• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Pos oleh
  • page. 179
Pos oleh :

Forum Rabu CRCS&ICRS: Christian-Muslim Relations in the Philippines: Perspectives for Inter-religious Dialogue

Berita Wednesday Forum Tuesday, 25 March 2008

Forum Rabu CRCS&ICRS yang akan datang akan membahas “Christian-Muslim Relations in the Philippines: Perspectives for Inter-religious Dialogue”. Diskusi akan dilaksanakan pada hari Rabu, 26 Maret 2008. Sebagai pembicara Jerson Benia Narciso. Jerson Benia Narciso adalah candidat doktor dalam bidang studi agama di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). Beliau memperoleh gelar master of Divinity pada tahun 1995 dari Central Philippine University, Jaro, Iloilo Citi, Philippines, serta master dalam bidang teology dari the South East Asia Graduate School of Theology. Beliau telah terlibat dalam sejumlah tugas advokasi untuk perdamaian dan hak asasi manusia serta isu-isu politik dan etnik yang terjadi dalam kehidupan masyrakat Philipina. Beliau juga merupakan seorang pastor selama kurang lebih 11 tahun.

Pondering Practical Post Colonialism

Berita Wednesday Forum Tuesday, 11 March 2008

If you are interested in the theme ?Pondering Practical Post Colonialism?, please join CRCS&ICRS Wednesday Forum. The discussion will be held on Wednesday, March 12, 2008, at the Graduate School of Gadjah Mada University, third floor, room 306, at 13:00 to 15.00. The key speaker will be Elaine Kay Swartzentruber, Ph.D.

Elaine Kay Swartzentruber is a lecturer at CRCS-UGM. She earned her Ph.D at Emory University, Atlanta. Her dissertation title: ?They were All Together and Had Everything in Common: Subjectivity and community in modern and Postmodern Theologies?. She was assistant professor of Religion, Theology and Culture at Wake Forest University, Winston-Salem, NC. Some of her publications are ?Response? in To Continue the Dialogue; Biblical Interpretation and Homosexuality (Pandora Press US, 2001), Re-Marking the Body of Christ: Toward a Postmodern Mennonite Ecclesiology?, in The Mennonite Quarterly Review, April 1997, etc.

CRCS&ICRS Wednesday Forum: Pondering Practical Post Colonialism

Wednesday Forum News Tuesday, 11 March 2008

If you are interested in the theme

Forum Rabu CRCS dan ICRS: Pondering Practical Post Colonialism

Berita Wednesday Forum Tuesday, 11 March 2008

Jika Anda tertarik dengan thema Pondering Practical Post Colonialism, silahkan bergabung dengan Forum Rabu CRCS&ICRS. Diskusi akan diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Maret 2008, bertempat di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, lantai 3, ruang 306, jam 13:00-15:00. Sebagai pembicara Elaine Kay Swartzentruber, Ph.D.

Elaine Kay Swartzentruber adalah dosen di CRCS-UGM. Beliau memperoleh gelar gelar Ph.D dari Universitas Emory, Atlanta. Disertasi beliau berjudul They were All Together and Had Everything in Common: Subjectivity and community in modern and Postmodern Theologies. Beliau dulunya merupakan asisten professor pada bidang Agama, Theology dan Budaya di Wake Forest University, Winston-Salem, NC. Beberapa publikasi beliau adalah Response in To Continue the Dialogue; Biblical Interpretation and Homosexuality (Pandora Press US, 2001), Re-Marking the Body of Christ: Toward a Postmodern Mennonite Ecclesiology, in The Mennonite Quarterly Review, April 1997, etc.

Fulbright and the Cultural Politics of Interfaith Action

Berita Wednesday Forum Tuesday, 4 March 2008

“Fulbright and the Cultural Politics of Interfaith Action” is the theme, which will be presented at CRCS&ICRS Wednesday Forum. Discussion will be held on Wednesday, March 5, 2008. The key speaker will be Dr. Farsijana Adeney-Risakotta.

Farsijana Adeney-Risakotta is a head of LPPM (Institute for Research and Community Development) at Duta Wacana Christian University (DWCU), Yogyakarta, Indonesia and a general secretary, District of Sleman, Indonesian Women?s Coalition. She is also a core Doctoral Faculty at International Consortium for Religious Studies, Yogyakarta (ICRS-Yogya). She earned her Ph.D in Social Science at Radboud University Nijmegen, Netherlands. She is the editor of a book entitle ?Women and Disaster?.

CRCS&ICRS Wednesday Forum:

Wednesday Forum News Tuesday, 4 March 2008

“Fulbright and the Cultural Politics of Interfaith Action” is the theme, which will be presented at CRCS&ICRS Wednesday Forum. Discussion will be held on Wednesday, March 5, 2008. The key speaker will be Dr. Farsijana Adeney-Risakotta.

Farsijana Adeney-Risakotta is a head of LPPM (Institute for Research and Community Development) at Duta Wacana Christian University (DWCU), Yogyakarta, Indonesia and a general secretary, District of Sleman, Indonesian Women

1…177178179180181…190

Instagram

Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY