Keberlangsungan suatu Program Studi sangat tergantung pada kinerja para staf di dalamnya. CRCS UGM pada tahun 2015 telah menempuh usia 15 tahun. Suatu perjalanan panjang dalam menanggapi isu keragaman di Indonesia. Di tengah perjalanan itu, Program Studi ini ternyata telah mendapat pengakuan tertinggi dari BAN PT dengan akreditasi A. Tentunya, ini adalah sebuah pencapaian berkat usaha dan kerja keras staf pelopor Ilmu Agama di Indonesia ini.
Berikut ini, tim website CRCS sengaja melakukan wawancara dengan salah satu sosok di balik pencapaian prodi ini, Linah Khairiyah Pary atau biasa dipanggil Mbak Lina yang telah menjabat sebagai office manager CRCS sejak tahun 2009. Perjalanan akademisnya cukup mengagumkan karena mampu lulus dari dua program master di dua universitas yang berbeda pada saat yang hampir bersamaan. Saat menempuh pendidikan S2 di CRCS, dia juga mengambil S2 jurusan manajemen pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Seorang kolega di CRCS mengisahkan, “Mbak Lina bahkan harus jalan kaki dari UNY ke UGM lebih dari satu kali setiap hari”. Nampaknya, pengalaman inilah yang menjadikan dia mampu menata semua urusan administrasi dan akreditasi secara memuaskan.
Untuk lebih jauh mengetahui bagaimana pengalaman Mbak Lina di CRCS, simak wawancara Subandri Simbolon berikut ini:
Berkaitan dengan proses akreditasi CRCS, bagaimana suka-duka yang dihadapi Mbak Lina? Apa saja yang dilakukan baik secara personal maupun team?
Akreditasi BAN PT merupakan proses sertifikasi 5 tahunan yang wajib dijalani oleh institusi pendidikan di Indonesia. Karena ini merupakan proses 5 tahunan, tentu kendala yang dihadapi adalah menghadirkan kembali dokumen-dokumen akademik, penelitian, kerjasama, pengabdian masyarakat dll. yang telah dilakukan CRCS selama 5 tahun. Selama proses persiapan akreditasi, saya tidak merasakan kendala yang berarti karena tim akademik, keuangan dan administrasi sangat solid dalam membantu mengisi borang akreditasi BAN PT. Selain itu, CRCS memiliki lumayan banyak pengalaman dalam bidang audit. Perlu diketahui, selain audit Akreditasi oleh BAN PT yang berlangsung 5 tahun sekali, CRCS juga diaudit oleh KJM (Kantor Jaminan Mutu) UGM setiap tahun. Selain itu setiap semester, CRCS juga di audit oleh auditor internal ISO SPs UGM dan setiap 3 tahun juga diaudit oleh auditor eksternal SGS. Sejak tahun 2009, CRCS telah tersertifikasi ISO 9001:2008 oleh SGS. ISO 9001 sendiri merupakan standar international dalam bidang sistem manajemen mutu. Dengan telah tersertifikasi ISO 9001:2008, sangat wajar jika CRCS mendapat akreditasi A dengan skor 373 (dari skor maksimum 400).
Sangat mengesankan, berkat kerja keras Mbak Lina dan tim, CRCS akhirnya memperoleh Akreditasi dengan nilai A. Apa saja strategi yang Mbak Lina lakukan sehingga mampu memperoleh nilai itu?
Sekali lagi ini bukan kerja keras saya saja, proses persiapan akreditasi merupakan kerja tim. Dalam hal ini saya sangat mengapresiasi mas Catur Agus Suprono yang sangat sabar dan telaten menyediakan data-data yang saya butuhkan dalam mengisi dan mengolah borang. Selain itu, saya juga sangat mengapresiasi Mbak Nurlina Sari, staf keuangan CRCS yang sabar dan cekatan membantu mengisi borang terkait pembiayaan. Dukungan Koordinator Akademik dalam mereview kembali borang sangat penting untuk memperbaiki kualitas borang. Selain itu, bantuan teknis dari mas Bibit Suyadi semakin mensolidkan kinerja kami dalam mempersiapkan proses reakreditasi CRCS.
Terkait dengan strategi untuk memperoleh nilai A (sangat baik), ada beberapa hal yang kami lakukan: 1). Membentuk tim dan membuat job deskrispi yang jelas untuk masing-masing staf dalam membantu mengisi borang akreditasi dan menyiapkan dokumen-dokumen pendukung. 2). Membuat deadline dan mentaati deadline terkait tahapan waktu pengisian borang, review borang, penyerahan borang ke KJM UGM dan pengiriman borang ke BAN PT. 3). Mentaati ketentuan KJM UGM untuk menyerahkan borang akreditasi ke KJM UGM untuk direview oleh auditor internal UGM. Proses ini sangat penting, karena auditor internal UGM merupakan auditor BAN PT juga. Auditor internal UGM bertugas menilai borang tersebut serta memberikan masukan-masukan perbaikan. Saya merasa fasilitas yang ditawarkan KJM ini sangat “wah” dan sangat berharga. Fasilitas ini kami manfaatkan dengan baik.
Apa yang Mbak Lina Rasakan selama proses dan setelah mendapat hasil?
Selama proses persiapan akreditasi, saya berusaha untuk fokus dan teliti dalam mengisi borang dan mempersiapkan dokumen-dokumen pendukung. Selama beberapa bulan berhadapan dengan borang tentu timbul rasa bosan dan bete. nah… untuk mengatasi rasa bosan, biasanya sambil mengisi borang saya pasang headset dan mendengarkan berbagai macam musik, mulai dari Adele, John legand, Sam Smith, Kitaro, hingga Jhoni Iskandar dan Rhoma Irama (variasi musik lumayan membantu mood saya dalam mengolah borang:). Bagi saya, akreditasi merupakan sesuatu yang sangat prestisius, CRCS juga merupakan lembaga pendidikan yang prestisius, sebagai staf, saya merasa wajib untuk memberikan kinerja terbaik saya agar CRCS mendapatkan akreditasi A. Dan alhamdulillah, atas kerja keras semua staf, CRCS berhasil memperoleh nilai A.
Kesan dan pesan apa yang ingin Mbak Lina sampaikan kepada seluruh Civitas Akademika CRCS?
Pesan saya untuk teman-teman staf, semoga kita selalu solid, guyup, dan hangat dalam bekerja. Saya merasa beruntung, bekerja di CRCS dan mendapat teman-teman kerja yang saling mendukung. Pesan saya untuk mahasiswa CRCS, fokus dalam studi, jalin persahabatan dengan teman-teman dan cepatlah lulus. CRCS hanyalah salah satu batu loncatan dalam mengeksplor dunia. Makanya… cepatlah lulus.
Wawancara
Dr. John C. Raines (JCR) is a professor of religion at Department of Religion of Temple University, Philadelphia, USA. He is one of the founding fathers of the Center for Religious and Cross-cultural Studies or CRCS in Gadjah Mada University, Yogyakarta. This center become the first postgraduate program on religious studies in a non religiously-affiliated university in Indonesia. In his visit to Yogyakarta, CRCS team (Dr. Zainal Abidin Bagir, Najiyah Martiam, and Jimmy Immanuel), had a chance to interview him about the background of CRCS and its missions, and his views on Religions and Religious Studies.
CRCS: Why did you come to Indonesia at the first time? What did interest you?
JCR : It’s because of a man named Alwi Sihab who did his second Ph.D at Temple University working with Mahmoud Ayoub, my colleague, the professor of Islamic
Studies at the Department of Religion, Temple University. Alwi was impressed with the way our department of religion at Temple studying religion; we do not study religions as doctrines, we study religions descriptively, we do not prefer one religion against another, and we do not try to compare and contrast religions. We try to understand religions, their historical and cultural development, through which they’ve passed, how they’ve changed through time, and so on. All of religions are being treated with equal respect. Alwi Sihab liked the idea. Actually he liked the idea especially after of May 1998 in Jakarta. You remember that when there was a terrible riot, the economy had had gone broken in the fall of 1997. I was in Jakarta actually in July 1997 for conference.
The dollar in July 1997 was traded one dollar for 2.300 rupiahs. Four months later in December one dollar for 14.000 rupiahs, which means disrupted every bank, disrupted every major corporation, a lot. The economy except the informal economy of the country was basically shut down. And in May before Suharto was forced out there were terrible riots in Jakarta, and basically why were poor victims of the financial meltdown, who were Moslems, taking their anger to Chinese who were also the victims of the melt down. It was victims making victims of other victims. The wealthy Chinese got out from the town a long time before they took their money. They were gone to Singapore. It was behind of the all, and it was very tragic. I think Alwi looked that and said that it could be the end of the Indonesian Republic that we must address religious differences, not as a problem but as a potential. Not as something is going to cause people fight each other but rather is going to cause people to be curious about each other and drawn each other and working together.
Two years later I, through the Fulbright, came to Jakarta and he (Alwi) was a Foreign Minister, and had very close associate to President. He had approached me two years before, when he still lived in United States, with the idea, when he got back to Indonesia, of doing something in Indonesia like studying religion the way we study religion at Temple. But when he got back here he found himself in position with a great power, Foreign Minister, close advisor of the President.
When I arrived in January 2000, he and I started working together, putting together in proposal for the Ministry of Higher Education and the Ministry of Religious Affair, both of them to found the master degree. The style of study would be as it was in Temple; it would be not doctrinaire, it would be descriptive, and all religions would be treated equally. So, if you want to study Islam and you are a Christian you will be studying Islam with a Moslem teacher. If you are Moslem and want to study Christianity you will be studying Christianity with Christian teacher. With that kind of understanding, you would study religion not with a scholar of your own faith community but with a scholar of faith community of the religion you want to study. At first Alwi’s idea was to have it (the program) situated at the University of Indonesia, but the Minister of National Education and the Minister of Religious Affair, they were both Muhammadiyah, and of course Alwi was Nahdatul Ulama….. so, negotiation took place, hahaha… Thank goodness and in circumstance, you know, they decided to bring CRCS to UGM, to Yogyakarta, because it is so much cheaper. It is so much easier to get around of this city, and this city has a long history of multiple-ethnic encounters. Differences meet side by side peacefully.
CRCS: Is there any direct role of Gus Dur as the President at that time?
JCR : I don’t know of any direct intervention by Gus Dur. I know that Alwi Sihab was in constant touch with Minister of National Education, Yahya Muhaimin, who was critical. He was very much in favor with this. He was a very fine gentleman. And the Minister of Religious Affair, his name, I do not remember, was equally in favor of it. This is very important, between the three Ministries: Foreign Affair, National Education, and Religious Affair. The budget they put together.
Religious Studies in USA
CRCS: Before we go further, perhaps it is important for us to know the history of religious studies in the US especially at the Temple University, and the way of studying religion at CRCS you wanted to develop.
Sejak awal berdirinya Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Centre for Religious & Cross-cultural Studies (CRCS) di Universitas Gadjah Mada tahun 2000, Prof. Dr. Achmad Mursydi menjabat sebagai Direktur CRCS hingga tahun 2009. Ia merupakan saksi sejarah berdirinya program studi agama disebuah universitas yang tidak berafiliasi pada agama tertentu. Bagaimana latar belakang berdirinya CRCS, model pembelajaran seperti apa yang coba dikembangkan di CRCRS, serta harapan dan kenangan yang dimiliki selama di CRCS, berikut petikan wawancara Angie Wuysang dari CRCS dengan Prof. Dr. Achmad Mursyidi, M.Sc.
Endy M. Bayuni |
Konstelasi kebebasan media pasca Orde Baru menunjukkan berbagai tren yang menarik untuk dicermati. Di antaranya adalah keterbukaan media untuk meliput konflik-konflik SARA dan menguatnya kecenderungan konservatif masyarakat Indonesia. Di sela-sela kunjungannya di CRCS UGM untuk mengisi Workshop “Penulisan Jurnalistik dan Akademik di Media Online” serta Wednesday Forum “Religion and Media”, Endy M. Bayuni (Editor Senior harian berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia, The Jakarta Post) menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan reporter kami, Khoirul Anam. Berikut cuplikan interview yang dilakukan pada Rabu, 22 Februari 2012 ini:
The relationship between religion and science has captured world wide attention from people in any way. Some believe that religion and science need to be put in different boxes because they work in different ways, but others believe that both of them need to be harmonized because they share the same goal. Bellow is the interview with Prof. Nidhal Guessoum, one of the speakers in the “The First International Conference on Knowledge and Values” conducted by CRCS, ICRS, and the 26th UGM anniversary committee. He is a professor of Physics at the American University of Sharjah (United Arab Emirates) who had Ph. D. in Astrophysics from the University of California, San Diego, USA. He is also active in the area of popularization of science and the interface between science and religion.
Situasi keberagamaan antar pemeluk keyakinan yang berbeda di Indonesia masih diwarnai saling kecurigaan, kebencian, bahkan konflik kekerasan. Oleh karena itu, pada segmen Interview kali ini kami akan menyajikan liputan wawancara yang dilakukan oleh Team Website CRCS dengan Dr. Zainal Abidin Bagir (Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM) yang hadir sebagai pembicara pada Diskusi Buku “Dialog Antarumat Beragama: Gagasan dan Praktik di Indonesia”, diselenggarakan oleh Kementerian Agama, 18 April 2011 di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Berikut petikan wawancaranya: