (intertextuality) dan keinterwacanaan (interdiscursivity). Lebih dalam lagi, Fairclough menyadari adanya kejamakan suara (polyphony) dalam sebuah teks. Ini artinya, ada banyak konteks yang dapat melatari sebuah teks. Konsep-konsep ketergabungan inilah yang bersesuaian dengan fisika kuantum.

Menanggapi keragaman ini, Barad mengistilahkannya sebagai sebuah difraksi (2007). Setiap hubungan yang berbeda akan menghasilkan sebuah “warna” yang berbeda pula. Makna tidak dapat dipahami hanya melalui satu jalan sebagaimana pikiran-pikiran modern yang berusaha menyeragamkan pemaknaan melalui pemahaman yang esensialis—yang “pasti” dan hanya satu karakteristik tentang segala sesuatu. Sebagaimana difraksi menyadarkan bahwa cahaya matahari tidak hanya berwarna putih tetapi terdiri dari berbagai warna, demikian juga analisis wacana kritis menyadarkan kita akan keragaman yang dihasilkan oleh keinterwacanaan.

Dalam bingkai keinterwacanaan inilah ungkapan “saya itu tidak ada” menjadi lebih mudah dipahami. ‘Saya” sebagai individu hanya ada dalam proses produksi wacana yang menyatakan keberadaan saya sebagai seorang individu, sebagai gabungan dari berbagai wacana. Dengan demikian, bagaimana sesuatu menjadi nyata (secara ontologis) sangat ditentukan oleh bagaimana cara sesuatu itu dipahami (secara epistemologis). Alur logika yang sama dapat dikenakan juga pada hal-hal yang lain seperti agama, kebudayaan, kelembagaan negara, dan entitas-entitas apapun yang kita anggap “ada”.

Hal ini disadari juga oleh Barad. Dalam fisika kuantum, sebuah alat atau metode pengukuran akan memengaruhi hasil pengukurannya. Ini artinya alat yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda pula. Misalnya, ketika mengukur panjang sebuah kertas, ukuran kertas tersebut dapat mengembang atau menyusut sesuai dengan penggaris yang digunakan. Meminjam paradigma fisika kuantum ini, Barad mengkritik pemisahan ontologi dan epistemologi dalam filsafat Barat (Barad. 2007). Menurutnya, ontologi dan epistemologi saling terhubung dan tidak terpisahkan. Ia menyebut metodenya sebagai onto-epistemologi.

Sehubungan dengan itu, Fairclough berbeda dengan Michel Foucault yang melihat analisis wacana secara lebih luas dan abstrak. Secara konkret, Fairclough menggagaskan analisis wacana yang berpusat pada teks. Karenanya, metode analisis wacana kritis Foucalt juga dikenal dengan Text Oriented Discourse Analysis (TODA). Melalui TODA, wacana-wacana yang hinggap dan disebarkan oleh setiap individu dapat dianalisis melalui analisis linguistik. Analisis ini dilakukan dalam tiga dimensi: (1) dimensi tekstual yang mendalami unsur-unsur linguistik dalam teks baik dalam hal tata bahasa, pemilihan, dan susunan kata; (2) dimensi wacana yang menelusuri proses pembentukan wacana dari proses produksi, distribusi, hingga konsumsi wacana tersebut; dan (3) dimensi sosial-budaya yang menjadi konteks kata, kalimat, dan wacana yang telah ditelusuri itu bersesuaian (Fairclough, 1992, Bab 3).

Pada praktiknya, metode TODA membuat kita dapat memahami kesalingterhubungan berbagai wacana dalam suatu teks secara mendalam, dari tingkat individual (mikro) hingga kemasyarakatan (meso dan makro). Dengan mengupas lapisan demi lapisan wacana yang membentuknya, penelusuran sebuah kalimat atau bahkan sebuah kata dapat menjadi sangat mendalam. Dalam bingkai ketidakpastian Heisenberg, sebagaimana satu partikel yang merupakan gabungan dari banyak gelombang, karakteristik seorang individu tidak dapat ditentukan secara pasti hanya melalui stereotip yang diberlakukan pada sebuah identitas tertentu. Sifat seseorang tidak dapat dipastikan hanya dari kesukuannya, kepribadian seseorang tidak dapat dipastikan hanya dari keputusan politiknya, perilaku seseorang tidak dapat ditentukan hanya dari status keagamaannya, dan seterusnya. Semakin dekat kita memastikan yang satu, semakin kita tidak bisa memastikan yang lain karena beragamnya keinterwacanaan yang saling berinteraksi dalam seorang individu.

Fisika Kuantum dan Usaha Memahami Manusia

Dalam usaha memahami manusia, sumbangsih Heisenberg dan Fairclough harus ditempatkan dalam sebuah kesejajaran yang saling menjembatani. Laiknya partikel yang merupakan gabungan dari banyak frekuensi gelombang energi, manusia merupakan gabungan dari banyak wacana yang saling berinteraksi. Karen Barad, yang menghubungkan prinsip fisika kuantum dengan kajian ilmu sosial, memadankan keberagaman makna tersebut laiknya sebuah difraksi. Barad juga menekankan, seperti proses pengukuran dalam eksperimen fisika kuantum, cara kita memahami keberadaan sesuatu (epistemologi) akan memengaruhi keberadaan hal itu sendiri itu (ontologi). Seperti keberadaan fisika kuantum yang mengkritisi sekaligus merevolusi paradigma fisika klasik, metode analisis wacana kritis Fairclough menampik pandangan esensialis yang menyatakan bahwa setiap orang dapat dipahami dalam sebuah ketunggalan. Fairclough menunjukkan, sebagaimana partikel dalam fisika kuantum, setiap individu bersifat sekaligus sebagai individu dan masyarakat. Setiap individu dan teks-teks yang dihasilkan merupakan hasil gabungan dan interferensi banyak gelombang keinterwacanaan. Dengan kata lain, gambaran yang ideal dan sempit tentang manusia; gambaran yang kaku tentang iman, agama dan ketuhanan; dan gambaran yang enggan menerima keragaman merupakan paradigma-paradigma usang yang gagap dalam mengukur eksistensi kemanusiaan.

______________________

Rezza Prasetyo Setiawan adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2022. Baca tulisan Rezza lainnya di sini.

Tags: critical discourse analysis fisika kuantum religion and science rezza prasetyo setiawan

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY