• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Wawancara
  • page. 4
Arsip:

Wawancara

Raewyn Connel: Old Fashion in the New Look

Wawancara Tuesday, 30 November 2010

Since long ago gender relations have been problematized by many scholars in the global north as well as the global south seen from many fields of study such as sociology, anthropology, philosophy, political science, and so on. The concept of masculinities is inside this debate. Along with the debates about gender relations and the form of masculinities, the relations of the global south and the global north have shaped various practices and forms.

 

The forms of relations occur as results of the various relations of both the global south and the global north. To say one of the examples is colonial encounter between the occupier and the occupied as said by Franz Fanon, an Algerian-birth France philosopher: “Every contact between the occupied and the occupier is falsehood”. This falsehood emerged in the form of articulating the concept of masculinities. Beyond that, the theorists that engage with the issues are merely dominated by the theorists from the global north using their own resources even in analyzing those issues in the global south. This fact creates the epistemic imbalance toward the studies aimed at concerning the issues of gender relations in the global south.

Michael Feener: Islam And Its History In Indonesia

Wawancara Saturday, 30 October 2010

Talking about Islam in Indonesia, we have to put this huge discourse into some boxes of specific issues that we try to figure out deeply. As we know, Islam has been seen as a very important subject of study for the past decade. Many people started re-examining and questioning again about what we actually mean by Islam. Are there any critical shifts in the history of Islam itself? What kind of perspectives or approaches should we use to understand it? Here, we discuss about some general issues that often asked by scholars in understanding Islam especially in Indonesia.

Priyambudi Sulistiyanto: Pilkada, Kontestasi Demokrasi dengan Beragam Identitas

Wawancara Tuesday, 18 May 2010

Bagaimana masa depan demokrasi Indonesia, khususnya dalam pelaksaan Pilkada 2010? Bagaimana peran partai politik Islam dalam Pilkada dan berbagai kendala dalam demokrasi di Indonesia yang baru berjalan hampir satu dekade? Pewawancara CRCS, Hatib Abdul Kadir, menemui Priyambudi Sulistiyanto, salah seorang dosen di Flinders Asia Center, Flinders University, Australia. Kedatangan Priyambudi kali ini selain dalam masa liburan juga untuk mengisi bedah buku Deepening Democracy in Indonesia? Direct Elections for Local Leaders (Pilkada) (2009), dimana ia menjadi editor bersama Maribeth Erb.

Melanie Budianta: Sustainabilitas Gender dan Multikulturalisme di Indonesia

Wawancara Tuesday, 18 May 2010

Berikut ini adalah wawancara Team Website CRCS dengan Melanie Budianta

 


CRCS: Sejauh mana kekuatan narasi itu mampu memberikan kekuatan suara kepada orang-orang yang terdiskriminasi khususnya kaum perempuan di Indonesia?

 

Melani: Jadi sesungguhnya narasi mereka itu ada di sekitar kita, tapi belum tersuarakan. Dia bisa dipendam saja. Ada ibu-ibu yang menyimpan dalam buku harian, atau dalam hati saja mengenai pengalaman mereka sehari-hari. Tapi kaum minoritas mempunyai kemampuan lebih dalam menyensor diri mereka sendiri. Padahal narasi itu berisi pengetahuan yang mungkin justru bisa mengisi narasi-narasi besar yang ada dari negara. Jadi penting untuk menemukan narasi dan menyuarakannya. Jika orang tersebut tidak punya posisi untuk menyuarakan, maka penting untuk menemukan orang lain untuk membantu suara mereka terdengar.

Tomas Lindgren:Narasi Orang-Orang yang Terlibat Konflik (Agama) di Ambon

Wawancara Wednesday, 25 November 2009

Saya pada akhirnya mewawancarai Tomas Lindgren, setelah ia melakukan studi lapangan untuk kedua kalinya di Ambon (2005 and 2009), di sebuah kafe di Yogyakarta. Pak Tomas mewawancarai orang-orang yang terlibat langsung dalam konflik dan beberapa akademisi lokal dalam melihat konflik di Ambon yang terjadi selama sekitar empat tahun (1999-2004). Ada banyak penemuan dan analisa penting yang disampaikan dalam wawancara ini

 



CRCS: Kali ini anda melakukan penelitian tentang apa?

 

Tomas: Saya tengah menulis sebuah buku tentang agama dan konflik, dan beberapa bagian di dalamnya berbicara tentang konflik di Maluku. Penelitian ini berfokus pada narasi masyarakat terhadap konflik agama, yang berdasar pada narasi tempat dimana mereka tinggal. Saya tengah mencoba mengilustrasikan konflik di Maluku tersebut

Politik Identitas Mayoritas-Minoritas Di India

Wawancara Monday, 26 October 2009

Politik Identitas Mayoritas-Minoritas Di India Wawancara dengan Ram Kakarala

Ram adalah sarjana India yang berasal dari bagian selatan India. Dia tinggal di sebuah kota yang bernama Banghalore, dan bagian dari perjalanan CSCS (Pusat Studi Budaya dan Masyarakat). Dalam wawancara ini, Ram menguraikan bagaimana hubungan mayoritas Hindu dan minoritas Islam maupun Kristen menjadi permasalahan penting dalam hubungan antar agama di India sejak tahun 1980an. Selain permasalahan radikalisme umat Hindu, India juga menghadapi permasalahan perbatasan dengan Pakistan dan munculnya beberapa gerakan separatisme, karena itu Ram menegaskan bahwa permasalahan India sesungguhnya mirip dengan apa yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia.

12345

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY